
Malam yang begitu singkat telah terlewati. Kesehatan Vania benar-benar sudah pulih dan jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Mereka tinggal menunggu keputusan dokter.
Pagi itu dokter visit datang siang hari. Ia sampai di rumah sakit sedikit terlambat karena macetnya jalan. Dokter akan datang untuk mengecek kondisi pasien sehingga nantinya dapat memutuskan pasien sudah boleh pulang atau tidak.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.55. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dokter memeriksa keadaan Vania. Ia mengatakan bahwa pasien sudah sehat dan diperbolehkan untuk pulang.
Pak Firman segera mengurus administrasi dan menghubungi supirnya untuk segera menjemput mereka di rumah sakit.
"lega rasanya bisa kembali menghirup udara luar setelah dua malam terdampar di rumah sakit" kata mama Vania di dalam mobil saat perjalanan pulang membuat suami dan putrinya tertawa kecil. Ia bahkan membuka kaca jendela mobil dan membiarkan hembusan angin masuk.
"Vania janji nggak akan seperti ini lagi ma" kata Vania sambil memeluk tubuh mamanya dari samping dan membenamkan wajahnya di bahu mamanya.
Bu Karina hanya tersenyum sambil menepuk lengan putrinya yang begitu manja.
Sesampainya mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang rumah, bi Inah yang sedari tadi menunggu majikannya di teras rumah segera berlari saat mobil majikannya berhenti tepat di depan teras. Bi Inah segera membukakan pintu belakang mobil untuk nona muda dan nyonya besarnya.
"tidak perlu repot-repot bi" kata Vania sambil menurunkan kaki keluar mobil
Bi Inah segera membantu supir untuk membawakan barang-barang majikannya masuk rumah.
Vania berjalan memasuki rumah diikuti oleh mamanya.
"istirahatlah dulu di kamar. Nanti sore mama bangunin" kata mama Vania memegang pundak putrinya.
Vania hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan mamanya menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Mata Vania tertegun melihat box hadiah yang ada di atas nakas. Ya, box itu pemberian Ditya yang belum sempat dibukanya karena ia harus dirawat di rumah sakit.
Vania berjalan mendekati nakas dan mengambil box itu. Pelan-pelan ditariknya pita yang melingkar di box. Dibukanya kado itu. Ada sebuah boneka spongebob favorit Vania, sepucuk surat dan sebuah album foto dengan cover putih.
__ADS_1
Vania mengambil album foto itu. Semuanya berisi tentang semua foto-foto mereka berdua yang di telah Ditya susun dari sejak awal mereka pacaran sampai maut memisahkan mereka.
Air mata Vania jatuh membasahi pipinya. Rasa sedih dan terharu bercampur jadi satu. Ia menutup kembali album foto itu.
Vania menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia menguatkan hatinya terlebih dahulu sebelum membuka sepucuk surat yang ada di depannya.
Vania menghapus air matanya. Ia menghela nafas pelan.
Setelah dirasa hatinya mulai kuat kembali, ia mengambil surat itu dan dibukanya.
*untukmu pemilik hatiku
Selamat ulang tahun wanitaku...
Mungkin ketika kau membuka hadiah pemberianku ini aku sudah tidak lagi berada di dunia ini*.
Air mata Vania menetes kembali membaca bait awal surat itu.
jangan buatku berat meninggalkanmu
Vania menghapus air matanya.Ia mencoba tersenyum agar air mata itu tak lagi jatuh. Ia harus kuat, harus bisa mengikhlaskan Ditya.
*Aku bahagia mengenalmu. Bahkan begitu bahagia ketika menjadi kekasihmu. Maaf jika aku sudah banyak menyakitimu...
Kini kau harus terbiasa menjalani hari tanpaku. Berusahalah membuka perasaanmu kembali pada lelaki. Jangan terlalu lama menutup hati. Banyak di luar sana yang mencintaimu dengan tulus. Bahkan ada seorang pria yang dengan setia mencintaimu hingga sekarang sebelum aku mengenalmu. Dan aku tahu itu sejak dulu. Tak perlu ku katakan siapa dia karena kau pun pasti akan mengetahuinya nanti.
Maaf jika aku pernah menitipkanmu padanya, padahal aku hanya sebatas kekasihmu yang tidak punya hak untuk mengatur hidupmu. Tapi percayalah, dia pria yang baik. Aku yakin dia mampu menjagamu dengan baik.
Aku hanyalah masa lalu bagimu. Dan semoga masa depanmu ada bersamanya.
__ADS_1
Berjanjilah padaku, kamu akan kembali seceria dulu. Berbahagialah, karena aku pun disini sudah bahagia.
Belajarlah yang rajin, kamu harus bisa mencapai gelar sarjana dengan hasil yang memuaskanBuat mama, papa, kak Adit dan orang-orang di sekitarmu bangga, termasuk diriku yang tak mampu lagi berada di sisimu .
Maaf hanya ini yang bisa ku beri. Semoga bisa menjadi pengobat rindumu padaku.
Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Berbahagialah.....
love you,
Ditya*
Air mata Vania kembali membasahi pipinya selesai membaca surat itu
"I love you too" kata itu terucap dari bibir Vania tanpa suara.
Vania mendekap surat itu dan meluapkan segala kesedihannya dengan air mata.
"baiklah... aku akan menutup masa lalu itu, aku akan berusaha menjalani kehidupan baruku. Tapi jangan pernah memaksaku untuk melupakanmu" kata Vania menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Tegar.. kata itu lah yang harus terngiang di telinganya.Ia harus bisa melewati semua oni dengan tegar dan kuat. Ia juga harus mampu mengendalikan diri dan emosinya agar kejadian seperti sebelumnya tidak terjadi lagi.
Ditutupnya kembali surat itu dan dikembalikan di dalam box. Ia mengambil boneka spongebob dari dalam box dan memeluknya.
Vania menutup kembali box berisikan bingkai foto dan surat itu dan meletakkannya di dalam almari. Sedang boneka spongebob ia taruh diatas ranjang untuk menemaninya tidur.
__ADS_1
Ia merebahkan tubuhnya yang lelah, antara lelah karena tak bisa istirahat dengan nyaman di rumah sakit dan lelah karena terus menangis dan bersedih.