
Malam harinya di sebuah kafe yang cukup mewah, pertemuan berlangsung seperti yang sudah dijanjikan oleh keluarga.
Kedua keluarga sudah sampai dan berkumpul dalam satu meja kecuali Devan. Ia memilih menyusul karena harus mengalami macet saat perjalanan berangkat dari rumah bapak dan ibunya.
Vania duduk diapit oleh Papa dan Kak Adit. Perasaannya sedang tidak karuan. Hatinya bergejolak antara ingin berontak dan pasrah oleh permintaan papanya. Namun, ia tetap mencoba tersenyum pada keluarga pak Satria yang ada di hadapannya.
Kedua keluarga itu saling mencairkan suasana yang terlihat lebih kaku dengan mengobrol santai sambil tertawa-tawa.
Hingga dua pelayan datang membawakan pesanan mereka yang lumayan banyak. Para pelayan itu menyuguhkan beberapa makanan dan minuman diatas meja pengunjungnya.
"silahkan dinikmati" ucap salah satu pelayan
"makasih ya mbak" kata bu Dewi pada dua pelayan itu
Pelayan itu tersenyum sopan dan sedikit membungkukkan badannya. Kemudian mereka meninggalkan pengunjung kembali ke tempatnya.
Mereka menghabiskan makanannya tanpa menunggu kedatangan Devan.
Vania tak lagi memiliki selera makan karena hati dan pikirannya tidak begitu tenang. Namun, ia tetap memasukkan beberapa suap makanan ke mulutnya karena tidak ingin menyinggung perasaan keluarga kaya itu.
Hingga makanan mereka habis, Devan belum juga muncul. Akhirnya mereka memilih untuk langsung membahas masalah perjodohan. Pak Satria dan istrinya yang mempunyai keinginan kuat dengan perjodohan itu begitu bersemangat membahas perjodohan pada pak Firman. Sedang bu Karina da Adit hanya sesekali menimpali pembicaraan mereka.
Vania hanya terdiam menundukkan kepalanya sambil memijat-mijat ponselnya yang ia letakkan diatas pangkuannya untuk mengirim pesan ke Nadya yang lebih tepatnya curhat.
Cukup lama Devan terlambat datang. Bu Dewi menghubungi putranya lewat telepon dan Devan mengatakan bahwa ia sudah sampai di parkiran kafe.
Devan datang dengan kewibawaannya. Meski tak lagi memakai jas kebesarannya, ia tetap nampak gagah dengan kemeja berwarna maroon dan celana hitam. Ia berjalan dengan tangan kanan yang dimasukkannya ke saku celana, semakin menambah kegagahannya.
__ADS_1
Semua orang tersenyum melihat kedatangan pria tampan itu. Namun, tidak halnya dengan Vania. Ia tetap sibuk menunduk dengan benda pipihnya. Bahkan lebih tepatnya ia tidak peduli dengan kedatangan Devan.
"selamat malam semuanya, maaf saya terlambat" sapanya saat sudah berdiri diantara dua keluarga itu.
"tidak apa-apa nak, kami bisa mengerti dengan kondisi jalanan ibu kota yang begitu padat. Ayo duduklah" kata pak Firman dengan senyum yang begitu hangat.
Devan duduk di kursi sebelah bundanya. Ia tertegun dengan pemandangan di hadapannya. Pandangan matanya sejurus mengarah pada gadis cantik yang mengenakan dress bunga-bunga dengan rambut panjang terurai rapi. Senyum Devan mengembang seketika. Meski tanpa mengangkat kepalanya, gadis itu nampak begitu cantik dan anggun.
Adit yang menyadari ekspresi Devan menyenggol bahu adiknya berusaha untuk menyadarkan kalau seseorang yang ditunggu telah datang.
"apa sih kak" gumam Vania pelan karena merasa terganggu
"lepaskan ponselmu, dia ada di depanmu" bisik Adit.
Vania spontan mengikuti perintah kakaknya. Ia terkejut melihat pria yang duduk dihadapannya hanya terhalang meja besar.
"sayang, kenalkan ini putra tante" kata bu Dewi setelah Vania mengangkat kepalanya.
"betul sayang, dia putra kami Devan Satria Atmadja"
Vania tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak pernah membayangkan jika lelaki yang dulu paling dibencinya itu akan dijodohkan dengannya. Lelaki yang dulu selalu mengganggu ketenangannya. Namun sebenarnya bukan itu alasan utama Vania menolak perjodohan ini.
Vania menoleh ke arah papanya. Tanpa bicara sepatah mata pun. Wajahnya memelas seolah-olah menolak perjodohan itu. Namun orang-orang disana tak lagi peduli dengan sikap.yang Vania tunjukkan. Mereka sibuk dengan candaan masing-masing.
Devan yang menyadari penolakan Vania hanya terdiam. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Alasan yang begitu kuat bahwa Vania membencinya.
Devan menundukkan kepala. Bibir yang semula melengkung karena senyum yang begitu sumringah berubah seketika. Wajahnya menjadi murung. Nampak kesedihan disana. Tak lagi memikirkan rasa malunya, Devan meminta ijin untuk berbicara empat mata dengan Vania.
__ADS_1
"maaf... boleh saya berbicara empat mata dengan Vania?" tanya Devan ke mama dan papa Vania.
"wah... putra kita sudah tidak sabar ini Yah" celoteh bunda Dewi meledek putranya membuat semua orang yang ada disana tertawa kecuali Vania dan Devan.
"silahkan nak Devan" kata papa Firman mempersilahkan
"tapi bukan disini oom, saya ingin mengajaknya pergi keluar. Dan saya janji akan mengantarkannya pulang sebelum sebelum larut" Ekspresi muka Devan hanya datar. Nampak keseriusan di wajahnya.
Semua orang terdiam seketika. Mereka saling menebak di dalam hati. Ada sesuatu yang Devan ingin bicarakan tanpa diketahui oleh keluarga.
Pembicaraan mulai serius. Mereka tidak berani banyak bicara karena takut akan menyakiti perasaan Devan.
"kalau Vania mau, oom sama sekali tidak keberatan"
"bagaimana Vania" tanya Devan beralih menoleh ke Vania.
Vania diam sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya pelan menyetujui permintaan Devan untuk pergi berdua.
"baiklah...oom percayakan putri oom sama kamu" kata papa Firman ke Devan.
Sejurus kemudian Devan mendekati Vania dan mengulurkan tangannya. Vania yang mengerti maksud itu, dengan ragu-ragu ia menerima uluran tangan Devan lalu berdiri.
"terimakasih" kata Vania pada Devan. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Devan
"permisi semuanya" lanjutnya permisi kepada dua keluarga yang hadir disana.
Mereka berdua berjalan keluar kafe beriringan tanpa saling menyentuh. Vania tampak gugup dan bingung saat harus sedekat itu dengan Devan.
__ADS_1
Sesampainya di parkiran kafe, Devan membukakan pintu mobil sebelah kiri dan meminta Vania untuk masuk. Kemudian ia berjalan memutari mobilnya untuk duduk di belakang kemudi. Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Vania begitu penasaran kemana arah Devan akan membawanya. Namun, wajah serius Devan membuatnyaitidak punya keberanian untuk bertanya.