Cinta Vania

Cinta Vania
episode 23 Bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

Nadya menyusuri jalanan menuju ke toko tujuannya yang letaknya tidak jauh dari halte sekolahnya.


Ia kembali ke halte setelah mendapatkan apa yang dibelinya. Nadya terduduk di nbangku halte.


Ketika tengah menunggu bus datang, ia di kejutkan oleh mobil Andre yang tiba-tiba berhenti di hadapannya. Spontan ia beediri dari duduknya.


"Nad, kamu ngapain belum pulang? ayo masuk" teriak Andre membuka kaca mobil samping


"eh nggak usah kak..makasih," tolak Nadya karena sungkan merepotkan


"udah ayo, ini udah sore lho" paksa Andre turun dari mobil dan menghampiri Nadya. Tanpa menunggu jawaban Nadya, Andre menarik halus pergelangan tangan Nadya untuk mengikutinya masuk mobil.


Dengan pasrah Nadya menuruti kemauan Andre. Dia berfikir tidak ada salahnya ia pulang bareng Andre mengingat waktu semakin sore yang akan membuatnya terlalu lama menunggu angkutan umum.


Merek duduk di kursi depan. Andre yang duduk disamping kemudi mulai melajukan mobilnya menuju jalan pulang.


"kamu kenapa baru pulang?" tanya Andre


"emm itu tadi mampir ke toko sebelah dulu buat beli titipan ibu" jawab Nadya


"Vania pulang sama pacarnya? tanya Andre tiba-tiba membahas Vania


"enggak...tadi dia dijemput keluarganya, katanya ada urusan"


"oo..." jawab Andre singkat memonyongkan bibirnya "eh minta nomormu donk" lanjutnya


"buat apa kak" tanya Nadya penasaran


"ya minta aja..tapi kalo nggak boleh nggak apa-apa sih"


"boleh kog" jawab Nadya pelan.


Andre mengambil ponselnya yang ada diatas dashboard dengan tangan kirinya dan menyerahkan ke Nadya.

__ADS_1


"simpen disini ya" katanya sambil menyerahkan ponsel


Nadya mengangguk dan meraih ponsel dari tangan Andre. Ia membuka kunci layar ponsel itu. Namun sayangnya Andre lupa kalau ia mengunci ponselnya dengan password.


"kak, ini harus buka pakai sandi" kata Nadya menunjukkan Ponsel Andre kearah pemiliknya. Andre yang fokus menyetir hanya melirik sekilas ke layar ponselnya.


"buka aja xxxxxx" kata Andre menyebutkan angka yang digunakan untuk membuka sandi.


Nadya cukup terkejut dengan yang didengarnya barusan. Bukannya mengambil kembali ponselnya dan membuka sandinya, Andre justru membiarkan Nadya tahu dan memintanya untuk membuka sendiri.


Nadya menekan angka yang telah disebutkan Andre di layar ponselnya. Tampak wallpaper foto Andre yang tampak keren dan cool dengan gayanya bak model fashion remaja masa kini.


Nadya buru-buru menekan aplikasi kontak yang tertera. Ia menekan nomornya dan menyimpannya.


"ini kak, sudah" Nadya mengembalikan ponsel Andre saat sudah menyimpan kontaknya.


"makasih ya" Andre meraih ponsel itu dan meletakkan kembali ke dashboard.


Nadya merasa sedih mengingat kedekatannya dengan Andre. Di satu sisi ia merasa nyaman dan bahagia saat bersama Andre meski hanya sebatas mengantar pulang. Namun di sisi lain ia merasa sedih karena setiap bersama Andre, pria itu selalu menanyakan tentang Vania. Nadya mulai menaruh hati ke Andre. Namun ia tidak punya banyak keberanian untuk melanjutkan perasaan semakin dalam mengingat Andre selalu menanyakan Vania saat bersamanya. Ia berfikir cintanya bertepuk sebelah tangan dan Andre hanya mencintai Vania, bukan dirinya.


Sesampainya di rumah, Nadya mengganti seragamnya dengan baju rumahan untuk menggantikan ibu di warungnya yang berada di depan rumahnya.


Waktu mulai maghrib, Nadya kembali masuk rumah ketika ibunya datang untuk menggantikannya menjaga warung setelah sholat maghrib.


Sesampainya masuk rumah Nadya langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan akan melaksanakan salat. Karena di rumahnya hanya ada satu kamar mandi yang harus digunakan bergantian.


Selesai sholat, ia mengambil makan karena perutnya yang sudah sangat lapar. Ia makan sendiri ditemani adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD.


Setelah menyelesaikan makannya, ia kembali ke kamar untuk belajar. Kamar yang cukup senpit bwrukuran 3x3 meter namun tampak sangat rapi. Ia melirik benda pipih di samping bukunya yang sedari pulang sekolah tadi belum tersentuh. Ia mengambilnya dan membuka kunci. Ada satu pesan masuk di chat Whatsappnya. Pesan itu dari nomor baru yang belum dikenalnya dengan foto profil gambar pemandangan alam. Dia mebuka pesan itu dan membacanya.


xxx : "lagi apa?"


Merasa tidak kenal dengan nomor baru itu, Nadya mengabaikan dan meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan itu.

__ADS_1


xxx: "kenapa nggak bales, sibuk ya?"


Nada pesan masuk berbunyi dari nomor yang sama. Nadya masih mengabaikannya. Dia mengira itu hanya nomor iseng yang cuma menggodanya.


Lima menit kemudian ponsel Nadya berdering. Ada panggilan masuk. Dilihatnya dari nomor yang sama dengan pengirim pesan sebelumnya. Ia mulai penasaran dan menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Ia mengangkat panggilan itu tanpa bersuara dan membiarkan penelepon berbicara terlebih dahulu


"Nad, ini aku Andre"


"oo...kak Andre, kirain cuma orang iseng"


"sorry, kamu lagi apa?"


"ini mau belajar kak"


"besok sekolah?"


"he'em..kenapa emang kak?"


"bareng ya, aku jemput"


" nggak usah kak, besok aku bisa naik angkot aja" tolak Nadya halus karena ia tidak mau semakin menyakiti perasaannya sendiri. Ia ingin mencoba sedikit menghindar dari Andre.


"udah..pokoknya besok pagi aku jemput depan gang kaya biasa" Kata Andre yang langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban Nadya.


Nadya mulai gusar dengan pernyataan Andre. Ia meletakkan kembali ponselnya. Ia tidak bisa fokus belajar setelah mendapatkan panggilan dari Andre.


"kenapa kamu semakin mendekat sih...aku nggak mau semakin sakit..please jangan permainin perasaanku. Aku nggak mau terus berada disampingmu, sedang kamu hanya menginginkan sahabatku. Aku sadar aku bukan siapa-siapa.. nggak mungkin bisa mencintaimu orang sepertimu" kata Nadya pelan menundukkan kepalanya. Nadya meneteskan air matanya.


Nadya menghapus air matanya dan menutup kembali bukunya. Ia keluar dari pintu kamar menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia melaksanakan sholat isya' sebagai kewajibannya sebagai seorang muslim dan untuk menenangkan hatinya yang pilu.


Selesai dengan kegiatannya, ia kembali ke kamar untuk istirahat. Hari ini cukup melelahkan baginya. Lelah akan kegiatan yang tiada henti dan lelah akan hatinya yang tak terbalaskan. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya yang hanya berukuran 120x200. Ranjang yang hanya bisa di tempati oleh satu orang saja. Kalaupun diisi oleh dua orang akan tetap muat namun sangat berdesakan dan membuat tidak nyaman.


Nadya mencoba memejamkan matanya yang mulai berat. Tak butuh waktu lama, ia pun terlelap dalam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2