Cinta Vania

Cinta Vania
Istriku Bukan Barang


__ADS_3

Suara langkah kaki memasuki ruang meeting membuat semua orang yang berada disana mengalihkan pandangan menuju arah pintu tak terkecuali Devan dan Vania yang sudah berdiri untuk menyambut kedatangan klien.


Seorang lelaki memasuki ruang meeting bersama bawahannya. Devan tersenyum menyambutnya. Berbeda dengan istrinya, Lelaki berkacamata hitam yang baru datang itu nampak tak asing membuat Vania terkejut dan takut. Ia memegang lengan suaminya dan mencengkeramnya. Devan yang menyadari langsung menoleh ke Vania.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Devan ke Vania setengah berbisik.


Namun Vania hanya diam ketakutan dengan tubuh yang bergetar. Bahkan kini ia memundurkan langkahnya bersembunyi di balik tubuh kekar suaminya.


"Apa kabar, tuan Devan? Senang bisa bertemu kembali dengan anda dan istri anda yang cantik jelita ini" sapa pria itu dengan senyum menyeringai.


Devan memicingkan matanya mulai menaruh curiga dengan perkataan lelaki itu karena ia sendiri merasa baru pertama kali bertemu dengan pengusaha muda itu.


"Maaf, apa kita saling mengenal sebelumnya?" tanya Devan.


"Tentu saja, apalagi dengan istri anda ini" jawabnya dengan menarik salah satu bibirnya dan melirik ke Vania.


Devan menoleh ke istrinya yang semakin gemetar ketakutan. Bahkan sebagian wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat dingin meskipun berada di ruangan ber-AC. Devan menyentuh jemari Vania yang mencengkeram lengannya. Memberikan maksud agar istrinya tetap tenang.


"Siapa anda sebenarnya? Kenapa anda membuat istri saya ketakutan" tanya Devan semakin penasaran.


"Tenang saja, tuan. Kita bersantai sejenak. Apa kau tak ingin mempersilahkan tamu agungmu ini untuk duduk?" ucap lelaki itu dengan santainya.


"Baiklah, silahkan duduk" kata Devan ragu-ragu mempersilahkan tamunya.


Semuanya duduk kembali di kursi yang sudah disediakan. Pun dengan lelaki berkacamata hitam itu. Ia memilih duduk tepat berhadapan dengan Vania yang terhalang meja besar berukuran persegi panjang.


Vania semakin ketakutan dan tak berani menampakkan wajahnya karena lelaki yang dihadapannya. Bahkan kini Devan mendengar samar-samar suara isakan istrinya dari balik punggungnya.


"Apa kau ingin menunggu di ruanganku saja, sayang?" tanyanya pelan ke Vania dan Vania mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa anda ingin pergi, Nona. Bukankah tidak masalah jika anda menemani suamimu yang tercinta ini untuk menemui kliennya" sahut lelaki itu karena mendengar obrolan pasangan suami istri yang ada di hadapannya.


"Maaf, pak. Saya tidak mengerti dengan maksud anda. Lebih baik langsung saja ke intinya" jawab Devan dengan tatapan dingin.


"Anda tergesa-gesa sekali, tuan. Oo iya lupa, kerjasama ini akan sangat menguntungakan bagi perusahaan anda" katanya dengan nada meremehkan.


"Langsung saja perkenalkan diri anda. dan katakan apa tujuan utama anda" kata Devan karena sudah mulai kesal.


"Baiklah karena anda terus memaksa, saya akan memperkenalkan diri" katanya yang kemudian melepaskan kacamata hitam yang melingkar di wajahnya dan memberikannya pada bawahannya.


Devan mengernyitkan dahinya melihat lelaki yang kini ada di depannya. Wajahnya memang nampak tak asing, namun ia tak ingat siapa.


"Apakah anda sudah ingat siapa saya? Saya Leo, orang yang sudah anda jebloskan ke penjara selama beberapa tahun lalu" kata Leo dengan wajah emosi mengingat perlakuan Devan yang sudah menjebloskannya ke penjara selama dua tahun atas kasus pelecehan seksual dan rencana pemerkosaan. Dan yang membuatnya marah adalah tak ada satupun yang bisa menjamin kebebasannya karena semua sudah diatur oleh Devan. Sehingga ia dan Alex terpaksa harus mendekam di jeruji besi selama dua tahun. Berbeda dengan Alex yang tak berani bertindak untuk membalas dendam pada Devan karena penghasilan keluarganya yang berada di naungan SA Group. Leo yang mampu meneruskan bisnis orangtuanya hingga berkembang pesat itu memilih untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada Devan.


"Leo? penjara?" kata Devan mengulang perkataan Leo. Ia kembali berfikir dan mengingat kejadian lampau. "Oo...pantas saja istri saya ketakutan melihat baj*ngan seperti anda" kata Devan dingin.


"Sekarang katakan apa maumu" kata Devan mencoba bersikap setenang mungkin.


"Simple saja. Bisnis ini akan membawakan keuntungan besar bagimu, namun tidak bagiku. Keuntungan yang akan ku dapatkan biasa saja. Jadi aku mau satu syarat" kata Leo santai


"Apa syaratnya"


"Mudah... Serahkan istrimu. Aku akan langsung menandatangani kontrak kerja ini"


"Tutup mulutmu. Aku tidak suka caramu menggunakan bisnis untuk balas dendam" kata Devan dengan emosi yang tak lagi bisa ia tahan.


Devan menggenggam erat jari istrinya yang melingkar di lengannya. Wanita itu semakin ketakutan dan menangis. Merasa sangat kasihan, Devan meminta Ronald untuk membawa Vania keluar ruangan dan membawanya ke ruang kerjanya agar ditemani Lia.


"Kenapa harus menyuruh istri anda pergi? Anda takut?" tanya Leo dengan tawa meremehkan.

__ADS_1


Devan tak lagi memperdulikan ejekan dari lawannya. Ia hanya diam sambil menunggu istrinya keluar ruangan. Ia menunggu Ronald kembali untuk memastikan istrinya sudah aman.


"Sudah?" tanya Devan pelan ke Ronald yang baru saja kembali. Ronald menjawabnya dengan mengangguk pelan.


"Jika tujuan anda menjalin kerjasama hanya untuk menghancurkan rumah tangga saya, anda salah besar" kata Devan ke Leo.


"Apa anda yakin? Bahkan saya bisa memberikan berapapun yang anda mau, asal Vania menjadi milikku. Satu triliun? Lima triliun? Atau aset besar?"


Devan menggertakkan giginya karena emosi mendengar penghinaan yang Leo lakukan.


"Istriku bukan barang yang bisa ditukar dengan uang. Simpan saja hartamu".


Leo tertawa. "Hahaha... Tidak perlu munafik, tuan Devan. Saya tahu anda sangat membutuhkan kerjasama ini untuk mengembangkan proyek besar anda London".


"Tak peduli seberapa penting kerjasama ini. Tapi perlu anda ingat, Aku tidak akan pernah menyetujui apa yang anda mau. Dan mengenai kerjasama ini, lupakan. Saya tidak butuh bekerja sama dengan baj*ngan seperti anda".


"Anda berani menolak permintaan dari orang hebat seperti saya" ucap Leo marah.


"Saya tak peduli siapapun anda dan seberapa hebat anda. Tapi ini wilayah saya. Saya tidak suka anda bertingkah semau anda. Dan karena kerjasama ini tidak akan pernah terlaksana, saya minta anda untuk pergi dari gedung ini" kata Devan mengusir Leo dan bawahannya untuk pergi.


"Berani kau mengusirku" marah Leo dengan memelototkan matanya.


"Tentu. Saya tidak ingin orang jahat seperti anda berlama-lama berada di perusahaan saya" kata Devan dengan sindiran tegasnya.


Devan berdiri dari duduknya dan mengarahkan tangannya untuk mempersilahkan Leo pergi.


"Ingat, tuan Devan. Semua ini belum berakhir. Aku tidak akan pernah menerima penghinaaan ini. Aku akan membuat perhitungan dengan anda" kata Leo geram dan berdiri. Dan kemudian pergi melewati Devan dengan setumpuk emosi dan kemarahan dalam wajahnya.


Devan tak lagi peduli. Ia sudah tidak ingin menjawab ucapan lelaki sombong yang baginya tidak penting.

__ADS_1


__ADS_2