Cinta Vania

Cinta Vania
episode 16 Semerah tomat


__ADS_3

Malam ini terasa sempurna kebahagiaanku. Aku tidak akan pernah melupakan malam yang indah ini. Malam di mana Aku mendapatkan balasan atas cinta pertamaku. Ditya, pria tampan yang akan mengisi hari-hariku dengan senyuman.


Aku yakin malam ini akan ku lalui dengan tidur yang sangat nyenyak dan mimpi yang indah.


*****


Keeoskan paginya, Ditya menjemputku dengan motor maticnya untuk berangkat sekolah bersama.


sesampainya di sekolah aku memilih berjalan beriringan dengan Nadia menuju kelas dan meninggalkan Ditya yang sedang memarkirkan kendaraannya.


"lu tumben-tumbenan berangkat sama Ditya" tanya Nadya heran. Aku hanya tersenyum tanpa menjawabnya


"eh lu kesambet ya.. ditanya bukannya jawab malah senyum-senyum sendiri" lanjutnya semakin penasaran.


"udah ah.. nanti aja gue ceritain"


"janji lu ya... awas kalau bohong.."


Kami duduk di bangku setelah memasuki kelas. Nadya sedari tadi terus menatapku penasaran seolah-olah menunggu jawaban.


"cepetan lu cerita sebelum makin banyak anak yang masuk" sesak Nadya


"tadi malem Ditya nembak gue" jawabku tersenyum malu


"hah...beneran? terus...terus..?" tanya Nadya semakin penasaran


"ya gue terima lah.."


"jadi kalian resmi pacaran?" tanya Nadya memastikan. aku mengangguk sambil tersenyum.


"iiiihhhhh....senengnya yang udah nggak jomblo lagi.. gue harus siap-siap membiasakan diri ni kayaknya"


"apaan?"


"ya. .siap-siap sering pulang sendirian" lanjutnya sedih


"jangan gitu donk mak...nggak tiap hari juga aku pulang bareng Ditya. aku juga bakal sering-sering nemenin kamu pulang kok, janji..." kataku sambil mununjukkan jari kelingking kearahnya agar dia juga melingkarkan dengan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian. Dia pun mengikutinya dan kemudian tersenyum.


Tak lama kemudian Sherin dan Ditya datang bersamaan dengan para siswa lainnya. Ditya tersenyum manis saat melewatiku.


"uluh...uluh ..yang baru jadian..please deh jangan bikin jiwa jombloku meronta" sindir Nadya


"eh emang siapa mak yang habis jadian" tanya Sherin yang baru saja duduk di bangkunya


"tuh....sama tuh...." jawab Nadya menunjuk ke arahku dan ditya dengan dagunya

__ADS_1


"sumpeh lu mak?"


"sumpeh....sampe tumpeh-tumpeh" jawab Nadya sambil bercanda


Aku yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. Kemudian tiba-tiba Pak Hadi memasuki kelas untuk mengajar karena bel sekolah sudah berdering sejak tadi saat kami sedang mengobrol.


"pokoknya gue tunggu traktirannya" kata Sherin menoleh cepat kearahku. Aku manganggukinya dan kemudian menoleh kearah Ditya yang duduk dibelakangku. Kami saling melempar senyuman.


Tiba waktu istirahat, aku meninggalkan Ditya pergi ke kantin bersama Nadia dan Sherin. aku masih merasa canggung dan malu untuk berhadapan dengannya disekolah sejak kejadian kemarin.


Setibanya di kantin aku benar-benar ditodong oleh kedua sahabatku itu.


"udah.. pesen aja semua makanan yang kalian suka, sebanyak yang kalian mau, asal perut kalian muat.... sampai muntah-muntah juga nggak nggak apa-apa sih...hahaha". kataku sambil tertawa


"bener lho ya" jawab Sherin meyakinkan. Aku aku hanya mengangguk menyanggupinya.


mereka tampak girang dengan jawabanku. kemudian bergegas menuju mang Ujang setelah menerima dua lembar uang ratusan dariku untuk memesan makanan.


Sekembalinya mereka berdua, kami bercanda tawa sampai menunggu pesanan datang. Tiba-tiba Ditya datang mendekatiku, "hai, , susah sekali hanya untuk berbicara denganmu di sekolah" kata Ditya. Aku hanya tersenyum menoleh kearahnya.


"ehmmm..ehmmmm...." sindir Sherin pura-pura berdehem. "mentang-mentang ya udah pacaran...jangan bikin kita ngiri" lanjutnya. Aku dan Ditya hanya terkekeh mendengarnya.


"nanti pulang bareng ya.." kata Ditya tiba-tiba. Aku tak menjawabnya. Aku menoleh ke Nadya, berusaha meminta jawaban tanpa pertanyaan.


"ih ngapain lu kiatin gue...yang ditanya itu elu, bukan gue" kata Nadya


"ya nggak apa-apa lah Van, gue berani kog..lagian mana ada yang mau nyulik gue, hehehe" jawab Nadya cengengesan. Aku menoleh ke Ditya dan mengangguk pelan.


"baiklah..aku kembali dulu sama yang lain" pamit Ditya dan beranjak pergi tanpa menunggu jawaban.


"ciee..ciee....mukanya merah tu..udah kaya tomat" goda Sherin membuatku semakin malu.


Tak lama kemudian mang Ujang menghampiri kami membawa banyak makanan. Tak lupa kuucapkan terimakasih padanya.


"kalian yakin akan menghabiskan semua ini?" tanyaku heran, mereka hanya mengangguk cepat san menahan tawa. Aku melihatnya hanya menggelengkan kepala.


Kami menikmati makanan pesanan kami. Sherin dan Nadya benar-benar mampu menghabiskan semuanya.


*****


*DEVAN


Devan hari ini berangkat ke sekolah hanya untuk mengambil persyaratan pindahnya di sekolah lamanya dan berpamitan dengan guru serta kawan-kawannya.


Surat pindahnya yang diajukan oleh pak Tio sudah mendapatkan persetujuan dari sekolah barunya.

__ADS_1


Saat berdiri di depan kelas untuk mengucapakan salam perpisahannya. Ia mencari sosok Sita yang sedari tadi tidak dijumpainya. Ia mulai bertanya-tanya.


Setelah selesai melakukan kegiatan terakhirnya di sekolah itu, ia kembali menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Didalam mobil, ia tidak segera menghidupkan mesinnya. Ia meraih benda pipih di saku celananya dan mencari kontak Sita.


tuutttt...tuuuttt...tuuutt...


"hallo Van, ada apa?"


"kamu kenapa nggak masuk?"


"iya.. aku ijin..aku lagi nemenin mama ke rumah nenek. Hari ini tepat 1 tahun meninggalnya kakekku"


"oo...kirain ada apa"


"emang kenapa? kamu ngarepnya aku nangis dan frustasi gitu setelah kamu tolak? hahaha"


"hahaha....bukannya gitu, tumben-tumbenan aja kamu nggak ada di kelas"


"terus ada apa kamu nelpon aku? pasti penting ya?"


"emmmm... enggak...aku cuma mau pamit aja sebelum kembali ke jakarta"


"jadi pindah?"


"iya" Devan menjawabnya sambil mengangguk, walaupun ia tahu Sita juga tidak tidak akan bisa melihatnya


"ya udah kamu hati-hati ya, hubungi aku kalau mau main ke Bandung lagi"


"iya" kata devan kemudian langsung mematikan panggilannya.


Devan kembali ke rumah omah untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya. Karena siang ini juga dia akan kembali ke Jakarta.


"kamu sudah selesai sayang?" tanya omah saat melihat Devan bermain ponsel. Lalu ia meletakkan kembali ponselku.


"sudah omah"


"ya sudah nanti biar diantar sama supir pribadi omah. jam 1 siang nanti kalian akan berangkat. omah sudah menyiapkan mobil sport barumu di Jakarta"


"tak perlu berlebihan oma... di rumah juga masih ada mobil nganggur" tolak Devan sopan


"jangan pernah membantah dan menolak pemberian oma" tegas oma yang membuat Devan merinding takut


"maaf oma"


"terima saja.. lagipula pada siapa lagi oma memberi kalau bukan kamu sebagai cucu oma satu-satunya" lanjut oma.

__ADS_1


Oma adalah orang yang tegas dan suka bertindak cepat. Termasuk pada Devan. Sikap tegas oma bukan karena dia orang yang kejam. Dia hanya ingin menumbuhkan sifat pemberani dan tak mudah menyerah pada diri cucu satu-satunya itu agar tumbuh menjadi pria yang tangguh dan bertanggung jawab.


__ADS_2