
Suara dering ponsel milik Devan yang berbunyi membuat pembicaraan mereka berhenti. Devan merogoh ponsel dari saku celananya. Panggilan itu dari Ronald. Ia yakin ada sesuatu yang mendesak karena tidak biasanya Ronald menghubunginya.
"Bentar ya aku angkat telepon dulu" pamit Devan ke Vania. Ia melangkah sedikit menjauh setelah mendapatkan jawaban dari Vania.
Devan memilih keluar rumah untuk mengangkat panggilan. Sedang Vania membereskan mainan Juna yang masih berserakan di samping kursi tamu.
Tak lama kemudian Devan kembali masuk ke dalam rumah dan mendekati istrinya yang sedang memasukkan mainan ke dalam sebuah box besar.
"Punya Juna?" tanya Devan
"Iya mas, siapa lagi. Dia sudah seperti putraku sendiri. Jadi aku menyediakan banyak mainan disini agar dia betah"
Devan mengambil alih box yang terisi penuh mainan dan mengangkatnya untuk di pindahkan di sudut ruangan karena tak ingin istrinya mengangkat barang berat.
"Makasih ya mas"
"Sudah tugasku, sayang" kata Devan mengusap lembut rambut sebahu Vania yang tergerai.
Devan tersenyum kecil melihat penampilan istrinya yang nampak aneh.
"Kenapa sih?" tanya Vania
"Jangan pernah memotong rambutmu lagi, biarkan panjang. Dan kacamata yang kemarin, jangan dipakai lagi ya. Aku tahu kau memakainya hanya untuk menutupi identitasmu"
"Jelek ya?" tanya Vania cemberut.
"Bukan, kau selalu cantik di mataku. Hanya saja aku merasa aneh dan lebih suka penampilanmu dulu" kata Devan tersenyum.
"Jangan terus menggodaku. Nanti aku bisa terbang lho" kata Vania malu-malu, lalu Devan memeluknya.
"Ikut aku kembali ke Jakarta besok pagi ya" kata Devan lembut.
Vania yang masih berada di dekapan suaminya langsung menarik diri agar terlepas dari pelukannya.
"Secepat itu?"
"Iya, karena siangnya aku harus ke Kalimantan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Ada proyek yang terhambat disana. Dan aku harus menyelesaikannya segera"
Vania merasa sedih mendengar perkataan Devan. Baru saja bertemu, mereka harus berpisah lagi. Ia tak mungkin ikut ke Jakarta dalam waktu cepat sementara ia masih punya tanggung jawab di resto.
"Aku nggak bisa mas" kata Vania menggenggam tangan Devan.
"Kenapa? Apa kau tak ingin pulang bersamaku?" tanya Devan masam karena Vania tak menuruti keinginannya.
"Bukan begitu. Jika aku kembali besok, bagaimana dengan tanggung jawabku disini"
"Aku akan berbicara dengan Sherin. Dia pasti mau mengerti"
"Jangan, mas. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya".
__ADS_1
Mendengar jawaban Vania, Devan melepaskan genggaman tangannya. Wajahnya mulai kesal karena Vania menolaknya.
"Mas, sepulang dari Kalimantan nanti, aku janji akan ikut pulang ke Jakarta" kata Vania memohon.
"Baiklah, sepulang dari kalimantan aku akan menjemputmu. Janji setelah itu kau akan kembali ke Jakarta bersamaku" kata Devan lembut namun terdengar seperti sebuah peringatan.
Vania mengangguk pelan dan tersenyum. "Aku janji, sayang".
"Apa? Coba ulangi lagi" kata Devan mencondongkan telinganya ke depan agar mendengar jelas.
"A-ku jan-ji" kata Vania memperjelas tiap suku kata yang diucapkan.
"Enggak, bukan itu, kamu panggil aku apa tadi?"
"Enggak ah, nggak ada pengulangan" kata Vania malu-malu.
Mendengar Vania malu-malu, Devan langsung menggelitik pinggang istrinya hingga pemiliknya minta ampun karena geli.
"Ampun, mas. Udah" katanya masih tertawa karena merasa geli.
Nafas Vania yang mulai ngos-ngosan membuat Devan menghentikan gerakan tangannya. Ia terkekeh melihat istrinya yang menggemaskan.
"Aku ingin istirahat sebentar, yang. Boleh?" tanya Devan.
Vania mengangguk ragu. "Boleh, tapi kamar disini nggak sebesar dan semewah di Jakarta, mas. Mas yakin bisa tidur disini?"
"Kamu ini ngomong apa. Asalkan kamu menemaniku, aku tidak akan mempermasalahkannya" seru Devan mengusap lembut pipi Vania.
Devan masuk kamar diikuti dengan kedua matanya yang menyapu sekeliling ruangan. Sebuah kamar berukuran tiga kali empat dengan satu almari kecil dan sebuah kasur busa berukuran single tanpa dipan yang diletakkan diatas lantai berlapis sebuah karpet. Meja kecil yang diletakkan di dekat pintu dijadikan tempat untuk menaruh kipas angin dan minum jika ia terjaga.
Ruangan kamar yang kecil itu terlihat sangat rapi meskipun sederhana. Vania selalu menata dan memebersihkannya sebaik mungkin agar terasa nyaman.
"Ini mas, kamu bisa istirahat disini" kata Vania menunjuk ke kasur.
Devan meletakkan tas ranselnya disamping meja. Ia juga melepaskan jaket yang menutup t-shirt pendeknya dan menggantungkannya di gantungan belakang pintu. Kemudian ia berjalan mendekat ke tempat tidur.
Vania hendak pergi. Namun dicegah oleh Devan.
"Mau kemana?" tanya Devan memegang pergelangan tangan Vania.
"Aku mau nyiapin makan buat kamu nanti setelah bangun"
"Nggak perlu. Kita bisa makan diluar nanti. Aku pengen kamu nemenin aku disini"
"Sempit, mas"
"Nggak apa-apa, kita akan berbagi berdua. Aku lebih suka seperti ini" kata Devan dengan menaik turunkan alisnya dan senyum menyeringai.
"Itu sih mau kamu aja. Dasar mesum" gerutu Vania.
__ADS_1
"Sama istri sendiri mah nggak apa-apa. Kamunya mau nemenin enggak?" tanya Devan gemas mencubit pelan hidung istrinya.
"Baiklah" kata Vania ikut mendekat ke tempat tidur.
Vania merebahkan diri di samping suaminya. Dengan cepat Devan langsung memiringkan tubuhnya memeluk pinggang istrinya meminta pemiliknya untuk menghadap padanya.
Devan menyelipkan lengan kanannya diantara kepala Vania agar menjadi bantalan bagi istrinya. Ia menatap Vania penuh hasrat. kini tangan kiri yang semula berada di pinggang beralih menyentuh wajah Vania. Ia mengusap lembut pipi istrinya yang masih tetap mulus meski tak pernah perawatan di salon.
Devan mengecup kening Vania penuh perasaan seolah tak ingin lagi jauh darinya.
"Aku mencintaimu, sayang" katanya lirih setelah melepas pelukannya.
"Aku pun juga mas. Maaf jika aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu" jawab Vania.
Kini tangan kiri Devan beralih menyentuh tengkuk Vania. Ia mengecup bibir Vania berulang kali, Lama-lama kecupan itu menjadi sebuah ciuman. Bibir Devan mulai menyapu bibir Vania. Perlahan ciuman itu menjadi lu*atan-lu*atan kecil.
Vania menutup mata merasakan sentuhan hangat bibir Devan yang memaksanya untuk membuka bibirnya agar memperdalam ciumannya.
Vania tak lagi diam. Dia ikut membalas ciuman suaminya membuat Devan tersenyum kemenangan. Dalam sekejap saja, nafas mereka memburu dan menggairahkan.
Tangan kiri Devan berpindah meraba leher Vania dan turun ke bagian dada Vania. Merasa tidak tahan, tangannya manyusup masuk di balik kemeja pendek yang dipakai Vania. Ia mulai meraba-raba punggung Vania untuk melepaskan kaitan bra istrinya. Setelah berhasil, Ia berganti meraba bagian sensitif Vania. ia mer*mas lembut dada Vania dan bermain-main disana.
Vania membiarkan saja suaminya melakukan itu padanya. Ia hanya ingin mengobati rasa rindu suaminya selama ini pada tubuhnya.
"Mas, uumbbhh...".
Desahan Vania tertahan karena mulut yang terbungkam.
Devan semakin bergairah mendengar desahan demi desahan istrinya karena perlakuannya. Kini tangannya beralih turun ke bawah. Ia mengusap-usap paha Vania, setelahnya tangannya bergeser hendak menyelip diantara kedua paha itu. Namun, dengan sigap Vania menahan tangan Devan dan melepaskan ciumannya.
"Tidak untuk sekarang, mas" kata Vania
"Kenapa?" tanya Devan mengernyit. Ia merasa kesal karena Vania mencegahnya.
"Aku sedang PMS" jawab Vania malu.
Devan mendengus kesal karena keinginannya tak tersalurkan membuat Vania menahan tawa.
"Baiklah... aku akan bersabar" kata Devan lemas. Ia tak mau egois, ia bisa mengerti keadaan istrinya. Lagipula ia bisa melakukannya setelah pulang dari Kalimantan nanti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ngarepin apa, hayoo.....???😅😅
Belum saatnya ya...sabar... sabar...
Mohon maaf ya buat jumlah up nya nggak bisa dipastikan. Pengen up banyak, tapi kondisi badan lagi kurang fit. Insya Allah bakalan up banyak lagi kalau udah sehat.
Jangan lupa rate, like, komen dan Vote ya, biar author semakin semangat.
__ADS_1
Terimakasih,
Salam Sayang Selalu...😘💗💗