Cinta Vania

Cinta Vania
Tak Bisa Tenang


__ADS_3

Tak berselang lama bu Karina melihat dari jauh tampak Pak Satria dan istrinya berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


"pak Satria dan bu Dewi" gumam bu Karina yang di dengar oleh suaminya. Pak Firman segera menoleh ke arah suara kaki melangkah.


"iya, aku memberitahunya tadi siang kalau Vania dirawat"


Pak Firman dan istrinya segera berdiri dan menyamput sepasang sahabatnya yang mulai mendekat.


"bagaimana keadaannya jeng?" tanya bu Dewi pada mama Vania


"alhamdulillah sudah mulai membaik, mungkin besok sudah dapat ijin pulang"


"syukurlah kalau begitu, saya kaget setelah dapat kabar ini"


Bu Karina tersenyum lembut dan mengajak para tamunya untuk masuk ruangan.


"Vania sayang, ada tamu untukmu" kata bu Karina saat memasuki ruangan putrinya membuat Vania dan Adit menoleh ke arah pintu. Adit langsung berdiri dan menyambut tamu yang datang. Ia tidak boleh egois hanya karena masalah tadi. Sebisa mungkin ia mencoba bersikap biasa.


"oom Satria... tante Dewi..." sapa Vania sambil berusaha untuk duduk.


"Eh sudah sayang, kamu jangan banyak gerak" kata bu Dewi mendekat. Ia meletakkan parcel buah yang dibawanya di atas nakas.


"tante kenapa repot-repot sekali"


"tante tidak repot kok... bagaimana keadaanmu?"


"alhamdulillah tante... sudah mendingan"


"jangan terlalu banyak pikiran sayang, kamu harus menjaga kesehatanmu biar cepat pulih" kata bu Dewi mengusap-usap lengan Vania.


Mereka semua mengobral ringan diselingi canda tawa. Tak ada satupun yang berani membahas masalah perjodohan karena mereka tahu ini bukan waktu yang tepat.


Hampir dua jam pak Satria dan istrinya berada disana hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pamit pulang karena malam semakin larut.


"kamu cepat sembuh ya sayang" kata bu Dewi setelah berpamitan dengan orang tua Vania. Ia mencium kening Vania, gadis yang begitu disayanginya seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


"terimakasih tante" jawab Vania sambil tersenyum.


Kedua pasang suami istri itu berlalu meninggalkan kamar Vania diantar oleh pak Firman dan istrinya, sementara Adit menemani adiknya.


"terimakasih atas kunjungan kalian... saya merasa tidak enak hati membuat kalian harus repot-repot datang kemari" kata bu Karina ramah.


"kita sudah seperti keluarga jeng... jangan sungkan-sungkan" jawab bu Dewi tersenyum.


Para tamu itupun berlalu. Pak Firman dan istrinya terus menatap punggung kedua tamunya hingga tak terlihat lagi, kemudian ia masuk ruangan Vania kembali.


Malam mulai larut, pak Firman dan istrinya menemani putrinya dan tidur di rumah sakit. Adit pulang ke rumah karena besok paginya ia yang bergantian mengurus perusahaan.


****


Siang hari di negara seberang, Devan yang duduk di kursi keberasarannya nampak gusar. Semalaman ia tidak bisa tidur. Hingga kini ia tidak bisa fokus dengan pekerjaan yang dihadapinya. Perasaannya sedang tidak enak. Ia begitu gelisah.


"kenapa aku jadi gelisah gini ya" gumam Devan.


"permisi boss" sapa Ronald diambang pintu ruangan Devan yang terbuka


"iya boss, ada yang harus saya lakukan?"


"apa terjadi sesuatu di Jakarta?"


"tidak ada kabar apapun dari boss besar, sepertinya keadaan aman terkendali" jawab Ronald santai.


"saya permisi jika tidak ada masalah lagi" pamit Ronald sedikit membungkukkan badannya sambil membawa beberapa file.


Devan hanya mengangguk. Namun hati dan pikirannya tetap tak bisa tenang.


Devan mencoba menghubungi bundanya untuk meminta kabar. Diambilnya benda pipih dan mulai melakukan panggilan.


"hallo bunda" panggil Devan setelah panggilan tersambung


"iya sayang, ada apa?"

__ADS_1


"bunda lagi dimana?"


"bunda lagi dijalan sama ayah, tadi habis main di tempat teman. ada apa?"


"kalian sehat kan? tidak ada apa-apakan disana"


"iya... kamu ini kenapa sayang?"


"nggak apa-apa bund, perasaanku nggak enak aja"


"disini semua sehat sayang"


"emmm...Vania, apa dia baik-baik saja?" tanya Devan ragu-ragu


"dia baik-baik saja nak, ibu juga habis bertemu dengannya, dia malah ceria banget. Kamu jangan khawatir, dia bisa mengatasi semuanya" jawab bunda sedikit berbohong.


"oke kalau begitu, Devan bisa sedikit tenang sekarang"


"kamu sehat-sehatlah disana, segera selesaikan tugasmu biar cepat kembali kesini"


"iya, assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Bu Dewi mengakhiri obrolannya. Ia begitu lega setelah menjawab pertanyaan Devan tentang Vania. Ia sengaja berbohong pada Devan karena tidak ingin putranya itu kalang kabut karena tahu kondisi gadis incarannya.


Bahkan bu Dewi juga memperingatkan pada Andre agar tidak memberitahu apapun tentang kondisi Vania terkini. Jadi, Devan juga yakin kalau Vania sehat-sehat saja dan tidak terjadi sesuatu padanya.


Bu Dewi melakukan semua itu karena ingin Devan segera menyelesaikan tugas akhir kuliahnya agar ia segera wisuda dan mendapatkan gelar sarjana sehingga bisa berkumpul kembali ke tanah air.


"maafkan bunda sudah bohong sama kamu sayang" gumam bu Dewi menatap layar ponselnya.


"kenapa sayang?" tanya pak Satria sambil fokus menyetir.


"nggak apa-apa yah, bunda tadi bohong sama Devan" jawabnya sambil menunduk

__ADS_1


"jika itu demi kebaikan mereka bukankah tidak ada salahnya, sudahlah yang penting mereka baik-baik saja" kata pak Satria menenangkan istrinya


__ADS_2