Cinta Vania

Cinta Vania
Kebahagiaan yang sempurna


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


siang itu Devan menyelesaikan semua pekerjaan pentingnya di kantor. Bahkan ia sampai harus memajukan jadwal meeting dengan klien di hari ini juga karena besok ia harus mengambil cuti untuk mengantarkan istrinya periksa kandungan sesuai jadwal dari dokter Nisa sekaligus menemani wanita yang kini tengah mengandung buah hatinya itu jalan-jalan agar tidak stress.


"Terima kasih atas kerjasama anda. Saya begitu terkesan dengan penyambutan yang sudah anda persiapkan untuk kami" ucap Devan pada pemilik perusahaan yang ia datangi. Dimana ia kini tengah mengadakan meeting di tempat partner kerjanya.


Devan menyalami tangan partner kerjanya. Di waktu yang bersamaan ponsel di saku celananya berdering. Devan sengaja tidak mematikan ponselnya ataupun mengubah ponselnya ke mode hening. Semua itu ia lakukan agar sewaktu waktu orang rumah bisa menghubunginya dengan mudah mengingat usia kandungan istrinya yang tinggal menghitung hari menuju persalinan.


"Maaf, saya terima panggilan sebentar" ijin Devan sedikit menjauh setelah melepas jabatan tangannya. Ia berjalan sedikit menjauh untuk menerima panggilan yang ternyata dari bunda Dewi .


"Iya bunda, Assalamualaikum" sapa Devan setelah mengangkat panggilan.


"Waalaikumsalam... Kamu dimana? Sepertinya Vania mau melahirkan. Kami sekarang dalam perjalanan ke Healthy Hospital. Buruan kamu nyusul"


"Baik, bund. Devan segera kesana. Tolong jaga Vania dulu" jawab Devan panik. Ia pun mematikan ponselnya tanpa permisi dan kembali menemui partner kerjanya.


"Maaf, pak Sony. Saya harus pamit sekarang juga karena istri saya akan melahirkan" ucap Devan nampak cemas.


"Oo baiklah, pak Devan. Semoga semuanya lancar. Istri dan anak anda sehat"


"Terimakasih, pak Sony. Saya permisi dulu" pamit Devan yang kemudian pergi setelah mendapat jawaban dari pemilik perusahaan yang ia datangi.


Devan melajukan mobilnya ke jalan raya. Sambil menyetir ia menghubungi Ronald yang kini juga tengah meninjau anak cabang sesuai perintah dari atasannya. Ya, mereka saling membagi tugas agar bisa menyingkat waktu.


"Ronald, Istriku akan melahirkan. Tolong minta Lia untuk mengubah jadwal saya hari ini dan besok. Jadwal meeting yang sekiranya harus saya sendiri yang hadir ubah lusa dan selanjutnya"


"Baik, pak. Saya mengerti" jawab Ronald dari seberang telepon.


Devan menutup panggilan dan kembali fokus menyetir. Kali ini ia menambah laju kendaraannya lebih cepat agar segera sampai. Perasaan cemas dan khawatir bercampur aduk ia rasakan. Ia yakin kini istrinya tengah mangan kesakitan menjelang persalinan.


Mobil sedan hitam yang membawa Devan telah tiba di sebuah rumah sakit tujuannya. Ia meninggalkan jasnya di dalam mobil dan segera berjalan cepat menuju ruangan yang telah diberitahukan oleh bundanya. Disana ia melihat Adit dan Renata menunggu di luar ruangan, sedang Mama Karina dan bunda Dewi tengah menemani Vania yang tengah berbaring di atas tempat tidur pasien menahan kesakitan.


"Sayang" panggil Devan masuk ruangan.


"Mas..." suara Vania nampak lemas karena kesakitan.


Devan mengecup kening istrinya dan menggenggam tangan istrinya yang tidak terpasang infus. tubuh wanita itu nampak lemah sehingga membuat Devan semakin tidak tega.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya Devan lembut.


"Sangat yakin, mas. Aku kuat, aku bisa melewati semua ini asal kamu di sampingku" ucap Vania meyakinkan suaminya. Ia tahu dimana arah pertanyaan suaminya.


"Aku disini. Aku akan selalu menemanimu. Kita berjuang sama-sama, sayang"


Meski cemas dan khawatir, Devan berusaha menguatkan hatinya. Ia harus kuat demi istrinya.


Dua orang perawat datang memasuki ruangan untuk memberi tahu pasien agar bersiap menuju ruang persalinan. Keluarga pasien diminta untuk keluar, karena perawat-perawat itu akan mendorong brankar pasien ke ruang bersalin. Devan dengan setia menemani istrinya berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Ia taksedetikpun melepaskan genggaman tangan Vania.


Vania hanya bisa meringis menahan sakit yang ia rasakan akibat kontraksi demi agar suaminya tidak semakin khawatir. Ia selalu menunjukkan sikap tenangnya pada suaminya seolah menunjukkan jika dirinya baik-baim saja. Namun, meski begitu Devan tetap melihat kesakitan yang dirasakan Vania. Ia sudah banyak mencari informasi dari sahabat dan bundanya jika wanita yang akan melahirkan akan merasakan sakit yang begitu hebat. Ya, Devan tak pernah merasa malu dan risih untuk mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan kehamilan.


Vania telah memasuki ruang bersalin setelah meminta doa pada mama, bunda dak kakaknya.


"Mohon untuk salah satu saja yang ikut masuk ke dalam. Bisa suami atau ibunya" pinta perawat di ambang pintu menahan keluarga pasien agar tidak masuk.


Devan melihat ke arah bunda dan mertuanya seolah meminta ijin agar dirinya saja yang masuk kedalam.


"Masuklah, nak. Temani istrimu. Dia lebih membutuhkanmu" kata mama Karina meminta Devan untuk masuk.


Devan mengangguk pelan dan berjalan mengikuti Langkan perawat memasuki ruangan dimana istrinya berada. Ia duduk di kursi yang telah disediakan di samping tempat Vania berbaring. Tubuhnya bergetar karena ketakutan melihat istrinya mengadu kesakitan. Namun ia tetap berusaha tegar dan kuat demi keluarga kecilnya karena kali ini ia tahu betul istrinya lebih merasakan sakit yang teramat dahsyat. Berulang kali Devan mengusap keringat yang mengucur di wajah istrinya. Ia bahkan tak segan-segan menggunakan lengan kemejanya untuk mengusapnya.


"Tahan ya, sayang. Aku yakin kamu kuat" ucap Devan memberikan semangat pada Vania. Ia mengusap dahi dan rambut istrinya seraya mengucapkan semua doa-doa yang ia bisa.


"Aku lelah, mas" keluh Vania dengan nafas yang tidar beraturan lagi.


"Ayo, nyonya. Rambut bayi sudah mulai terlihat. Ambil nafas dulu, buang pelan-pelan. Sekali lagi mengejan dengan kuat, bayi akan lahir" kata dokter Nisa membimbing.


"Saya sudah tidak kuat, dok" jawab Vania lemas. Kedua matanya mulai sayu.


"Kamu bisa, sayang. Kamu bisa. Demi buah hati kita. Bukankah kamu menantikan ini semua. Kita akan merawat dan membesarkannya bersama. Kuatlah, sayang". Devan memberikan semangat pada Vania dengan tubuh yang bergetar menahan tangis. Mulutnya tak juga berhenti mengucapkan doa-doa untuk istrinya.


Sejenak Vania diam. Ia menyadari bagaimana orang-orabg disekitarnya mengharapkan yang terbaik untuk dirinya dan bayinya. Ia mengumpulkan kembali tenaganya dan mengambil nafas serta membuangnya pelan seperti yang dituturkan oleh dokter Nisa.


Dengan sekali mengejan kuat, bayi dari dalam kandungan Vania lahir.


Suara tangisan bayi yang menggema seisi ruangan hingga terdengar di luar membuat semua orang yang tengah berada disana mengucapkan syukur.

__ADS_1


"Alhamdulillah bayinya perempuan, sehat dan cantik sekali seperti ibunya" ucap dokter Nisa menggendong bayi Devan.


Devan terkesiap mendengar suara tangis dan bayi yang sedang ada dalam gendongan salah seorang perawat. Ia tak mampu lagi berkata-kata melihat kekuasaan Tuhannya yang begitu indah, seorang bayi mungil yang cantik buah cintanya bersama sang istri.


Nafas Vania mulai terengah-engah setelah melahirkan. Namun meski begitu, ia sudah lega dan plong setelah bayinya lahir. Ia pun tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


"Kamu hebat, sayang. Masih sakit?" tanya Devan. Vania menggeleng seraya tersenyum.


Devan menitihkan air mata bahagianya. Ia sangat terharu. Ia menatap istrinya. Dikecupnya kening wanita yang telah melahirkan buah cintanya itu dengan sayang.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu" ucap Devan lirih.


Vania yang sudah begitu lemas karena kehabisan tenaga hanya bisa menjawabnya dengan mengangguk pelan.


Perawat memberikan bayi cantik yang sudah dibersihkan itu pada Devan untuk diadzani.


Devan menerima bayinya dengan perasaan bahagia campur haru. Ia lantas mengadzani putrinya sebagai awal kehidupan untuk lebih baik.


******


Prosesi persalinan telah berakhir. Vania telah dipindahkan ke ruang perawatan khusus yang biasa digunakan untuk keluarga pemilik saham di rumah sakit itu.


Keluarga sekaligus kerabat bergantian datang berkunjung. Semua orang nampak bahagia dan senang. Begitu pula Leona, putri dari Adit yang begitu senang karena memiliki saudara perempuan yang bisa diajaknya bermain.


Hingga malam mulai larut, seluruh keluarga mulai pulang. Kini hanya tersisa Mama Karina, Bunda Dewi dan Devan yang menemani istri serta putrinya. Namun, Devan meminta bunda dan mertuanya untuk istirahat di ruangan khusus penunggu pasien yang ada di ruangan itu. Sedang Devan dengan setia menemani istrinya yang kini tengah menyusui putrinya.


"Kita kasih nama siapa, mas?" tanya Vania sambil menyusui.


"Aku akan memberinya nama Alesya Devania Atmadja. Kita panggil si cantik ini Alesya" jawab Devan mengusap-usap pipi mulus putrinya.


"Nama yang bagus. Aku setuju, mas."


"Keluarga kita akan semakin bahagia dengan hadirnya si cantik ini. Kita akan merawatnya bersama-sama. Terima kasih telah membuat kebahagiaanku menjadi sempurna."


Vania mengangguk tersenyum. Sepasang orangtua baru itu begitu bahagia. Sungguh pemandangan yang menyejukkan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


...TAMAT...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


__ADS_2