Cinta Vania

Cinta Vania
Tolong Bahagiakan Sahabatku.


__ADS_3

Mentari mulai menampakkan sinarnya. Pagi ini Devan bersiap untuk kembali ke Jakarta dengan penuh kekecewaan.


Ia melakukan Check out hotel terlebih dahulu sebelum menuju ke bandara. Masih ada sisa waktu dua jam lebih sebelum jadwal keberangkatannya. Sementara perjalanan menuju bandara hanya satu jam. Itu artinya ia masih punya waktu luang satu jaman untuk sekedar bersantai menikmati kopi di sebuah kafe sambil membuka laporan email yang masuk ke ponselnya.


Setelah memeriksa laporannya, Devan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana jeansnya. ia melihat seorang anak kecil yang dikenalnya berlarian di sekitar meja kafe.


"Juna" panggil Devan membuat Juna menoleh. "Sama siapa kau disini?" imbuhnya bertanya. Namun Juna justru lari menghindar menemui Sherin.


"Mami, Juna atut" kata Juna memeluk kaki Sherin.


"Kenapa, sayang"


"Itu" tunjuk Juna ke arah Devan. Mata Sherin mengikuti arah jari Juna menunjuk.


"Kak Devan" panggil Sherin. Ia berjalan mendekat sambil menggandeng putranya. "Aku tidak salah kan? benar kak Devan?" lanjutnya bertanya.


"Sherin adik kelas SMP dulu kan?"


"hahaha...benar ternyata. Kakak tinggal di Surabaya?"


"Bukan. Aku tinggal di Jakarta. Aku kemari mencari seseorang"


"Oom angis Mama, Mi" rengek Juna ke Sherin. anak kecil itu bersembunyi dibalik kaki Maminya.


"Bukan sayang, Juna pasti salah orang" kata Sherin menenangkan putranya.


"Bagaimana Juna bisa bersamamu, apa Ibunya sesibuk itu?" tanya Devan heran.


"Kakak ini bicara apa, aku ini ibunya"


"Kamu yakin?" tanya Devan memastikan pendengarannya. Ia semakin bingung dengan apa yang ia dengar.


"Yakin lah... jangan aneh-aneh deh, aku ini memang yang mengandung dan melahirkannya" kata Sherin menahan tawa.


"Lalu Vania?"


"Kakak tahu Vania disini?"


Devan mengangguk lalu menjawab, "iya, aku bertemu dengannya kemarin. Dia bilang Juna adalah putranya"


Sherin mengernyit heran mendengar jawaban Devan. Ia menduga-duga sesuatu yang ada di pikirannya.

__ADS_1


"Mami... Oom itu nakal Mi..." rengekan Juna kembali menyadarkan pikiran Sherin yang kebingungan.


"Enggak apa-apa, sayang. Oom baik kok" Sherin menenangkan putranya.


"Emm...boleh aku duduk, kak?" pinta Sherin ke Devan.


"Oh iya silahkan, maaf aku sampai lupa membiarkanmu terus berdiri"


Sherin tersenyum. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan Devan dan memangku Juna. Lalu kembali bertanya. "Kak, kau bilang kemarin bertemu dengan Vania. Juna juga bilang kamu yang bikin Vania menangis. Apa ada sesuatu di antara kalian?"


Devan mengangguk mengiyakan perkataan Sherin. "Vania adalah istriku"


"Oh my God" spontan Vania menutup mulutnya karena terkejut.


"Kenapa?" tanya Devan


"Kenapa semuanya kebetulan sekali"


"maksudmu?" tanya Devan yang tak bisa mencerna perkataan Sherin.


"Sorry... Selama ini Vania di Surabaya bersamaku. Selama tiga tahun ini ia terus memendam rasa bersalahnya padamu. Dia menceritakan bagaimana kesalahan dalam rumah tangganya padaku. Tapi tak pernah mau mengatakan siapa laki-laki itu. Dan hari ini aku baru tahu jika kak Devan adalah suami sahabatku"


"Huh? jadi selama ini dia ikut denganmu?"


"Dan dia sudah menikah dengan orang sini?" pangkas Devan.


Sherin menggeleng pelan. "Dia tak pernah menikah setelah pergi dari Jakarta".


"Lalu Juna dan lelaki itu?" tanya Devan.


"Juna putraku, aku sering menitipkan Juna padanya. Dia sudah menganggap Juna seperti putranya sendiri. Kalau lelaki yang kau maksud itu, dia adalah suamiku. Juna selalu ikut bersama Papinya berangkat kerja. Karena aku sibuk mengurus cabang resto yang letaknya agak jauh, aku berbagi pekerjaan dengan Vania. Setiap jam berangkat kantor, aku meminta Vania untuk menjemput Juna ke mall tempat suamiku bekerja. Itu sebabnya kau berfikir mereka sebuah keluarga" kata Sherin menjelaskan.


"Astaghfirullah..." Devan mengusap kasar wajahnya. "Lalu kenapa dia melakukan ini" lanjutnya kembali bertanya.


"Dia terlalu malu untuk mengakui kesalahannya. Dan dia punya alasan sendiri yang tidak bisa aku sampaikan padamu. Jika kau ingin tahu, kau bisa menanyakannya sendiri padanya. Dia masih sangat mencintaimu, kak. Setiap hari ia hanya meratapi penyesalan terbesarnya dengan membiarkan dirinya sendiri kehilangan cinta darimu. Ia hanya akan tersenyum lepas saat berama Juna. itulah sebabnya aku sering menitipkan Juna padanya. Bahkan setelah kejadian kemarin kau bertemu dengannya, seharian ia menangis menyesali perbuatannya"


Perkataan Sherin membuat Devan semakin sedih mengingat istrinya. Ia tak menyangka hidup Vania semenyakitkan itu. Ia pikir wanitanya itu telah menjadi milik orang lain dan hidup bahagia. Tapi ternyata semuanya salah.


"Jika kau masih mencintainya, temuilah dia. Hari ini ia mengambil libur karena sedang tak enak badan. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari resto. Aku akan memberikan alamatnya padamu" kata Sherin dan Devan mengangguk.


"Sebentar aku tuliskan di kertas" kata Sherin hendak berdiri.

__ADS_1


"Tidak usah Sher, biar aku menyimpannya di ponselku. Kau ucapkan saja, aku akan mengetiknya"


"Baik. Jalan Pemuda nomor 50. Desa dan kecamatannya seperti di resto"


Devan mengetikkan nama dan nomor jalan yang Sherin sebutkan dan menyimpannya.


"Terimakasih Sher"


"Sama-sama". Sherin beralih ke sebuah tas ransel yang ada di sebelah kaki Devan. "Mau kembali ke Jakarta?" imbuhnya bertanya.


"Mulanya iya, tapi karena penjelasanmu, aku akan menundanya" kata Devan dengan senyum lebarnya.


Sherin ikut tersenyum senang menanggapinya. "Ya sudah cepatlah kesana, dan tolong bahagiakan sahabatku. Jangan biarkan ia kembali kehilangan" kata Sherin.


Devan mengangguk dan berdiri. "Aku sangat berterimakasih sekali padamu"


"Sudahlah tak perlu sungkan. Sudah seharusnya sahabat seperti itu. Maaf aku tak bisa mengantarmu"


"Iya tak masalah. Aku pergi dulu" pamit Devan dan Sherin mengangguk.


Devan memanggil sebuah taksi yang lewat sesaat setelah menghubungi Ronald untuk menyampaikan kepulangannya yang diundur. Ia menunjukkan alamat yang dituju pada sopir taksi untuk membawanya sesuai tujuan.


Taksi berhenti di sebuah perumahan berpaving yang nampak asri dan sejuk dengan pepohonan rindang di halaman depannya.


Devan menjejakkan kakinya turun dari taksi setelah memberikan beberapa lembar uang pada Sopir taksi.


"Mas, ini kebanyakan"


"Ambil saja, pak"


"Makasih ya mas" kata Sopir itu senang dan melajukan kembali mesin mobilnya.


Devan membuka pagar dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia berdiri tepat di depan pintu rumah yang ditinggali Vania.


Devan mengetuk pintu. Tak ada sahutan dari dalam. Kemudian ketukan kedua. Sedikit lebih keras hingga terdengar suara yang dikenalnya.


"Siapa?"


Devan tak menjawab. Ia kembali mengetuk pintu itu.


Ceklek....

__ADS_1


Suara seseorang membuka handle pintu dari dalam dan menariknya pelan membuat pintu terbuka.


Devan melihat sosok yang dicarinya. Tanpa berkata sepatah katapun, Devan menghambur memeluk tubuh Vania.


__ADS_2