
Tiga bulan berlalu. Devan telah menyelesaikan tugas akhirnya dan tiga hari lagi ia akan wisuda.
Sore ini Devan pergi ke bandara diantar oleh Ronald untuk menjemput ayah dan bundanya. Ya, mereka mengunjungi putranya untuk merayakan keberhasilan putranya atas studi dan keberhasilan perusahaan yang dipimpin putranya dalam memenangkan tender besar dengan mengadakan pesta di London sekaligus untuk menghadiri acara wisuda putranya.
Pak Satria dan istrinya hanya datang berdua. Sebenarnya Devan juga mengundang ayah dan ibunya. Namun, mereka menolak halus permintaan Devan karena waktu wisudanya bertepatan dengan seratus hari meninggalnya Ditya. Ada acara pengajian yang akan dilaksanakan di rumah duka.
Devan melepas rindu dengan kedua orang tuanya dengan memeluk mereka. Mereka kemudian memutuskan untuk pulang ke apartemen Devan. Mereka bisa saja menginap di hotel mewah di London. Hanya saja Devan menolak dan meminta kedua orangtuanya untuk tinggal bersamanya.
"bunda" panggil Devan yang melihat ayah dan bundanya duduk di sofa apartemen Devan
"iya" jawab bunda menoleh
Devan ikut duduk di sofa depan bundanya, "gimana keadaan Vania?"
"ceh.. kamu ini.. ayah dan bunda baru juga sampai, bukannya tanya keadaan kami malah yang diingat Vania saja" sahut pak Satria meledek putranya
"ih.. ayah kaya nggak pernah muda. Dulu juga kan ayah seperti itu, malah lebih parah tiap hari telponin mama buat nanya keadaanku" kata bu Dewi menepuk punggung tangan suaminya
"mana ada, bunda dulu yang ngejar-ngejar ayah"
"iiihhhh....ngarang.. ayah dulu yang tiap hari datangi rumah bunda, padahal bunda juga udah punya pacar"
"bunda kali yang lupa"
"lho, kok jadi bunda sih"
Sepasang suami istri itu heboh sendiri dengan masa lalu masing-masing. Mereka berdebat melakukan pembelaan pada diri sendiri tanpa memperdulikan Devan yang sedari tadi hanya diam dan bergantian memandang mereka.
"kenapa jadi kalian yang heboh ya" kata Devan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Spontan membuat sepasang orangtua itu malu dan saling menyalahkan.
"ayah sih, pakai mulai" kata bu Dewi cemberut
"kok ayah lagi, kan tadi bunda"
"enggak, ayah yang mulai
"udah...udah..." sela Devan sambil berdiri dari duduknya
"kalian malah berantem...pusing aku" keluh Devan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri membuat ayah dan ibunya tertawa bersamaan.
__ADS_1
"kenapa kalian malah tertawa" tanya Devan bingung
"yah, remaja kalau lagi kasmaran itu lucu ya...hihihi" bu Karina berbisik ke suaminya. Namun suaranya masih terdengar jelas di telinga Devan
"cinta, bunda....cinta.." jawab pak Satria terkekeh
"ah...terserah kalian saja lah, bukannya dapat jawaban malah diketawain" kata Devan sambil berlalu meninggalkan kedua orangtuanya menuju kamar.
Baru juga mau menaiki tangga, tiba-tiba Devan mendengar bundanya sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Devan menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang tidak asing dari sambungan panggilan itu.
"hallo sayang, lagi apa?" tanya bu Dewi menatap layar ponselnya karena sednag melakukan video call.
"ini lagi nemenin mama bikin kue tante"
"kamu sehat?"
"sehat tante, tante lagi apa?"
"tante lagi mengunjungi putra tante sayang, di luar negeri.. karena lusa dia akan wisuda. kamu mau oleh-oleh apa dari sini?"
"selamat atas kelulusan putranya ya tante...dan terimakasih, nggak usah repot-repot tante"
"ah...nggak apa-apa, tante yang pengen beliin"
"oke kalau begitu"
Mendengar kata Vania membuat Devan berlari mendekati bundanya. Sayangnya bu Dewi menyadari itu dan cepat-cepat mematikan panggilannya.
"bunda..." rengek Devan manja
"apa" jawab bunda pura-pura acuh
"kenapa nggak bilang kalau telepon Vania"
"ngapain bilang sama kamu"
"ya kan....." belum sempat Devan melanjutkan kata-katanya, suara kekehan dari ayahnya terdengar begitu keras.
"buahahahaha....lucu sekali kamu" kata pak Satria terkekeh sambil memegang perutnya. Bahkan bu Dewi juga ikut terkekeh melihat tingkah manja putranya saat mendengar nama Vania.
__ADS_1
"bunda sengaja ngerjain aku ya?" celetuk Devan memonyongkan bibirnya.
Sepasang suami istri itu tak juga berhenti tertawa. Bahkan tawa mereka terdengar semakin nyaring di telinga Devan. Mereka tak menghiraukan pertanyaan putranya.
Devan mendengus kesal karena dikerjain oleh ayah dan bundanya. Kemudian ia kembali berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kesal.
Malam harinya bu Dewi menghampiri putranya untuk mengajak makan malam.
"sayang, ayo makan malam dulu.." kata bu Dewi sambil mengetuk pintu kamar Devan
"iya bunda, sebentar lagi Devan turun" teriak Devan dari dalam kamar.
Bu Dewo meninggalkan kamar putranya menuju meja makan. Di sana suaminya sudah menunggu untuk menyantap makan malam.
Tak lama kemudian Devan turun menghampiri ayah dan ibunya. Ia ikut duduk di salah satu kursi meja makan.
"bunda yang masak semua ini?" tanya Devan setelah melihat banyak masakan rumahan terhidang di meja
"iya lah siapa lagi" jawab bunda sambil mengambil piring suaminya
"kenapa banyak sekali, kita hanya bertiga kan?"
"siapa bilang? sebentar lagi juga Ronald datang sama tunangannya"
Ya, Ronald sudah mempunyai tunangan yang akan dipersuntingnya satu bulan lagi. Dia adalah gadis Bandung dengan warganegaraan London karena sudah dari kecil hidup dan besar di London bersama paman dan bibinya.
Tak lama kemudian yang dibicarakan pun datang.
Terdengar suara pintu apartemen terbuka. Ronald dan tunangannya yang bernama Lea masuk dan menyapa pemilik apartemen.
"malam tante, malam oom, malam boss" sapa Ronald dengan senyum sempurna.
"malam, ayo kita makan dulu" kata bu Dewi lembut mempersilahkan keponakan dan tunangannya.
Mereka menikmati.makan malam sambil mengobrol ringan
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Mohon maaf kalau banyak typo
__ADS_1
minta dukungan lewat like, vote dan komentar ya...
salam sayang selalu๐๐๐**