Cinta Vania

Cinta Vania
Mesra


__ADS_3

Pak Amin masuk rumah menghampiri majikannya sambil membawa kantung plastik kecil.


"Tuan, ini tadi ada gojek nganter ini, katanya pesanan anda" katanya sambil menyerahkan kantung plastik itu ke Devan.


"Oh iya benar. Makasih Pak" kata Devan menerima barang itu.


Pak Amin kembali melanjutkan pekerjaannya mengurus kebun bunga depan rumah.


"Ini yang, obati dulu aja biar cepet sembuh" Devan menyerahkan salep yang dibelinya pada Devan.


"Aku ke kamar dulu kalau begitu"


"Di atas aja, nanti bisa sekalian istirahat siang, biar nanti Bu Tini beresin barang kamu yang di kamar bawah"


Vania mengangguk saja dengan perintah suaminya. Ia berdiri dari duduknya. Dengan sigap Devan mendekatinya dan menunduk hendak menggendongnya.


"Jangan gendong" kata Vania mencegah


"kenapa?"


"Malu kalau Bu Tini lihat" Kata Vania pelan sambil melirik ke Bu Tini yang sedang membersihkan dapur.


"Masa digendong suami sendiri malu"


"pokoknya nggak mau, bantuin jalan aja" pinta Vania.


"Ya sudah ayo" kata Devan senyum sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Vania untuk memapahnya.


"Bu, tolong nanti perlengkapan istriku yang di kamar bawah pindahin ke atas ya" teriak Devan agak Bu Tini mendengarnya.


"Baik, Tuan"


Sesampainya di kamar, Vania langsung menuju kamar mandi untuk mengobati lukanya. Sedangkan Devan dengan sabar menunggu istrinya keluar. Tak lama kemudian Vania keluar dari kamar mandi. Devan segera berdiri dan menghampiri Vania untuk memapahnya.


"Istirahat dulu aja ya, aku temenin" kata Devan sambil menidurkan dan memangku kepala istrinya.


Dalam waktu yang singkat saja, Vania terlelap dalam pangkuan suaminya karena memang semalaman tidak tidur. Sedang Devan hanya duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang sambil mengelus rambut istrinya. Rasa nyaman bersama wanita yang dicintainya membuat lengkungan di bibirnya. Pria itu tampak begitu bahagia.


tok...tok...tokk...


"Siapa?"


"Saya Tuan"


"Masuk aja Bu, Saya nggak bisa bangun" Kata Devan sedikit berteriak sambil menutup telinga istrinya agar tidak terganggu.


Bu Tini masuk ke kamar majikannya. "Permisi Tuan, di depan ada mas Andre sama teman-temannya" kata Bu Tini


"Baiklah, bilang saja sebentar lagi saya turun"


"Baik Tuan, permisi"


Bu Tini keluar dan menutup kembali kamar majikannya. Ia turun untuk menyampaikan pesan Devan dan menyiapkan minum untuk tamunya.


Devan turun ke bawah dan menemui tamunya. Tampak Andre bersama Bimo dan Kribo duduk di sofa tamu.

__ADS_1


"Hey, tumben-tumbenan pada ngumpul. Ada apa?"


"Lagi pengen mampir aja, tadi habis dari kafe deket sini. Gue bilangin lo tinggal disini. Ee... nggak tahunya mereka ngajakin mampir" kata Andre.


"Main PES yu' bro" ajak Kribo


"Oo...kirain ada apa, boleh ayo"


"Eh Vania mana kok nggak kelihatan" tanya Andre.


"isshhh... ngawur aja kalau ngomong, ngapain nanyain Vania disini, Lo pikir Vania nggak punya tempat tinggal apa sampai numpang di rumah orang" Kata Bimo.


"Oh iya lupa, Kalian kan belum tahu" kata Andre senyum lebar


"Emang ada berita apa, kok gue Ama Bimo ketinggalan banget" tanya Kribo.


"Gue udah nikah ama Vania. Sorry kalau gue nggak kasih kabar. Semuanya serba mendadak karena permintaan terakhir papanya. Vania juga minta untuk sementara dirahasiakan dulu" jelas Devan.


"Serius?" tanya Kribo dan Devan mengangguk.


"Wah...gila lo bro, Gue yang ngebet nikah malah Lo yang ngeduluin" kata Bimo yang membuat semua orang tertawa.


"Makanya buruan halalin, biar nggak keburu diambil orang" kata Devan.


" Lo nyindir gue, Lo...." kata Andre bikin Devan terkekeh.


"Sorry bro... Nanti gue minta Vania buat bujuk Nadya deh biar mau cepet nikah"


"terus, sekarang mana Vania?"


"Syukurlah kalau begitu".


"Bu, kalau sudah langsung pindahin ke atas aja ya, tolong hati-hati jangan sampai dia kebangun" kata Devan sedikit teriak ke Bu Tini saat melihat wanita paruh baya itu keluar kamar membawa koper dan beberapa barang lain.


"iya Tuan"


"Udah ayo ke ruang tengah aja" ajak Devan pada tiga sahabatnya.


Tiga jam keempat laki-laki itu bermain game di ruang tamu.


Vania terbangun dari tidurnya dan tak menemukan suaminya disana. Ia berusaha bangun dan turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri dan kemudian mencari keberadaan Devan.


Merasa lukanya lumayan membaik sejak memakai obat luar pemberian suaminya, Vania pelan-pelan menuruni anak tangga.


"Bu, kok rame banget ada siapa?" tanya Vani ke Bu Tini yang sedang memasak.


"E nona sudah bangun, itu ada mas Andre sama dua temannya lagi di ruang tengah"


"oo..." Jawab Vania membulatkan bibirnya.


"Nona butuh sesuatu?"


"Enggak Bu, aku ke ruang tengah dulu aja".


Vania berjalan hati-hati ke ruang tengah menemui suaminya yang tengah bersama sahabatnya. Ada Kribo main game di ponselnya, Andre sedang chattingan sambil senyum-senyum, dan Devan sedang main PES bareng Bimo. Keempat lelaki itu nampak menikmati permainannya hingga tak menyadari keberadaan Vania.

__ADS_1


Vania mendekati Andre yang tengah duduk di sofa.


"hey, kak.." tanya Vania mengagetkan Andre.


"Eh, kamu Van.. udah bangun? Katanya sakit?"


"Udah agak mendingan kok, Nadya apa kabar? aku dah seminggu ini nggak chattingan sama dia" jawab Vania sambil senyum.


"Baik Van, mau ngomong? ini aku lagi chat ma dia, kalau iya aku video call"


"boleh"


Andre menghubungi Nadya. Tak butuh waktu lama panggilan terhubung.


"Vania...gue kangen banget ama lo" Teriak Nadya dibalik telepon membuat Devan dan yang lain menoleh.


"Lho...." kata Devan saat melihat istrinya tiba-tiba duduk di sebelah Andre. Vania hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ke suaminya seolah menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.


"Apa kabar?" tanya Vania menoleh kembali ke layar ponsel di depannya.


"Baik... Lo kok pucat?


"Iya lagi nggak enak badan"


"Oh...kirain lu dianiaya sama kak Devan" kata Nadya terkekeh.


"Sialan lu Nad" umpat Devan yang mendengar suara Nadya membuat semua orang tertawa.


"Eh bentar dulu ya.. Ibu manggil, besok kita ngumpul ya"


" Boleh, ya udah assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Mendengar istrinya selesai menelepon, Devan mengakhiri permainannya dan meminta Kribo menggantikannya. Ia mendekati Vania.


"Tadi turun sendiri?" tanya Devan sedikit khawatir


"iya udah lumayan mendingan kok"


Vania dan Devan mengobrol bersama sahabatnya di ruang tengah sambil tertawa-tawa.


Devan menuju ke kamarnya untuk mandi setelah teman-temannya pulang.


Vania menunggu suaminya sambil membantu bu Tini memasak di dapur.


Saat ia sedang berdiri di depan meja dapur, ia terkejut karena tiba-tiba Devan melingkarkan tangan di perutnya.


"Mas..." tegur Vania meminta suaminya melepaskan pelukannya. Namun lelaki itu justru meletakkan dagunya diatas pundak istrinya.


"Apa"


"Malu ada Bu Tini"


"Birain.... nggak apa kan Bu ya... Nanti kalau Bu Tini pengen biar panggil pak Amin" Kata Devan ke Bu Tini.

__ADS_1


Bu Tini hanya tersenyum saja mendengar perkataan majikannya. Ia senang melihat kedua majikannya terlihat mesra dan bahagia.


__ADS_2