Cinta Vania

Cinta Vania
Perjodohan


__ADS_3

Pak Firman begitu sedih saat menceritakan tentang kondisi putrinya. Gadis yang dulu dikenal begitu ceria dan murah senyum kini lebih sering murung dan melamun. Ia mungkin bisa mengalihkan kesedihannya saat fokus di jam kuliah. Namun diluar itu, ia akan terus diam dan tak banyak bicara.


"bersabarlah....yakinlah semua akan baik-baik saja dan kembali seperti dulu. Aku juga tak akan memaksa jika kau menolak perjodohan ini. Aku tidak ingin hanya karena perjodohan persahabatan kita hancur" kata pak Satria dengan tenang.


"Putrimu gadis yang baik. Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri. Kalaupun nantinya putra dan putri kita tidak berjodoh, aku ingin mengangkatnya sebagai adik dari Devan" lanjutnya


"bukan aku menolak perjodohan ini... Kami hanya butuh waktu untuk membuat keadaan putri kami kembali normal dulu. Maafkan aku tidak bisa memutuskan. Jika harus memilih tentu aku akan menerima perjodohan ini dengan senang hati. Tapi aku tak bisa egois. Nanti aku akan coba bicarakan ini dengan istriku. Semua ini juga perlu mendapatkan persetujuan keluarga termasuk orang yang telah melahirkannya. Masalah Vania, aku akan bicara pelan-pelan padanya setelah ia sembuh. Jadi maafkan aku jika belum bisa memutuskan saat ini juga "


"aku mengerti itu... tak perlu tergesa-gesa Fir, lagipula mereka masih sama-sama di bangku kuliah. Apalagi putrimu yang masih harus menyelesaikan dua tahun lagi" kata pak Satria menepuk bahu sahabatnya


"setidaknya ada ikatan antar keluarga agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman" imbuhnya


"terimakasih atas pengertianmu" jawab pak Firman lembut menoleh ke sahabatnya.


Pak Satria mengangguk pelan. Ia sangat mengerti keadaan sahabatnya yang tengah kacau.


"baiklah, aku harus kembali ke kantor. Sepulang nanti aku akan mengajak istriku untuk menjenguk putrimu" kata pak Satria memohon pamit


"terimakasih atas kemurahan hatimu, putriku dirawat di rumah sakit Medika dekat rumahku"


Pak Satria menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia merangkul sahabatnya dan kembali ke perusahaannya.


Sore harinya pak Firman kembali dari kantor lebih awal dari biasanya. Ia ingin melihat keadaan putrinya. Ia langsung menuju arah rumah sakit tanpa pulang ke rumah dulu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya pas Firman pada istrinya setelah memasuki ruang perawatan Vania


"jangan keras-keras, dia baru saja tertidur..." kata bu Karina pelan sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya


"sudah lebih baik dari sebelumnya, sudah mau diajak mengobrol, tadi siang juga Nadya dan pacarnya kesini" imbuh bu Karina


"syukurlah kalau begitu,, kalian ikutlah keluar denganku, ada yang ingin ku sampaikan padamu" ajak pak Firman pada istrinya dan Adit

__ADS_1


"tidak ada masalah kan? kenapa wajahmu tampak serius" tanya bu Karina


"tidak... aku hanya butuh pendapat kalian saja"


Bu Karina mengikuti ajakan suaminya untuk mengobrol di luar ruangan diikuti oleh Adit dari belakang


Mereka bertiga memilih duduk di kursi tunggu depan ruangan Vania karena tidak mungkin meninggalkan anak gadis itu jauh-jauh.


"ada apa Pa?" tanya Adit


"begini, tadi pak Satria datang ke kantor, dia bermaksud melamar Vania secara pribadi sebagai menantunya"


"lalu, papa menerima lamaran itu?"tanya Adit dan papanya hanya menggeleng pelan


"aku tidak mungkin mengambil keputusan besar untuk masa depan Vania tanpa persetujuan kalian"


"jika itu mampu mengembalikan kebahagiaan putriku lakukanlah, aku akan mendukungmu" kata bu Karina pelan.


Pak Firman tersenyum lega dengan jawaban istrinya yang sependapat dengannya.


"tapi pa, apa ini tidak akan menyakiti Vania? Kita menjodohkannya dalam keadaan seperti ini sementara Vania tidak mencintainya. Kita tidak mungkin memutuskan ini tanpa pendapat dan jawaban dari yang bersangkutan. Kita juga harus mendengarkan keputusan Vania, bagaimana kalau dia menolak" sahut Adit.


"Vania tidak akan menolak perkataan papa, lagipula hanya ikatan perjodohan, karena pernikahan akan dilaksanakan setelah Vania lulus kuliah" kata papanya tegas.


"papa akan membujuknya setelah ia sembuh" imbuhnya


Tidak seperti biasanya pak Firman begitu kekeuh pada pendiriannya. Biasanya ia akan mengikuti apapun perkataan putra-putrinya selagi itu baik. Tidak seperti sekarang. Ia begitu yakin akan tetap menjodohkan Vania. Ya, ia melakukan ini semua karena ingin melihat putrinya bahagia dan melupakan kekasihnya yang telah tiada dengan hidup bersama orang yang tulus mencintainya.


"terserah kalian saja, semoga dengan ini Vania tidak akan semakin stress" kata Adit sedikit kesal dan berlalu memasuki ruangan Vania.


Adit terkejut saat melihat Vania dengan mata terbuka.

__ADS_1


"sejak kapan kau bangun?" tanya Adit sambil berjalan mendekati pembaringan adiknya. Ia mencoba setenang mungkin agar Vania tidak curiga.


"baru saja kak, kakak darimana?"


"kakak tadi cari angin diluar"


"mama pulang ya?"


"enggak, mama diluar sama papa" kata Adit sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh adiknya.


"jangan terlalu banyak pikiran, kasihan papa sama mama. Kamu harus kembali sehat" lanjutnya mengusap pucuk kepala adiknya.


Vania tersenyum mendengar nasehat kakaknya. Sangat menyejukkan hati mendengar kata-katanya. Meskipun mereka sering bertengkar, tapi Ia tahu bahwa kakaknya begitu menyayanginya.


Diluar ruangan pak Firman tampak emosi dengan perkataan Adit. Bu Karin mencoba menenangkan suaminya dengan membujuknya.


"sudahlah pa, Adit seperti itu karena begitu menyayangi adiknya. Doakan saja Vania mau menerima perjodohan ini dan calon suaminya bisa membahagiakannya" kata bu Karin menenangkan suaminya


" mama tahu kan apa yang aku pikirkan. Aku hanya ingin putriku kembali bahagia dan melupakan kesedihannya"


"iya mama tahu itu, sudah papa harus tenang. Nanti papa bisa sakit lagi" kata bu Karina memegang dada suaminya karena melihat nafas suaminya yang mulai berat.


Pak Firman menenangkan dirinya dengan menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Ia melakukan itu berulang-ulang sampai nafasnya benar-benar teratur.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


**T****erima kasih pembaca setia novel "Cinta Vania.


Dukung terus author dengan cara memberikan like dan vote sebanyak-banyaknya...


karena Vote dan like dari kalian begitu penting sebagai penghargaan bagi author

__ADS_1


Terimakasih...


Salam sayang selalu 😊😊😘**


__ADS_2