Cinta Vania

Cinta Vania
Tak seperti biasa


__ADS_3

Sore harinya Vania kembali ke kamar setelah kepulangan Nadya dan putrinya beberapa menit yang lalu. Ia juga tak lupa memberitahu Bu Siti jika dirinya ingin beristirahat karena merasa tubuhnya seolah tak kuat lagi untuk tidak berbaring.


Di tempat lain, Devan yang baru saja sampai di bandara Soekarno-Hatta segera bersiap menuju mobil yang sudah menjemputnya. Lelaki itu begitu tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang dicintainya mempercepat langkah kakinya. Bahkan ia juga meminta supir yang menjemputnya untuk mempercepat laju kendaraannya.


Rindu yang menggebu membuat Devan memaksa dirinya untuk segera sampai rumah. Beruntungnya jarak lokasi bandara menuju ke rumahnya tidak terlalu jauh sehingga hanya butuh waktu setengah jam untuknya sampai.


Sesampainya di rumah, Devan bergegas menuju kamarnya mencari seseorang yang begitu ia rindukan setelah bertanya pada Bu Siti.


Pelan Devan mengetuk pintu kamar. Ia tidak ingin mengagetkan istrinya dengan menyelonong masuk begitu saja. Namun, tak ada sautan dari dalam. Ia pun memutuskan untuk memutar kenop pintu kamar. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah tempat tidur. Disana ia menemukan istrinya sedang tertidur miring di balik selimut tebal yang membungkus sebagian tubuhnya. Devan melangkah masuk dan menutup kembali pintu kamar. Ia memilih untuk menuju kamar mandi terlebih dahulu membersihkan diri agar kuman yang menempel di badannya setelah dari luar tidak ikut menempel di tubuh istrinya.


Seusai dari kamar mandi, Devan yang masih memakai handuk yang melilit di pinggangnya sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil itu hanya mengernyit heran karena mendapati istrinya masih betah di balik selimut. Sungguh tak biasanya wanita itu tidur begitu nyenyak di sore hari sampai tidak memperdulikan sekitar bahkan saking nyenyaknya hingga tak mendengar suara-suara yang ditimbulkan oleh suaminya yang baru saja pulang. Devan segera menuju almari untuk mencari pakaian gantinya dan memakainya.


"Sayang" panggil Devan lirih setelah mendekati istrinya. Ia duduk berjongkok sebelah kiri tempat tidur agar bisa melihat jelas wajah istrinya.


"Sayang" panggilnya ulang karena wanitanya tak menyahut.


Devan merapikan rambut Vania yang berantakan menutup sebagian wajah ayunya. Ia memperhatikan wajah polos yang begitu ia rindukan. Terdengar nafasnya dan dengkuran halus yang teratur. Begitu tenang dan damai. Diusapnya pipi Vania yang menurutnya semakin bulat saja. Namun Vania hanya bergerak sebentar dan kemudian tidur lagi.


Devan semakin merasa gemas saja akan sikap acuh Vania yang lebih betah dengan tidurnya dan tak memperdulikan dirinya. Devan bergerak naik ke atas tempat tidur dan mendekap Vania yang tidur membelakanginya.


Vania yang merasa tubuhnya seperti ditindih beban berat hanya menggeliat sambil menepis tangan dan kaki Devan.


"eemmmm...."erangnya sambil menjauhkan tubuh Devan.


"Sayang, ini aku, suamimu"protes Devan yang mengira istrinya sedang mengigau.

__ADS_1


"emm, aku sudah tahu" jawab Vania singkat tanpa membuka mata seolah acuh akan kehadiran suaminya.


"Sudah tahu?" tanya Devan terkesiap karena ekspresi istrinya yang biasa saja. "Kau tidak rindu padaku?" tanyanya lagi.


"Aku mengantuk, mas. Biarkan aku tidur sebentar saja" keluh Vania.


"Tapi ini sudah hampir Maghrib, sayang. Ayo bangunlah"


Vania tak mengindahkan ajakan suaminya. Ia masih bergelut dengan selimut. Sedang Devan yang merasa aneh dengan tingkah Vania yang tak biasa hanya memandangi rambut panjang istrinya yang tergerai.


Merasa diabaikan, Devan turun kembali dari tempat tidur dan keluar kamar menemui Bu Siti. Ia pun menanyakan aktifitas istrinya selama ditinggalkannya. Berharap menemukan jawaban atas keanehan pada istrinya.


Setelah sampai di lantai bawah, Devan menuju dapur mencari sosok yang ingin dimintai penjelasan. Bu Siti mengatakan jika selama kepergian tuannya, istri majikannya itu hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Bahkan sering kali harus diingatkan untuk sekedar waktunya makan. Namun, wanita itu hanya menghabiskan dua suapan ke dalam mulutnya.


"Hanya pagi tadi sahabat Nona datang kemari bersama putri kecilnya. Itupun nona hanya makan sangat sedikit" kata Bu Siti.


"Iya, betul. Nona memasak begitu banyak makanan untuk sahabatnya. Tapi beliau hanya makan sedikit saja" jawab Bu Siti.


"Baiklah kalau begitu, Bu. Terimakasih banyak sudah menjaga istri saya"


"Sudah tugas saya, tuan" jawab Bu Siti sedikit membungkukkan badannya.


Devan kembali ke kamarnya. Ia tak menemukan lagi istrinya diatas tempat tidur. Devan yakin istrinya sedang berada di kamar mandi karena mendengar suara gemericik air dari sana.


Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan perhatian Devan yang tengah duduk menunduk menunggu istrinya di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Mas sudah mandi?" tanya Vania begitu santai.


Devan yang mendengar pertanyaan Vania hanya memicingkan mata. Wanita itu seolah tak merasa bersalah sama sekali, pikirnya.


"Kalau belum buruan mandi. Keburu Maghrib lho" perintah Vania karena suaminya tak menjawab. Ia berjalan menuju meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Devan hanya diam dan terus memperhatikan tingkah istrinya. Wanita itu begitu menyebalkan. Cepat-cepat pulang karena rindu tapi malah diabaikan.


"Hufttt, benar-benar menyebalkan. Untung sayang. Coba kalau enggak" batin Devan tanpa mengalihkan tatapannya.


Sampai menjelang tidur, Vania masih juga bersikap biasa saja terhadap Devan. Padahal sebelum-sebelumnya tiap kali Devan baru pulang dari luar kota, Vania selalu saja menempel padanya seolah tak mau lepas. Tapi kali ini, jangankan mendekat, melihat wajah suaminya saja seakan enggan.


Devan yang merasa rindu kehangatan tubuh Vania langsung saja menindih kaki Vania dengan satu kakinya. Sedang tangannya bergerak mendekap tubuh Vania dengan erat.


"Mas, jangan gini. Badanku panas semua ini" tolak Vania sambil menepis tangan dan kaki suaminya.


Devan pun menurut dan sedikit menjauh membuat Vania lebih leluasa dan langsung tidur membelakangi suaminya begitu saja seolah tak punya dosa.


"Yang" panggil Devan memelas.


"Hmm"Jawab Vania hanya berdehem tanpa menoleh.


Lelaki itu nampak jelas tengah mendamba. Namun yang didapat justru istrinya sama sekali tidak peka. Akhirnya Devan hanya mengelus dadanya pasrah. Ia mencoba tetap berfikir positif. Mungkin istrinya sedang lelah dan tidak sehat. Ia pun memutuskan untuk tidur. Dan kali ini adalah pertama kalinya ia tidur seranjang dengan Vania tanpa memeluknya semenjak kembali bersama.


******

__ADS_1


Hingga berhari-hari, kejadian yang sama masih saja terulang. Sikap dan sifat Vania masih sama acuh pada suaminya. Dan hari ini tepat seminggu Devan tersiksa dengan keadaan yang sangat ia benci. Dimana istrinya tak peduli akan kehadirannya dan lebih nyaman dengan dunianya sendiri.


Pagi ini tanpa sepengetahuan Vania, Devan menghubungi Ronald di ruangannya. Ia mengatakan jika hari ini juga akan berangkat ke Surabaya dan meminta asistennya itu untuk menjadwal ulang agenda kerjanya untuk hari ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, Ronald menghubungi orang-orangnya untuk mempersiapkan penerbangan bagi bossnya.


__ADS_2