
Author up 3 episode untuk hari ini biar ceritanya nggak keputus ya dear....
Jangan lupa like, komen dan Vote nya jika kalian suka dengan cerita author.
GRATIS KOK....!!!!
Jujur author sedikit galau waktu menulis part ini, nggak bisa nahan tangis waktu nulisπ.
Yang mudah Baperan, siapkan tisu sebelum baca, karena part 103 dan 104 akan menguras emosi dan air mata para readers.
Terimakasih,,,
Salam Sayang Selalu,πππ
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi-pagi sekali Adit berangkat ke rumah sakit untuk melihat kondisi papanya. Tak lupa ia menitipkan Renata di rumah ibunya agar istrinya tidak kesepian.
"Mama sama Vania pulanglah dulu, biar Adit yang menemani papa"
"tidak Dit, mama mau disini saja menemani papamu" kata mama Karina sambil menggenggam tangan suaminya.
"Vania juga" sahut Vania
Adit menghela nafas kasar, "baiklah kalau itu mau kalian, aku tidak akan memaksa, biar nanti aku suruh orang rumah untuk mengantar baju ganti kalian" kata Adit.
Tak lama kemudian datang seorang laki-laki diikuti oleh mang Udin yang membawakan baju ganti majikannya. Lelaki itu adalah kakak kandung Mama Karina, namanya paman Teguh. Dia adalah paman satu-satunya yang dimiliki oleh Adit dan Vania karena papanya adalah seorang anak tunggal.
Kondisi pak Firman masih sama seperti semalam. Ia masih belum sadar. Meski sudah melewati masa kritisnya, namun dokter mengingatkan untuk tetap waspada dan tetap saling bergantian jaga.
Siang harinya pak Satria dan bu Dewi menuju ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya itu setelah mendapatkan kabar dari Devan.
Sesampainya di ruangan pak Firman di rawat, Sepasang suami istri itu menyapa orang-orang yang ada disana.
Mereka saling mengobrol tentang kejadian yang menimpa pak Firman. Pembicaraan mereka terhenti ketika Vania memanggil mamanya dan mengatakan jari-jari tangan papanya bergerak.
Semua orang yang ada disana pun menghampiri Vania dan papanya.
Adit dengan cepat menekan tombol yang ada di sebelah ranjang papanya agar dokter segera datang.
Tak lama kemudian dokter Kevin dan seorang perawat datang. Ia memeriksa kesehatan pak Firman dengan meneliti lewat alat bantu dan monitor yang ada disana. Dokter juga memeriksa jantung dan pernafasan pak Firman dengan stetoskop.
__ADS_1
Dokter melepas stetoskop dari telinganya setelah memeriksa.
"bagaimana dok?"tanya Adit
"bisa kita bicara sedikit menjauh dari pasien?" tanya balik dokter yang diangguki oleh Adit.
Mereka duduk di sofa yang letaknya agak jauh dari ranjang pasien. Semua orang ikut mendekat kecuali Vania. Ia memilih tetap duduk di samping tempat tidur papanya.
"begini tuan dan nyonya, sebenarnya pasien bisa mendengar apapun yang ada di sekitarnya, itu sebabnya saya minta sedikit menjauh. Pasien hanya belum bisa merespon secara langsung dengan berbicara. Dan disini saya ingin menyampaikan bahwa perkembangan paru-parunya semakin memburuk" kata dokter.
Mama Karina menangis mendengar penjelasan dokter. Ia berfikir keadaan suaminya mulai stabil. Namun kenyataannya justru sebaliknya.
"dokter, papa bangun" teriak Vania yang mengejutkan semua orang disana.
Dokter setengah berlari menghampiri Pak Firman yang nampak membuka mulutnya hendak bicara.
Begitu juga yang lain, mereka ikut mendekat ke arah ranjang.
"pasien ingin berbicara sesuatu" kata dokter.
"papa" panggil mama Karina
"ma...af...kan...papa" kata papa Firman terbata-bata
"Va..nia, putriku"
"Vania disini, papa"
"Papa ingin memenuhi keinginan terakhir papa, tapi itu tidak mungkin"
"papa harus sehat, Vania sayang papa"
"menikahlah di samping papa"
Semua orang terkejut dengan pesan terakhir yang diucapkan papa Firman. Sementara mama Karina semakin tak bisa menahan air matanya. Ia tidak tega melihat orang yang dicintainya tak berdaya.
"Pa, papa nggak usah mikirin itu dulu. Vania pasti menikah setelah papa sehat"
"menikahlah dengan Devan" kata papa memaksa. Namun terdengar lemah.
Semua orang yang ada disana terdiam. Mereka tak menduga pak Firman mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"mana nak Devan, papa mau bicara" katanya pelan dengan masih terbata-bata.
"bentar ya Fir, aku hubungi dia dulu" kata pak Satria yang kemudian meminta istrinya untuk menghubungi putranya.
Bu Dewi sedikit menjauh untuk menghubungi putranya.
"hallo sayang, kamu dimana?"
"aku lagi di jalan sama ibu dan bapak mau rumah sakit, bund"
"masih lama kah?"
"mungkin lima menit lagi sampai, ada apa bund?
"cepatlah kemari, Oom Firman mencarimu"
"baik bund"
Panggilan terputus, Bu Dewi kembali mendekati orang-orang disana yang sudah menunggu jawabannya.
"dia sudah perjalanan kesini bersama bu Wati san suaminya. Lima menit lagi mungkin sampai" kata bu Wati yang membuat orang-orang lega.
Beberapa menit kemudian Devan datang dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari. Ia pun mendekati ranjang tempat pak Firman berbaring. Dan tak lama kemudian pak Yanto dan bu Wati memasuki ruangan.
"Oom, Devan disini" panggil pelan Devan yang melihat pak Firman terpejam.
Pak Firman membuka pelan matanya saat mendengar suara pria yang dicarinya.
"Nak, menikahlah dengan putri Oom, Oom tahu kamu masih mencintainya, Oom ingin melihatnya menikah" suara pak Firman terdengar semakin berat.
"Oom saya janji akan menikahi putri Oom, tapi Oom juga harus sembuh" jawab Devan yang membuat Vania terkejut dan menatapnya.
"aku ingin ada di sisinya saat dia menikah" kata pak Firman dengan nafas yang semakin tak beraturan.
"papa..." teriak Vania karena melihat nafas papanya mulai melemah.
Paman Teguh segera mendekati kepala adik iparnya. Ia mengusap pucuk kepala adik iparnya dan memegang tangannya sambil menuntun untuk membacakan syahadat. Semua orang tak mampu membendung air matanya.
"Asyhadualla Ilaahailallah" kata paman Teguh pelan-pelan menuntuk
"asy...ha..du...alla..ilaa..ha..illallah" nafas pak Firman terhenti seketika setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Vania menjerit histeris sementara mama Karina tak sadarkan diri. Bahkan Adit, orang yang paling kuat diantara mereka merasa lemas dan duduk di lantai dengan telepak tangan yang menutup seluruh wajahnya.
Pak Satria dan pak Yanto segera menolong bu Karina dan menidurkannya di atas tempat tidur untuk keluarga pasien yang dipakai Vania tidur tadi malam untuk di periksa oleh dokter Kevin yang masih ada di sana. Sedang Bu Dewi dan Bu Wati memenangkan Vania dengan memeluk gadis yang tengah menangis histeris memanggil nama papanya. Sementara pak Teguh menguatkan Adit agar tidak terlalu larut dalam kesedihan dan menjadi semangat bagi mama dan adiknya.