Cinta Vania

Cinta Vania
Episode 40 Kambuh


__ADS_3

Devan sampai di rumahnya sore hari. Kedatangannya sudah ditunggu oleh bundanya sejak siang tadi.


"assalamualaikum bunda" sapa Devan saat mendapati bundanya duduk di sofa tamu


"waalaikumsalam kamu dari mana saja sih. tadi katanya habis makan siang langsung pulang, ini kok sampai jam setengah 5 sore" kata bunda cemas


Devan mencium pipi bundanya dan kemudian duduk disampingnya.


"Maafin Devan bund"


Devan kemudian menceritakan kejadian yang baru dialaminya tanpa terlewatkan. Tentang keluarga baru dan kekasih dari gadis incarannya. Bunda mendengarkan cerita Devan dengan seksama.


"kasihan sekali dia, bunda jadi ingin bertemu dengannya termasuk ibu barumu" kata bunda sedih karena kasihan dengan nasib keluarga baru putranya.


"kalau bunda mau besok bunda bisa ikut Devan nganter mereka ke rumah sakit"


"boleh, bunda mau" jawab bunda antusias


"makasih bunda, Devan pikir bunda akan marah mendengar ceritaku" kata Devan tersenyum


"bunda justru bangga sama kamu, kamu sudah tumbuh jadi pria dewasa, punya tanggung jawab dan mau membantu orang lain. bunda akan selalu mendukungmu, apapun itu asal sesuatu yabg positif" kata bunda mengusap lengan putranya


Mereka berdua saling melempar senyum. Tampak keakraban ibu dan anak yang sangat harmonis.


"jadi siapa gadis itu? apa gadis yang dulu pernah diceritakan Andre? " tanya bunda


Devan mengkerutkan alisnya mendengar pertanyaan bunda "emang Andre cerita apa saja ke bunda?"


"nggak ada, dia cuma cerita kalau kamu suka sama seorang gadia tapi sayangnya gadis itu sudah punya pacar, itu juga dulu banget waktu kamu masih SMA"


"iya bunda benar"


"jadi siapa gadis itu?"


"namanya Vania bund"


Bunda mengingat-ingat nama yang disebut oleh Devan. Nama yang hampir mirip dengan putri pak Firman dan bu Karina.

__ADS_1


"tapi kayaknya nggak mungkin deh, mungkin cuma kebetulan" gumam bunda pelan


"bund,,, bunda,,, " Devan melambaikan tangannya tepat di depan wajah bunda yang melamun


"eh iya gimana" tanya bunda gelagapan


"bunda ngelamunin apa sih?"


"eng...enggak ada, dia pasti gadis yang cantik" kata bunda mengalihkan


"sangat cantik... dia wanita kedua yang aku sayangi setelah bunda" kata Devan tersenyum


"bikin bunda penasaran saja kamu ini"


"kalau dia memang benar milikku, aku pasti mengenalkannya sama bunda"


"ya sudah sekarang masuklah ke kamarmu dan bersihkan badanmu yang bau itu" ejek bunda


Devan mencium aroma tubuhnya muladi dari dalam jas sampe ketiaknya, "nggak bau kog"


Bunda terkekeh mendengar Devan yang salah tingkah.


Devan kemudian meninggalkan bunda dan berlalu menuju kamar.


Baru saja Devan selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dia sudah buru-buru keluar dari kamar dan menuruni anak tangga.


"bunda, Devan pergi dulu" teriak Devan buru-buru setelah melihat bunda tengah di meja makan hendak mempersiapkan makan malam


"lho, kok udah mau pergi lagi aja, nggak makan malam dulu? ayah sebentar lagi pulang lho" tanya bunda menoleh


"nggak keburu bund, nanti Devan makan diluar aja" jawabnya sambil memakai jaketnya


"mau kemana sih"


"Ditya bund, kata ibu tadi kepalanya tiba-tiba sakit dan dia pingsan. Devan takut penyakitnya makin parah" kata Devan sambil mencium tangan bunda


"ya sudah hati-hati, salam buat ibu dari bunda. kamu jangan ngebut lho" kata bunda sedikit berteriak karena putranya berlari hampir menjauh dari posisinya berdiri

__ADS_1


Devan hanya menjawabnya dengan mengangkat tangannya tanpa menoleh.


Karena malam itu jalanan tidak seramai biasanya, ia bisa sedikit mempercepat laju mobilnya. Hanya butuh dua puluh menit untuk sampai di rumah ibunya.


Dengan cepat Devan turun dari mobil dan memasuki rumah sederhana itu.


"gimana dengan Ditya bu?" tanya Devan saat mendapati ibu dan bapak sedang menangis di samping Ditya yang berbaring di kasurnya.


"dia belum sadar juga nak" jawab ibu tersedu-sedu.


"sebentar ya bu" kata Devan yang diangguki oleh ibunya.


Devan keluar dari kamar Ditya dan sibuk dengan benda pipihnya. Ia menghubungi dokter Niko yang bertugas sebagai dokter pribadi di keluarganya. Ia menjelaskan kondisi dan masalah yang dihadapi saudara barunya itu. Dokter Niko menyarankan Devan untuk membawa Ditya ke rumah sakitnya. Rumah sakit besar yang 50% sahamnya dimiliki oleh keluarga Devan.


Devan segera menyampaikan pesan dari dokter yang telah dihubunginya. orangtua Ditya pun mengiyakan. Mereka sangat bersyukur ada seseorang yang dengan sigap membantunya. Devan segera mengangkat Ditya ke mobil dibantu oleh bapak. Ditya dibaringkan di jok belakang dengan kepalanya dipangku oleh ibu. Sedang bapak duduk di jok depan samping Ditya.


Mereka segera menuju rumah sakit yang jaraknya hampir satu jam.


Sesampainya di rumah sakit, para suster dan pesawat sudah siap menunggu kedatangannya dengan menyiapkan brankar dorong sesuai perintah yang telah dokter Niko.


Dengan sigap Ditya segera dibawa ke ruang UGD untuk ditangani oleh dokter Niko dan beberapa dokter lainnya termasuk dokter yang menangani penyakit kanker dan penyakit dalanlm.


Devan dan orangtua Ditya diminta untuk menunggu di luar. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Devan melihat wajah sedih dari kedua orangtua barunya. Ia mendekati mereka mencoba menenangkan


"pak, bu, sabar ya...kita doakan yang terbaik untuk Ditya" kata Devan mengelus punggung bapaknya.


"makasih nak Devan, Ibu sudah menceritakan semuanya sama bapak. Bapak bersyukur kami bisa bertemu dengan orang baik seperti nak Devan" kata bapak dengan suara berat karena menahan tangis


"pak, saya juga putramu. saya juga ingin membahagiakan orangtua saya" kata Devan


Bapak langsung memeluk Devan. Ia menumpahkan tangis dan kesedihannya di pelukan Devan.


"menangislah pak jika itu membuat bapak lega, jangan pernah ditahan, kita semua akan melakukan apapun demi kesembuhan Ditya" kata Devan.


pintu ruang UGD dibuka oleh dokter Niko, membuat kedua pria itu melepaskan pelukannya dan menghampiri dokter Niko.


"gimana dok?" tanya Devan

__ADS_1


"kami akan memindahkannya di ruang ICU, kalian bisa ikut saya ke ruangan dokter Ricky" kata dokter Niko sambil membwrikan isyarat tangan agar mengikuti dokter Ricky yang bertugas sebagai dokter spesialis onkologi.


Mereka bertiga berjalan mengikuti langkah dokter Niko. Sampailah mereka di salah satu ruangan dokter bertuliskan dokter Ricky Andreas (spesialis kanker) di bagian luar pintu.


__ADS_2