
"namanya juga cinta Van... nanti kalau kamu lihat pak Presdir juga aku yakin kamu bakalan kagum, semua pegawai cewek disini juga gitu" jelas Maya yang hanya dibalas senyum tipis oleh Vania.
"udahan ah ghibahnya... waktunya kerja lagi" lanjut Maya sambil tertawa kecil saat mereka sudah sampai di depan meja kerjanya.
Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore. Seluruh pegawai bersiap untuk pulang. Begitu pula Vania, ia sedang mengemasi barang-barangnya hendak pulang.
"kamu pulang bawa kendaraan?" tanya Maya saat melewati meja Vania.
"enggak mbak....aku nggak bisa naik motor" jawab Vania tersenyum.
"nggak bisa naik motor tapi kalau bawanya mobil sama aja bohong Van" celetuk Maya
"sama aja mbak...dua-duanya aku nggak ahli" jawab Vania masih dengan senyum ramahnya.
"beneran? terus kamu naik apa ke kantor tadi?" Tanya Maya
"naik taksi online mbak" jawab Vania sambil meraih tasnya yang ada diatas meja untuk di selempangkan di atas bahu.
"rumah kamu mana? kalau searah bareng aku aja"
"aku di jalan Sudirman mbak, nggak apa-apa aku juga udah pesan ojol tadi biar nggak kena macet" kata Vania sambil berdiri.
"yah...sayang..ternyata arahnya juga beda, kamu ke kiri, aku ke kanan" kata Maya kecewa
"kita bisa barengan pulang cuma sampai parkiran bawah aja mbak" kata Vania berjalan menghampiri Maya.
Maya pun tersenyum dan mengangguk. Mereka berjalan beriringan sambil tertawa-tawa sampai memasuki lift.
Saat sudah sampai di lantai bawah, lift pun terbuka. Vania dan Maya beserta pegawai lain pun keluar. Dan tak sengaja lift khusus presdir yang berada di sebelah juga terbuka. Vania terkejut mendapati Devan dan Ronald yang berjalan keluar dari lift. Dengan cepat Vania memalingkan tubuhnya. Maya yang merasa aneh dengan Vania segera menegurnya.
"sstt...sstt...ada pak presdir" kata Maya merapatkan giginya.
Vania pura-pura tidak mendengar apa kata Maya. Ia masih terus memalingkan tubuhnya sampai Devan dan Ronald tak terlihat lagi.
"kamu tadi mau aku tunjukin sama yang namanya pak Devan lho... lha kok kamu nya malah nggak mau noleh" kata Maya
"iya kah? maaf mbak tadi aku nggak dengar" kata Vania dengan senyum pura-puranya.
"ya gimana mau dengar orang kamu nya malah membelakangi, aku nya ngomong cuma gumam doank" kata Maya tersenyum.
"ya udah lah mbak, pulang yu',,, ojolku udah nunggu di depan" ajak Vania yang sudah menerima pesan dari ojol pesanannya.
Mereka berjalan keluar dari gedung. Maya pulang dengan motornya, sedang Vania pulang dengan naik ojol.
Sesampainya di rumah, setelah selesai dengan aktifitasnya, Vania memainkan ponselnya sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ia membuka sosial media untuk melihat status beberapa temannya. Tiba-tiba hatinya tergerak ingin membuka akun milik Devan. Ia pun mengikuti kata hatinya. Ia melihat-lihat foto pria yang kini mulai sering memenuhi otaknya.
__ADS_1
Senyum di bibirnya mengembang saat melihat wajah pria itu tampak keren duduk diatas kursi dengan baju kerjanya.
Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar. Vania kaget dan segera menekan tombol keluar ponselnya. Ia beranjak bangun dan membuka pintu kamarnya.
"lho...kak Rena" panggil Vania yang terkejut. Ia memeluk wanita yang kini menjadi iparnya itu dengan senang.
"kapan datang?" imbuhnya bertanya setelah melepaskan pelukannya.
"baru aja, tadi kakakmu ngajakin nginap sini sekalian ada perlu sama papa buat ngomongin urusan kantor"
"eh kamu sibuk nggak dek?" tanya Renata
"enggak kok, kenapa?"
"keluar yu',,, kakak lagi pengen martabak, mau minta tolong kakakmu nggak enak ganggu" ajak Renata
"boleh, apa sih yang ngak buat bumil" katanya sambil tertawa kecil "tapi bilang sama kak Adit dulu, nanti biar kita minta diantar sama mang Udin aja" ⁹lanjutnya
"boleh, bentar ya... kakak ngomong ke kakakmu dulu, kamu siap-siap deh" katanya sambil berjalan keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian Vania sudah turun dari kamarnya dan menghampiri Rena yang sudah menunggunya duduk di ruang keluarga bersama mama Karin .
"udah dek?" tanya Renata yang diangguki oleh Vania
"ayo" ajak Rena menggandeng tangan Vania yang sudah berada di dekatnya.
"iya hati-hati"
Mereka berjalan bergandengan menuju mobil.
Mang Udin segera melajukan mobilnya keluar gerbang.
"Mang, tolong anterin ke warung martabak di jalan X ya" kata Rena
"baik Non"
Beberapa menit kemudian sampai juga mereka di warung0 yang dimaksud. Vania segera turun dari mobil dan meminta kakak iparnya untuk menunggu saja di dalam mobil.
Vania menghampiri penjual martabak dan menyebutkan pesanannya. Ia menunggu sambil berdiri di samping gerobak penjual yang dipadang di teras warung.
Di sela-sela menunggu tiba-tiba ponsel yang ada di genggaman Vania berdering. Ada nomor baru disana.
Deringan pertama, Vania mengabaikan panggilan itu karena merasa tidak mengenal nomornya. Panggilan kedua, ia masih mengabaikannya. Kemudian panggilan ketiga membuatnya penasaran dan menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan.
"hallo"
__ADS_1
"kamu disitu sama siapa?"
"hah? ini siapa? emang kamu tahu siapa aku?"
"Devan"
"oh kak Devan, ada apa?" tanya Vania gugup tiba-tiba setelah mendengar penelepon menyebutkan nama.
"kamu sama siapa?'
"aku sama kakak iparku, istrinya kak Adit, kakak dimana?"
"aku di belakangmu"
Jawaban Devan membuat Vania menoleh ke belakang. Ia menjadi salah tingkah dengan kedatangan Devan.
Vania segera mematikan panggilannya.
"kak Devan mau beli martabak juga?" tanya Vania yang diangguki Devan
"apes banget, masa pas ketemu dia, gue cuma pakai piyama doank, tengsin banget..." gumam Vania yang merasa malu.
"kamu ngomong sesuatu?" tanya Devan yang tidak jelas mendengar Vania bicara.
"eh enggak... " jawab Vania
"mbak...ini pesanannya sudah" kata penjual martabak tiba-tiba sambil menyerahkan tiga bungkus martabak ke Vania.
" eh iya pak... berapa semua?" tanya Vania sambil merogoh saku celana piyamanya.
"nggak usah pak, totalnya hitung sama punya saya sekalian aja" sahut Devan cepat.
"baik mas" kata penjualnya yang kemudian berbalik kembali ke dalam warung.
"eh nggak bisa gitu dong" kata Vania.
"udah... jangan terlalu suka menolak" kata Devan yang membuat Vania bungkam seketika. Ia merasa perkataan Devan juga menyinggung perbuatannya tempo hari.
"pulanglah... sebentar lagi hujan, nggak baik untuk kesehatanmu, jangan sampai kamu masuk angin" kata Devan yang membuat pipi Vania merona.
Gadis itu merasa tersipu dengan perhatian dari Devan. Ia mengangguk dengan senyum manisnya.
"makasih ya kak" Kata Vania
"buat?"
__ADS_1
"martabaknya" jawab Vania yang membuat sudut bibir Devan semakin melengkung. Pria itu nampak manis dengan senyum menghiasi wajahnya.