Cinta Vania

Cinta Vania
Pengacau Kehidupan


__ADS_3

Kedua bapak dan anak itu saling terdiam sejenak. Mereka saling membisu. Vania tidak berani bertanya terlebih dahulu melihat wajah Papanya yang cukup serius.


"bagaimana pertemuan kemarin dengan putra Oom Satria" tanya papa Firman datar


"maksud papa, kak Devan?"


Papa Firman mengangguk. Tiada lagi senyum di wajahnya seperti hari-hari sebelumnya saat mengobrol dengan putrinya


"apa kak Devan belum menyampaikan apapun sama papa?" tanya balik Vania


"papa nggak mau tahu, kamu harus tetap menerima perjodohan ini" kata papa Firman tiba-tiba dengan intonasi tinggi


"tapi pa...."


"papa nggak suka dibantah. Bukankan sudah berulang kali papa mengikuti kemauanmu? lalu kapan kamu akan menuruti permintaan papamu ini? Keluarga pak Satria sudah begitu baik pada kita. Apa tak sedikitpun ada keinginan di hatimu untuk menyenangkan kami dengan menerima semua ini. Jika papa punya putri lain, papa tidak akan memaksamu untuk melakukan semua ini. Dan kali ini kamu sudah membuat papa malu di hadapan keluarga mereka. Lalu kamu mau bagaimana lagi?" jelas papa Firman menggebu-gebu karena sudah terlanjur begitu emosi.


Vania terkejut dengan perlakuan papanya. Ini pertama kalinya papanya berbicara dengan intonasi yang tinggi, bahkan ia nampak begitu marah.


Air mata Vania menetes membasahi pipi mulusnya. Hatinya begitu sakit mendengar pernyataan papanya. Ia tak lagi bisa menjawab apa-apa selain diam dan menunduk. Bukan waktunya untuk membantah permintaan papanya.


Mama Karina yang mendengar suara ribut dari ruang keluarga segera menghampiri mereka untuk mencari tahu. Ia terkejut saat mendapati suaminya nampak ngos-ngosan dan putrinya yang tengah menangis duduk bersebelahan.

__ADS_1


Mama Karina mendekati suaminya dan mendudukkan tubuhnya di samping suaminya sambil mengelus-elus punggung suaminya.


"papa jangan kaya gini, nanti sakit lagi lho.... sebenarnya ada apa, Pa?" tanya Mama Karina mencoba menenangkan suaminya


"apa papa salah jika mempunyai kemauan untuk menentukan hidup putra dan putrinya? Papa melakukan semua ini karena papa begitu menyayangimu, Papa ingin anak Papa mendapatkan hidup yang layak dan bahagia dengan menikahkannya dengan orang yang tepat. Kamu perempuan, Papa ingin ada seseorang yang mampu menjagamu kelak. Beda dengan kakakmu yang mampu menjaga diri sebagai laki-laki" kata papa Firman sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


Vania masih terisak dan menundukkan kepalanya. Ia meremas jari jemarinya sendiri. Perasaannya begitu kacau. Ia begitu menyesal telah menyakiti perasaan orangtuanya. Namun di sisi lain, ia justru semakin membenci Devan. Entah apa yang Devan ceritakan pada papanya hingga membuat papanya emosi. Alih-alih perjodohannya batal, Vania justru dipaksa untuk menerima perjodohan dengan Devan.


Mama Karina merasa takut akan kesehatan suaminya. Ia takut suaminya itu akan kembali merasakan sakit di dadanya karena terlihat dari nafas suaminya yang mulai tidak teratur.


"sudah pa... sudah, tahan emosi papa. Ayo kita istirahat" ajaknya sambil menarik lembut lengan suaminya untuk beranjak menuju kamar. Ia mencoba memisahkan suami dan anak itu untuk sementara agar keadaan tidak semakin kacau.


"Bilang sama putrimu itu untuk tidak membantah perintah orangtua" katanya masih dengan intonasi tinggi sebelum beranjak menuju kamar.


Papa Firman mengikuti saran istrinya untuk beristirahat di kamar karena memang merasakan dadanya yang semakin nyeri.


Tertinggal Vania sendirian di ruang tamu. Ia menangis merenungi nasibnya. Begitu sakit mendengar kemarahan papanya yang tidak pernah ia alami sebelumnya.


Vania mengemasi kembali barang-barangnya yang masih berserakan di meja. Ia membawanya masuk ke kamar.


Di dalam kamar Vania masih menangis. Ia mengutuk Devan dalam hatinya. Begitu besar kebencian untuk pria itu semakin tumbuh.

__ADS_1


Hingga malam hari, Vania tidak kunjung keluar dari kamarnya. Mama Karin yang merasa khawatir dengan kondisi putrinya segera memanggil bi Inah untuk memintanya mengantarkan makanan pada Vania.


tok...tok...tok....


"non....ini bibi" panggilnya setelah mengetuk pintu kamar Vania.


Vania berdiri dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"ini bibi disuruh Ibu untuk membawakan makan malam buat Non, dari tadi Non Vania tidak turun ke bawah. Ibu pikir non Vania masih sedih karena perkataan Bapak.. jari bibi diminta mengantarkan ini" katanya sambil mengarahkan nampan berisi piring makanan dan segelas susu cokelat ke Vania setelah pintu terbuka.


"makasih bi, Vania nggak lapar" jawabnya pelan


"Non.... non Vania harus makan. Kalau tidak nanti bisa sakit, kasihan ibu juga yang bakal repot. Mau ya non...." paksa Bi Inah


"baiklah bi" jawabnya sambil menerima nampan dari tangan bi Inah


"kalau begitu sya permisi dulu Non" kata Bi Inah sambil meninggalkan kamar majikannya.


Vania menutup kembali pintu kamarnya. Ia meletakkan nampan berisi makanan dan susu itu di atas nakas. Ia belum mempunyai selera untuk menikmati makan malamnya. Ia tak lagi memperdulikan perutnya yang kosong sejak tadi sore.


Vania masih menyendiri di kamarnya. Berkecamuk antara rasa bersalah telah menyakiti hati papanya dan semakin benci pada pria yang dijodohkan dengannya

__ADS_1


Vania tidak sabar ingin bertemu dengan Devan. Ia bertekad besok akan mencari keberadaan sosok lelaki itu di kantornya untuk meminta kejelasan. Lagi pula siapa yang tidak tahu lokasi SA Group. Perusahaan besar yang bertengger di tengah-tengah kota dengan puluhan anak cabang perusahaan yang tersebar di penjuru tanah air bahkan di luar negeri.


Vania tidak peduli lagi dengan rasa malu dan tidak enak hati ya sebagai perempuan yang menemui lelaki di kantornya. Baginya Devan hadir sebagai pengacau kehidupannya. Karena Devan Papanya memarahinya habis-habisan. Karena Devan pula papanya harus memaksa dirinya untuk mengikuti perintah yang tidak pernah ia inginkan.


__ADS_2