Cinta Vania

Cinta Vania
Tolong jangan bahas itu lagi


__ADS_3

"Aku mampu menunggu sesuatu yang belum pasti bertahun-tahun lamanya. Dan kini sesuatu yang sudah menjadi milikku, tak akan ku lepaskan dan akan tetap ku jaga. Jangan paksa aku untuk menjauh. Karena aku tak akan mungkin bisa melakukannya" imbuhnya.


"Terserah. Sekarang pergilah. Aku tidak ingin melihatmu. Biarkan aku sendiri" kata Vania tanpa memperdulikan suaminya.


Devan berdiri. Ia mengecup puncak kepala Vania.


"Baiklah aku akan ke kantor. Jaga dirimu baik-baik" kata Devan dengan berat hati.


Selepas kepergian Devan, Adit menemui adiknya. ia sudah merasa geram dengan tingkah laku Vania.


"Kamu itu harusnya bersyukur mempunyai suami seperti Devan. Dia sangat mencintaimu dan mampu menerima semua yang ada pada dirimu. Tapi kenapa kamu justru terus menyakitinya dengan sifat keras kepalamu? Apa lagi sikapmu kemarin. Apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan orangtuanya? Mereka juga mertuamu, dek. Tapi kamu seakan tak menganggapnya ada. Dimana pikiranmu itu" kata Adit mulai tak bisa mengendalikan diri.


"Kakak nggak ngerti gimana perasaan aku kehilangan bayiku" bantah Vania dengan Isak tangisnya.


"Kakak ngerti. Orangtua mana yang tidak sedih kehilangan anaknya. Tapi apa kamu juga memikirkan suamimu? Bukan hanya kamu yang sedih, dia juga"


Renata yang mendengar suara suaminya marah-marah segera menyusul ke kamar Vania dan melerai.


"Sudah, Pa. Sudah... Biarkan Vania tenang dulu. Sekarang bukan waktunya untuk adu mulut" kata Renata memegang lengan suaminya dan menariknya pelan untuk keluar.


*****


Vania masih teguh pada pendiriannya. Ia tetap tak mau menemui Devan meski lelaki itu tiap hari selalu datang untuk menengok.


Seminggu setelah kepulangannya dari rumah sakit, Vania memutuskan untuk mengemas barang-barangnya ke dalam koper. Ia berniat pergi meninggalkan rumah yang sudah membesarkan dirinya.


"Kamu mau kemana, nak?" tanya Mama Karina memasuki kamar putrinya dan melihat Vania menyusun pakaian ke dalam koper.


Vania berdiri, ia meraih kedua tangan mamanya.


"Ma, ijinkan aku pergi"


"Kemana? Mama akan mengijinkan jika kamu akan pulang ke rumahmu"


Vania menggeleng lalu menjawab, "aku ingin menenangkan diri dan mencari kebahagiaanku, ma".


"Apa maksudmu? Mama nggak ijinkan. Mama akan menghubungi suamimu" kata Mama marah.

__ADS_1


"Ma, please Ma... Aku janji akan pulang saat pikiranku tenang. Aku janji akan selalu menghubungi mama"


"Tidak bisa seperti itu, Vania. Kamu sekarang tanggung jawab suamimu. Pamitlah dulu padanya. Bukan pada mama" kata Mama mulai meninggikan suaranya. "Mama selalu berusaha untuk mengikuti semua keinginanmu. Tapi tidak untuk sekarang" lanjutnya dengan sangat marah.


Adit bersama Renata yang baru keluar dari kamar menggendong putrinya menghampiri kamar Vania karena mendengar suara keras mamanya.


"Ada apa, ma?" Adit melihat tumpukan pakaian yang tersusun di koper. "Apa maksud semua ini, Dek?" imbuh Adit menoleh ke adiknya.


"Dia ingin pergi menenangkan diri, katanya" jawab Mama Karina dingin.


Vania berlutut di bawah kaki mamanya. Ia memohon agar mama Karina menyetujui permintaannya.


"Sudahlah, ma. Dia sudah dewasa. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri jika memang baginya itu yang terbaik" kata Adit kesal.


Vania bangun dan berdiri. "Kakak, aku tahu kamu marah padaku. Maaf aku yang belum bisa membanggakan kalian. Aku janji jika waktunya aku sudah tenang, aku akan kembali. Jangan mencariku. Biar aku yang menghubungi kalian" kata Vania.


Adit sudah mulai pasrah dengan adiknya yang keras kepala.


"Dek, walau bagaimanapun kamu sudah menjadi istri orang. Tidak seharusnya kamu melakukan ini semua. Dan ingat, sejauh apapun kamu pergi. Devan tidak akan berhenti mencarimu. Aku tahu siapa dia dan bagaimana dia mencintaimu. Dia tidak akan merelakan kepergianmu begitu saja" kata Adit memperingatkan adiknya.


Mama Karin dan Adit merelakan kepergian Vania yang tak jelas arahnya. Mereka mencoba menjelaskan pada Devan tentang kepergian Vania.


Devan yang tak mau menyerah begitu saja dengan hubungannya. Devan mencari istrinya pada orang yang teman-temannya dan mengerahkan semua orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan istrinya.


*****


Hingga berminggu-minggu, tak satupun dari mereka menemukan keberadaan Vania. Devan mulai pasrah dengan keberadaan Vania. Ia mencoba mencari informasi dari Mama Karin dan Adit. Namun usahanya sia-sia. Vania hanya akan menghubungi mamanya di waktu yang tidak bisa ditentukan. Itu pun dengan nomor pribadi yang tak bisa dilacak dan dia tidak pernah mau mengatakan dimana posisinya.


Vania hanya selalu bilang, "aku baik-baik saja, tak perlu mengkhawatirkanku. Aku pasti pulang".


Namun kenyataannya sampai lebaran pun ia tak kunjung pulang. Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat telepon.


Devan yang mulai terbiasa dengan kesendiriannya mencoba tetap bertahan. Ia sering mengunjungi rumah mertuanya. Bahkan sesekali ia menginap di kamar Vania jika ia begitu merindukan istrinya.


Hari itu Devan sedang bermain dengan keponakannya dari Adit di kamar Vania. Seorang gadis kecil yang berusia hampir empat tahun itu diberi nama Leona. Devan sering menghabiskan waktu dengan gadis kecil itu untuk mengisi kekosongan hatinya saat berada di rumah mertuanya.


Pintu kamar yang terbuka membuat Mama Karina masuk tanpa ijin. Ia menempelkan benda pipih di telinganya sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya agar Devan diam tak bicara.

__ADS_1


Mama Karina meminta Leona untuk ikut bersama mama Renata keluar dari kamar Vania. Kemudian mama Karina menekan ikon loudspeaker dari layar ponselnya agar Devan mendengar suara dari seberang telepon.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya mama Karina


"Alhamdulillah sehat, ma. Mama gimana?"


Degggg.....


Suara yang begitu Devan rindukan. Akhirnya ia bisa mendengarnya.


"Kapan kamu pulang? sudah tiga kali lebaran kita tidak berkumpul. Apa kamu nggak rindu sama mama?"


"Ma, jangan bilang begitu. Aku pasti pulang. Tapi tunggu waktu yang tepat"


"Katakan pada Mama, dimana kamu sekarang. Biar mama yang kesana jika kamu tidak bisa pulang"


'Enggak, ma. Maaf aku nggak bisa bilang"


"Apa kamu nggak rindu dengan suamimu?"


Vania diam. Tak ada suara dari seberang telepon. Wanita itu mungkin sedang berfikir.


"Nak..." panggil Mama Karina karena Vania tak juga berbicara.


"Iya, Ma"


"Pulanglah. Mama tahu kamu masih mencintai suamimu. Selesaikan masalah kalian baik-baik. Tidak benar jika kamu harus selalu lari dari masalah"


"Ma, tolong jangan bahas itu lagi. Maaf aku tidak bisa berlama-lama. Aku akan menghubungi mama lagi lain waktu. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Panggilan terputus. Mama Karina menatap lembut ke Devan.


"Maafkan putri mama ya Nak"


"Ma, dengan hanya mendengar suaranya dan dia sehat, itu sudah membuatku sangat senang" kata Devan tersenyum mencoba meyakinkan ibu mertuanya agar tidak merasa terbebani.

__ADS_1


__ADS_2