
"Iya... Membantu mendekatkanmu dengan Devan. Aku bisa memberitahu cara agar kau bisa dekat dengannya" ucap Alline. "Aku yakin kamu gak tahu banyak tentang Devan. Kalau kamu mau aku bisa memberitahu semua tentangnya padamu agar kau bisa mengenalnya lebih dekat" lanjutnya.
"Apa kamu bisa dipercaya?" tanya Stella ragu-ragu.
"Tentu. Aku tidak akan mengecewakammu" kata Alline meyakinkan Stella.
"Oke... Apa yang ingin kamu katakan semua tentang Devan?"
Alline tersenyum senang karena wanita di depannya itu mau mendengarkannya. Itu artinya misi pertamanya berhasil.
"Sebelumnya aku mau tahu bagaimana jawaban Devan stelah kau mengungkapkan perasaanmu?"
Stella menggeleng pelan. "Dia hanya meminta saya untuk membuang jauh-jauh perasaan itu" ucapnya lirih.
"Oo.…" Alline membulatkan bibirnya. Sebenarnya ia ingin menertawakan wanita di depannya yang bernasib sama dengannya. Namun ia urungkan karena tak ingin melihat Stella marah dan mengusirnya. Itu bisa menggagalkan rencananya.
"Apa Devan menolak saya karena dia sudah punya pasangan?" tanya Stella penuh selidik.
"Tidak. Bagaimana mungkin ia punya pasangan. Lagi pula di media tidak ada pemberitaan apapun tentang kisah percintaannya. Dia pasti hanya malu saja untuk menjaga imagenya. Jadi dia berpura-pura jual mahal"
"Jual mahal? what is that? aku tak mengerti maksudmu" Stella tak mengerti.
"Dia bersikap pura-pura acuh agar tak terlihat seperti lelaki yang mudah dirayu"
"Benarkah? Jadi bukan karena sudah memiliki pasangan atau kekasih" tanya Stella antusias. Ada rasa senang dalam hatinya karena memiliki peluang untuk mendapatkan hati Devan.
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong. Kau hanya butuh tampil menarik untuk terus mendekati dan menggodanya" Kata Alline dengan senyum pura-puranya.
"Saya mengerti sekarang. Tapi tunggu" mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu dengan mengatakan semua ini pada saya?" imbuhnya bertanya.
"Emm... Sebenarnya Devan adalah sahabatku. Dia punya trauma sama perempuan. Jadi aku berusaha mencarikan dia seorang wanita yang benar-benar mencintainya dan mau menjadi kekasihnya" jawab Alline berbohong. Dan Stella hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Alline.
"Jadi, bisakah kita berteman sekarang?" tanya Alline mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1
"Oke, kenapa tidak" jawab Stella menjabat tangan Alline.
"Aku akan membantumu dengan menyebarkan kedekatanmu dengan Devan di media, bagaimana?" ucap Alline setelah melepas jabatan tangannya.
"Itu tidak buruk" jawab Stella senang.
"Baiklah aku harus pergi untuk mengurus semuanya" pamit Alline yang diiyakan oleh Stella.
Alline pergi meninggalkan Stella setelah saling bertukar nomor telepon.
"Aku ingin kau hancur, Dev. Sudah cukup kau menyakiti aku. Jika aku tak bisa memilikimu, maka wanita sialan itu juga tak boleh. Karena dia kau membenciku dan menjauhiku. Aku tahu wanita sialan itu adalah kelemahanmu. Aku akan melakukan apapun untuk menghancurkanmu sehancur-hancurnya" batin Alline penuh kemarahan berjalan keluar kafe.
Semenjak saat itu Stella semakin gencar mendekati Vania. Bahkan tak jarang wanita itu menggoda Devan agar tertarik padanya. Namun wanita itu selalu saja gagal. Devan tak pernah menghiraukannya. Dan kejadian terakhir, ia datang ke kantor Devan tanpa membuat janji lebih dulu. Ia sudah menyiapkan diri sebelumnya untuk menggoda Devan dengan pakaian minimnya.
Waktu itu dia terus saja mengambil perhatian Devan
"Kenapa kamu tak mau menerima saya? apa yang kurang pada diri saya? Saya siap melakukan dan memberikan apapun yang kamu mau" Stella menurunkan harga dirinya untuk mendekati Devan. Ia sudah terlanjur masuk dalam perangkapnya sendiri.
"Kamu bohong, Dev. Saya tahu kamu bohong"
"Terserah apa katamu. Aku tak peduli" Devan beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.
Stella memasukkan obat ke dalam air minum Devan saat pemiliknya sedang ke toilet. Namun saat Devan kembali, tiba-tiba saja air di gelas itu tumpah karena Devan tak sengaja menyenggolnya saat akan duduk. Akibatnya air itu tumpah membasahi lantai.
Stella terkejut karena rencananya hari ini gagal. Ia merasa kesal dan mengakibatkan kemarahan yang tidak Devan mengerti. Stella mendengus kesal dan hendak pergi. Namun saat ia hendak melangkah, kakinya terpeleset karena lantai yang basah. Dengan sigap Devan menopang tubuh Stella dengan tangannya agar tidak tubuh terbentur ujung meja kaca. Namun, tubuh Devan yang tidak seimbang membuatnya ikut jatuh diatas sofa sehingga tampak seperti ia sedang memeluk dan menindih Stella bagi yang melihatnya.
Di waktu yang bersamaan, tiba-tiba terdengar
suara pintu yang terbuka membuat mereka berdua menoleh ke arah suara. Devan terkejut mendapati Vania ada di balik pintu dengan air mata yang sudah mengalir. Dengan cepat ia mengangkat badannya agar menjauh dari tubuh Stella.
"Yang, ini nggak seperti yang kamu lihat" kata Devan berusaha membuat istrinya agar tak berprasangka buruk tentangnya.
Vania mengabaikan kata-kata Devan. Ia berlari keluar meninggalkan ruangan suaminya. Dengan cepat Devan mengejar istrinya.
__ADS_1
Langkah Devan yang lebar membuatnya menjangkau tubuh istrinya yang hampir memasuki lift. Devan menahan tubuh Vania agar tetap ada di lantai ruangannya. Ia mengajak Vania menuju rooftop agar tak ada yang mendengar dan mengganggu pembicaraan mereka.
Devan berusaha menjelaskan duduk perkaranya. Namun percuma saja, Vania yang sudah terlanjur kecewa tak mau mendengarkan apapun penjelasan suaminya. Ia memilih pulang ke rumah di susul oleh Devan.
Devan memberikan kesempatan istrinya untuk sendiri di kamarnya, sedang ia menunggu di lantai bawah. Ia meraih ponselnya dan mengirimkan pesan pada Stella untuk mengakhiri kerjasama yang membuatnya sial itu. Setelahnya ia menghubungi Ronald meminta untuk membuatkan surat pernyataan pembatalan kerjasama sepihak. Dan tanpa berani bertanya Ronald hanya mengiyakan saja permintaan atasannya.
FLASHBACK END
______________________
Hari sudah malam. Vania keluar dari kamarnya hendak menuju dapur untuk membuat teh hangat karena pikirnya Bu Tini pasti sudah pulang. Ia terkejut mendapati wanita asing duduk di ruang tengah.
"Kamu siapa?" tanya Vania
"Nona butuh sesuatu? Saya Gita yang ditugaskan oleh tuan muda untuk menjaga dan menemani anda kemanapun anda pergi" kata Gita ramah sambil membungkukkan sedikit adannya.
"Kemanapun? Bahkan di kantor sekalipun?'
"Tidak untuk di kantor, nona. Saya akan kembali ke rumah utama saat anda berada di kantor"
"Oo...baiklah"
Vania berbalik menuju dapur. Gita mengikutinya dari belakang barangkali majikannya itu butuh bantuan.
"Nona butuh sesuatu? Biar saya siapkan". kata Gita menawarkan.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin teh hangat. Aku akan membuatnya sendiri. Kamu istirahatlah" kata Vania ramah.
"Saya akan memastikan Anda kembali ke kamar dulu untuk istirahat. Baru kemudian saya akan ke kamar, Nona"
"Ya sudah terserah kamu saja" jawab Vania pasrah karena tak ingin berdebat dengannya.
Vania kembali ke kamarnya sambil membawa secangkir teh hangat buatannya disusul oleh Gita yang juga masuk ke kamar tamu untuk istirahat.
__ADS_1