
Satu bulan Kemudian.
Rumah tangga Vania dan Devan tetap romantis dan harmonis meski pernikahan itu masih mereka rahasiakan.
Hampir tiap hari juga Vania mendapatkan kiriman amplop berisikan foto-foto suaminya dengan Stella hingga membuatnya geram dan terkadang langsung membuang amplop itu tanpa membukanya. Vania mencoba selalu menepis apa yang dilihatnya dari foto itu dengan tetap percaya pada suaminya. Ia heran entah siapa dan apa tujuan dari pengirim foto itu padanya.
"Abaikan saja, mungkin itu hanya kerjaan orang iseng, yang penting percaya aja apa yang ada di hatimu" pesan nasehat dari Nadya dan Maya selalu ada dalam ingatannya.
Hampir tiap hari Vania selalu tanya pada suaminya tentang kapan kepulangan Stella ke negaranya. Bukan tanpa alasan. Vania hanya tidak terlalu suka dengan kedekatan mereka meski sekedar urusan bisnis. Hingga tak jarang juga Devan meyakinkan istrinya agar tetap berpikir positif dan membuang pikiran buruknya.
Bahkan akhir-akhir ini banyak media memberitakan tentang kedekatan hubungan dua pengusaha muda antara presdir SA Group dan Royal Company yang dikabarkan menjalin asmara dan akan melangsungkan ke jenjang pernikahan.
"Semua itu tidak benar, sayang. Sampai kapanpun dan bagaimanapun kamu, aku tetap akan mencintaimu dan tidak akan melepaskan dirimu. Kamu milikku, wanitaku... percayalah aku tak akan pernah menghianatimu" kata Devan meyakinkan Vania.
"Aku tetap percaya padamu, mas. Aku akan tetap bertahan sekuat yang aku mampu asal kau tak menghianatiku" jawab Vania.
Kabar tidak mengenakkan itu terdengar juga di telinga Mama Karina, Bunda Dewi dan Ayah Satria sehingga membuat ketiganya geram dan menghubungi Devan untuk meminta kejelasan. Beruntungnya Devan bisa menjelaskan dan meyakinkan para orangtua dengan baik hingga mereka mengerti.
Mama Vania juga tak henti memberikan pesan nasehat pada putrinya.
"Mau sampai kapan kamu akan menyembunyikan pernikahanmu?" tanya Mama Karin pada Vania lewat sambungan telepon.
"Tidak untuk sekarang, Ma. Aku masih ingin menikmati pekerjaanku dengan baik. Lagi pula jika tiba-tiba kami mengumumkan pernikahan, aku pastikan media akan membuat berita yang dilebih-lebihkan"
"Bukankah suamimu juga tak pernah mempermasalahkan itu. Justru ia selalu mendesak untuk mengumumkan kabar pernikahan kalian"
"Entahlah, Ma. Aku hanya takut jika nantinya pernikahan kami akan mempengaruhi kinerja perusahaan mas Devan. Aku nggak mungkin menghancurkan apa yang sudah seharusnya suamiku capai dengan mengatakan yang sebenarnya".
"Astaghfirullah...Buang pikiran burukmu, nak. Tidak baik seperti itu. Walau bagaimanapun di luaran sana harus tahu hubungan kalian agar tak ada lagi pengganggu. Mama ngerti apa maksudmu. Tapi tolong jangan keras kepala seperti ini, Nak. Kasihan juga suamimu".
"Baiklah Ma, akan Aku pikirkan lagi sore nanti sepulang kantor".
__ADS_1
"Jangan terlalu lama menunggu. Jangan sampai kamu menyesali semuanya".
"Iya, Ma. Aku akan membicarakannya pada suamiku"
"Baiklah, mama tunggu kabar baiknya, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Ma"
Vania menutup panggilannya. Ia beranjak dari ruangannya bergegas menuju lantai dimana ruangan Presdir.
Sesampainya disana, Vania tak menemui Lia di mejanya. Lantai ruangan itu nampak sepi. Hanya ada petugas pantry yang terlihat sedang melakukan pekerjaannya di dalam ruang pantry.
Tanpa mengetuk pintu, Vania mendorong pelan ruangan suaminya agar terbuka.
"Mas, aku_____" Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, tiba-tiba ia dikejutkan pemandangan yang tak terduga dimana suaminya terlihat sedang memeluk dan menindih Stella diatas sofa ruangannya.
Air mata Vania terjatuh seketika. Ia tak menyangka Devan berbuat seburuk itu di belakangnya. Dengan cepat Devan mendorong tubuh Stella agar menjauh darinya.
Vania mengabaikan kata-kata Devan. Ia berlari keluar meninggalkan ruangan suaminya. Dengan cepat Devan mengejar istrinya.
Langkah Devan yang lebar membuatnya mampu menjangkau tubuh istrinya yang hampir memasuki lift. Devan menahan tubuh Vania agar tetap ada di lantai ruangannya. Ia mengajak Vania menuju rooftop agar tak ada yang mendengar dan mengganggu pembicaraan mereka.
"Yang, dengerin aku dulu"
"Cukup, mas. Aku sudah lihat semuanya. Semuanya sudah jelas. Apa yang mau kau jelaskan, mas? Selama ini aku selalu menepis semua berita itu di media dan tetap mempercayaimu. Tapi apa? Kau sendiri justru menghancurkan semuanya dengan bermain di belakangku" kata Vania berapi-api menunjukkan kekesalannya.
"Enggak yang, Aku bersumpah tidak pernah berselingkuh darimu. Apa yang terjadi tadi diluar kesengajaanku. Stella hampir terpeleset dan aku menahannya agar tidak jatuh membentur meja kaca" Devan membela diri menceritakan kejadian yang dialaminya.
"Aku nggak mau dengar penjelasan apa-apa lagi. Aku nggak mau lagi mendengar kebohonganmu" Kata Vania pergi meninggalkan Devan.
"Yang.." panggil Devan setengah berteriak karena istrinya menjauh.
__ADS_1
"aaarrhhhhhhg....." teriak Devan sambil menarik rambut atasnya. "Shitt... kenapa semuanya jadi seperti ini" Devan kebingungan bagaimana menjelaskan pada Vania.
Devan mengejar Vania ke ruangannya. Namun ia tak menemukan sosok yang dicari karena Maya mengatakan jika Vania baru saja ijin pulang lebih awal.
Devan memilih untuk menyusul Vania pulang ke rumah. Ia harus meluruskan apa yang terjadi dan jangan sampai kesalahpahaman ini berlanjut.
Devan melihat Vania tengah duduk meringkuk di atas kursi sambil membuang pandangannya ke luar jendela. Wajah Vania nampak murung dengan mata yang sembab. Senyum yang biasa menghiasi hari-harinya hilang tak lagi ada.
Devan mendekati Vania dan duduk berlutut di depan Vania. Ia berusaha menjangkau wajah Vania agar terlihat jelas di matanya.
"Yang" panggil Devan lirih.
"Aku ingin sendiri, mas. Tolong tinggalkan aku" kata Vania dingin.
Devan merasa sakit mendengarnya. Baru kali ini Vania mengusir kehadirannya semenjak menikah.
Dengan terpaksa Devan meninggalkan kamarnya dengan langkah gontai. Ia akan membiarkan Vania tenang terlebih dahulu dan akan kembali menjelaskan yang sebenarnya terjadi besok.
Devan duduk di sofa ruang tengah menunggu istrinya tenang. Seperti biasa ia meminta Bu Tini dan suaminya pulang lebih awal agar tak mendengar pertengkarannya dengan Vania.
Devan memijat pelipisnya yang nampak lelah terlalu banyak berpikir. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Ia melihat Vania turun membawa koper di tangannya. Dengan sigap Devan mendekatinya.
"Kamu mau kemana, yang?" tanya Devan memegangi koper istrinya.
"Aku mau pulang" jawab Vania cepat.
"Yang, please kita selesaikan dulu kesalahpahaman ini" pinta Devan.
"Biarkan aku tenang dulu, mas. Aku butuh sendiri" jawab Vania dingin.
"Baiklah... aku akan menurutimu. Tapi tetaplah disini. Biar aku yang pergi dari rumah ini sementara waktu sampai kau tenang. Aku akan menyuruh seseorang untuk menemanimu" jawab Devan terpaksa agar keluarga tak tahu masalah yang mereka hadapi karena itu akan membuat semua orang cemas dan khawatir.
__ADS_1