
Dinginnya angin malam yang masuk lewat jendela kamar lantai atas yang terbuka membuat Devan menarik tubuh Vania yang tengah berada di balkon untuk masuk ke dalam. Ya, keluarga istrinya itu baru saja pulang satu jam yang lalu. Sedang Juna sudah dibawa pulang oleh orangtua kandungnya sore tadi.
"Istirahatlah, kamu harus menjaga tubuhmu agar tidak terlalu lelah. Lagi pula ini juga sudah malam" pinta Devan seraya merapikan rambut Vania yang menutupi sebagian wajahnya.
"Makasih ya, mas" ucap Vania penuh haru.
"Untuk apa?"
"Untuk semua yang sudah kamu lakukan. Kesabaranmu, kebaikanmu dan kekuatan cintamu. Aku bangga memilikimu. Aku bahagia. Bahkan sangat bahagia" Jawabnya dengan buliran air mata yang sudah mulai membasahi pipinya.
Devan merengkuh tubuh Vania dalam pelukannya. Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu mendengar ungkapan Vania. Disinilah titik kebahagiaan Devan. Hidup dan menua bersama dengan wanita yang dicintainya, bahkan dengan bonus calon bayi yang kini ada di rahim istrinya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu telah merelakan tubuhmu untuk menyimpan benih cinta kita selama sembilan bulan nanti. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Dan kini perasaan itu semakin besar seiring kehadiran janin dalam kandunganmu. Terima kasih, sayang" ucap Devan diakhiri dengan kecupan yang begitu dalam di puncak kepala Vania.
Vania melepaskan diri perlahan sesaat setelah Devan mengakhiri ciumannya.
"Maafkan semua kebodohanmu di masa lalu" ucap Vania dengan tatapan yang begitu dalam.
Devan tersenyum menanggapi pernyataan istrinya. Ia sangat bersyukur dengan pemberian Tuhan sejauh ini padanya.
"Yang terpenting, jangan pernah lagi mengulangi kebodohan itu lagi. Sekarang, yang perlu kau ingat dan lakukan adalah menjaga kesehatanmu dan perhatikan pola makanmu biar kantinnya buah cinta kita ini sehat" ucap Devan seraya memberikan usapan lembut di perut istrinya yang masih rata.
Vania tersenyum penuh haru. Keadaan ini begitu menenangkan baginya.
Devan beralih berjongkok dihadapan Vania. Ia menyamaratakan kepalanya tepat di depan perut istrinya. Ia menyampaikan kasih sayangnya pada calon bayi di kandungan Vania dengan memberikan usapan lembut, ciuman dan bahkan pelukan hangat di perut istrinya.
******
__ADS_1
Pagi harinya, Pasangan yang baru saja berbahagia itu mendapat kejutan dengan kedatangan bunda Dewi dan ayah Satria yang pulang ke rumah demi sang menantu.
Bunda Dewi memberikan beberapa ciuman di wajah menantu kesayangannya itu sebagai wujud syukur atas kehamilannya.
"Bunda, jangan terus ciumi istriku. Nanti aku tidak kebagian" celetuk Devan.
Bunda Dewi lantas memukul tangan putranya yang duduk tak jauh darinya. "Kamu ini sama ibu sendiri pakai cemburu. Kalau perlu Vania yang sudah bunda anggap putri bunda ini, bunda bawa ke London. Biar kamu sendirian disini. Mau?" goda bunda Dewi.
"Ya jangan lah, bunda" jawab Devan cepat membuat seisi ruangan tertawa, termasuk beberapa asisten rumah tangga yang berasa disana karena melihat tingkah konyol majikannya yang seperti orang bodoh kalau jauh dari istrinya.
*****
Hari terus berlalu. Kini kandungan Vania memasuki usia Minggu ke tiga puluh dua. Berbagai rangkaian prosesi seperti tasyakuran dan lain-lain telah mereka jalani beberapa bulan yang lalu.
Devan selalu menjaga dan memperhatikan istrinya. Bahkan tak jarang ia mewakilkan pertemuan luar kota pada Ronald agar bisa tetap menemani istrinya. Terlebih di usia kehamilan Vania yang sekarang, seiring bertambah besar perut Vania, Devan juga semakin ekstra mengurus kebutuhan istrinya, dari mulai makanan, aktifitas dan sebagainya. Semua itu ia lakukan demi kesehatan ibu dan calon bayi. Devan juga tak pernah sekalipun melewatkan jadwal periksa kehamilan istrinya. Ia selalu menemani Vania untuk mengetahui perkembangan kesehatan bayinya.
Setiap Devan pergi ke kantor, Vania ditemani oleh bunda Dewi. Bunda Dewi merelakan diri jauh dari suaminya demi bisa merawat menantunya yang hamil. Sedang ayah Satria harus kembali ke London untuk mengurus perusahaan disana. Ya, semenjak bunda Dewi pulang ke tanah air, ia tak ikut kembali lagi ke London bersama ayah Satria.
Vania merasa seperti seorang ratu di dalam rumah besar bak istana itu. Bagaimana tidak? Semua orang memanjakannya. Ia tak diizinkan untuk melakukan aktifitas berat. Kesehariannya hanya makan, istirahat dan berjalan-jalan di sekitar rumah. Jika bosan melanda, maka Devan atau bunda Dewi akan bergantian mengajaknya keluar mencari udara segar sambil menghilangkan penat. Seperti kali ini, Devan mengajak Vania ke rumah sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Andre dan Nadya. Mereka sengaja datang untuk saling bertukar pikiran mengenai kehamilan dan bayi. Sesekali mereka menyempatkan diri bermain-main dengan putri kecil Nadya yang sekarang sudah bisa berjalan dengan lancar.
Sore menjelang Maghrib, Vania dan Devan memutuskan untuk berpamitan. Devan tak ingin istrinya yang tengah hamil besar itu kelelahan.
Sesampainya di rumah, Devan terus memperhatikan istrinya yang tengah sibuk bersolek di depan cermin selepas mandi. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran calon ayah tampan yang kini sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu kenapa lihatin aku terus, mas?" tanya Vania tiba-tiba.
Devan tidak tahu jika diam-diam Vania juga memperhatikan suaminya yang terus diam menatapnya.
__ADS_1
Devan hanya diam dan menggelengkan kepalanya. Seolah menunjukkan jika dirinya baik-baik saja. Namun Vania tahu, jika suaminya itu sedang memikirkan sesuatu karena sikapnya yang berbeda semenjak pulang dari rumah Nadya.
Vania berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati suaminya. Ia pun duduk di samping Devan yang kini duduk menunduk seraya mengaitkan kedua tangannya dengan menumpu kedua sikunya pada paha.
"Kamu kenapa?" tanya Vania lembut. Namun Devan masih saja menggeleng seakan ragu untuk menjawab.
"Sikapmu berbeda semenjak kita dari rumah Andre. Kamu bisa cerita jika ada masalah. Kita akan melewatinya bersama" lanjut Vania.
Devan mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah Vania. Kedua sorot mata lelaki itu memerah. Nampak jelas jika ia sedang tidak baik-baik saja.
"Mas" panggil Vania khawatir. Ia menyentuh lengan suaminya.
"Kamu yakin akan memilih persalinan normal?" tanya Devan ragu-ragu.
Vania mengangguk pelan.
"Serius?"tanya Devan meyakinkan kembali.
"Iya, tentu saja. Kenapa sih? Kamu aneh sekali" jawab Vania heran.
"Bagaimana kalau memilih persalinan operasi saja? Kamu tidak akan merasakan sakit dan tentunya resikonya juga lebih kecil" ucap Devan menyarankan seraya menyentuh kedua tangan istrinya.
"Tidak, mas. Aku akan tetap memilih persalinan normal. Aku ingin menjadi wanita seutuhnya yang merasakan bagaimana mengejan saat melahirkan. Lagipula dokter juga bilang kalau kandunganku sehat dan tidak ada masalah. Tugasmu hanya berdoa, mendukungku dan mendampingiku, sayang" jawab Vania selembut mungkin agar tidak menyakiti perasaan suaminya. Ia menarik tangan kanannya dan mengusap pipi Devan memberikan ketenangan jika semuanya akan baik-baik saja.
"Tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu, sayang. Aku juga tidak yakin akan sanggup melihatmu kesakitan seperti yang dialami kak Renata"
"Allah akan melindungi keluarga kecil kita. Percaya padaku, aku dan bayi kita akan baik-baik saja" kata Vania meyakinkan suaminya dengan senyuman yang begitu manis.
__ADS_1
Devan membalas senyuman istrinya dengan ikut tersenyum paksa. Ia juga harus meyakinkan dirinya sendiri dengan mencoba untuk berfikir positif meski sebenarnya hatinya masih bimbang.