Cinta Vania

Cinta Vania
Tidak akan memaksamu


__ADS_3

Vania tetap diam dengan pikirannya sendiri. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Penolakan apapun tidak akan pernah diterima oleh papanya kali ini. Ia hanya harus mengikuti perkataan ayahnya dan setelah itu menolak perjodohan itu.


Papa Firman beranjak dari duduknya dan memasuki rumah diikuti oleh istrinya. Mereka berjalan menuju kamar untuk istirahat.


Tinggal Vania dan kakaknya yang masih di gazebo. Mereka saling diam. Adit terus memperhatikan adiknya yang masih menunduk.


"dek.." panggil Adit menyentuh bahu adiknya.


Vania menoleh tanpa menjawab. Tatapan matanya begitu dalam. Seolah kemarahan dan kesedihan menyatu disana.


"kakak tahu apa yang kamu pikirkan". Adit merasa kasihan melihat adiknya. "jika kamu tidak suka, nanti tinggal bilang saja kamu nggak mau" lanjutnya


"kenapa harus seperti ini kak, hiks...hiks..." tangis Vania pecah dihadapan kakaknya


"menangis saja, jangan ditahan" kata Adit merangkul adiknya


"kenapa harus orang yang tidak Vania kenal" Vania masih terus terisak.


"Papa ngelakuin ini semua karena papa yakin apa yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi bukannya papa bilang tidak akan memaksamu. Yang terpenting, ikuti saja apa kata hatimu"


Vania melepaskan diri dari rangkulan kakaknya. Ia mendongakkan kepalanya menatap mata kakaknya.


"tapi kak, selama ini aku yang selalu meminta kepada papa. Dan baru kali ini papa meminta sesuatu padaku. Haruskan aku menolaknya? aku nggak mau dibilang egois"


"nggak ada kata egois, kamu yang akan menjalaninya. Kamu berhak menentukan hidupmu. Kakak akan dukung apapun itu asal baik untukmu"


"apa kakak kenal sama putra Oom Satria?"


Devan mengangguk mengiyakan "kakak pernah bertemu dengannya sekali waktu meeting besar"


"sudah lah, tidak usah dipikirkan. Sekarang ayo masuk dan istirahat, sudah malam.. Angin malam tidak baik untukmu" ajak Adit menggandeng tangan adiknya.


Sesampainya di kamar, Vania tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan ayahnya. Bahkan semakin matanya dipaksa untuk terpejam, semakin membuatnya sudah tidur.


Hingga Subuh menjelang, mata Vania masih terjaga. Ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap sholat subuh.


Vania bersiap untuk berangkat ke kampus karena ada kuliah pagi. Sebelumnya ia sarapan dulu bersama mamanya karena Adit dan papanya harus berangkat sangat pagi untuk menghadiri pertemuan di luar kota.


"kog lemas banget sayang, kamu sakit?" tanya mama Karin saat melihat putrinya hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ada di piringnya.

__ADS_1


Vania hanya menggelengkan kepalanya sambil terus memainkan sendok dan garpu tanpa menjawab pertanyaan mamanya.


"terus kenapa? gara-gara perkataan papa semalam?" tanya mama Karin melepaskan sendok dan garpu dan meletakkannya diatas piring.


Vania terdiam. Mamanya bisa mengetahui apa yang ada dipikirannya.


"sayang... Papa pasti punya maksud tertentu dibalik semua ini. Papa hanya ingin kamu tidak terlalu larut dalam kesedihanmu. Lagipula kamu juga tidak dipaksa untuk menerimanya kan"


"tapi ma...."


"tapi apanya? kami tidak akan memaksakan kehendak yang tidak kamu suka" sahut mama Karin memotong pembicaraan putrinya.


"sudah buruan dihabiskan, nanti kamu telat lho" lanjutnya


Vania menghabiskan nasi goreng yang ada di piringnya. Setelah itu berpamitan pada mamanya untuk berangkat kuliah.


Vania memilih taksi online untuk menuju kampusnya. Didalam taksi, Vania hanya melamun dalam pikirannya sendiri hingga tak terasa taksi yang ia tumpangi telah sampai di tujuannya.


"mbak...sudah sampai" kata supir taksi membuyarkan lamunan penumpangnya.


"eh iya maaf pak" kata Vania gelagapan karena terkejut.


"Hai Van..." teriak seorang pria dari belakang sambil setengah berlari.


Vania menoleh ke belakang karena merasa ada suara yang memanggilnya.


"eh Kamu Leo, ada apa?" tanya Vania saat Leo mulai dekat.


"nanti pulang kuliah ada acara?" tanyanya dengan nafas terengah-engah karena habis berlari


"enggak, kenapa ya?


"gimana kalau ngerjain tugasnya nanti aja habis kuliah?"


"terserah sih, aku ngikut aja"


"mau bareng?"


"nggak usah makasih, aku bareng Nadya aja" tolak Vania sopan.

__ADS_1


"oo...oke"


Mereka berjalan beriringan menuju kelas. Suasana koridor kampus saat itu tidak begitu ramai karena kebanyakan hari itu kelas dimulai siang.


Sepulang kuliah Vania, Nadya, Leo, Arya, dan Nisha berangkat ke cafe terdekat untuk mengerjakan tugas kelompok.


Sesampainya di cafe mereka saling berdiskusi dan berbagi pendapat tentang tugas makalah yang akan dikerjakan.


Tanoa Vania sadari, Leo yang duduk berhadapan dengannya sering mencuri pandang ke arahnya. Hingga membuat Leo sering sekali tidak fokus saat ditanya oleh teman yang lain.


Nadya yang melihat gelagat dari Leo merasa


curiga. Namun, ia menepis semua itu dan mencoba berpikir positif mungkin Leo suka pada Vania.


Tugas mereka hampir selesai. Tak lama kemudian ponsel Nadya berdering. Ada nama Mbak Nia di layar ponselnya sedang menghubunginya. Dengan cepat Nadya menjawab panggilan itu dan sedikit menjauh dari teman-temannya.


"dari siapa Nad,?" Tanya Vania setelah Nadya kembali ke tempat duduknya dengan ponsel di genggamannya.


"Mbak Nia, aku diminta datang ke butik karena ramai banget"


"ya udah kamu berangkat aja, ini juga hampir selesai tinggal ngatur teks aja" kata Vania sambil menunjuk ketikan di laptop di hadapannya yang terbuka.


"terus nanti kamu pulangnya gimana"


"kan ada taksi online"


"biar Vania gue yang anter" sahut Leo membuat semua orang di bangku itu menoleh ke arahnya


"yakin?" tanya Nadya


"yakin lah..."


"kan rumah kamu berlawanan"


"nggak apa-apa kali, lagian gue juga nggak buru-buru"


"tapi..." belum selesai Vani bicara, Leo sudah memotong kata-katanya.


"udah, sekali ini doang, jangan nolak ya" pinta Leo

__ADS_1


Dengan berat hati Vania menganggukkan kepalanya. Dia terpaksa menerima ajakan Leo karena takut menyakiti hatinya dan tidak ada alasan lain untuk menolak.


__ADS_2