
"Apa kamu bahagia dengan putri mama?" tanya Mama Karina ragu-ragu. Ia tahu betul perangai putrinya yang manja dan cengeng. Ia takut karena sifat itu akan membuat menantunya merasa risih dan kecewa. "Mama kenal betul bagaimana keras kepalanya. Mungkin karena kami selalu memanjakannya hingga dia tumbuh menjadi wanita manja. Vania anak yang keras kepala dan cengeng. Bahkan ia begitu lemah" lanjutnya bersedih saat mengingat kenangan dimana keluarganya masih untuk dan bagaimana mereka memanjakan Vania.
Devan menatap lembut mama mertuanya.
"Ma, Mama pasti sudah tahu bagaimana aku begitu mencintai putrimu yang kini menjadi istriku. Aku mencintai apapun yang ada di dirinya. Aku akan selalu berusaha menjadi pelengkap atas kekurangan yang dimilikinya. Aku berjanji akan selalu melindungi dan menjaganya dengan kekuatanku"
Mama Karina menangis haru mendengar jawaban menantunya. "Terimakasih banyak atas semua yang kamu lakukan pada keluarga kami. Aku sangat bahagia putriku bersama orang yang tepat"
"Mama, kita keluarga. Selamanya kita akan menjadi keluarga. Aku butuh restu dan doamu agar kami bisa melewati semua ujian dan berbahagia"
"Mama tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaan kalian"
"Makasih, Ma" kata Devan dengan senyumnya.
"Bermalam lah disini, ini sudah sangat larut. Lagipula Vania juga sudah tidur sejak tadi" kata Mama yang kemudian berdiri.
"Baik Ma, aku ke kamar dulu" pamit Devan menuju lantai atas untuk menemui istrinya.
Dengan pelan dan hati-hati Devan membuka pintu kamar agar tidak menganggu istrinya. Ia berjalan menghampiri istrinya dan duduk memperhatikan wajah wanita itu yang begitu polos saat tertidur. Ia mengecup pelan kening istrinya membuat pemiliknya bergerak dari posisinya namun tak sampai membangunkannya.
Devan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan kemudian naik ke atas tempat tidur untuk istirahat dengan memeluk istrinya.
Vania bangun saat merasa badannya terasa berat dan tak bisa bergerak. Ia terkejut mendapati sebuah lengan kekar memeluk perutnya dan kaki besar yang menindih kakinya. Wangi parfum menyeruak dalam indra penciumannya. Ia tahu betul pemilih tubuh itu adalah suaminya. Vania mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Devan dengan jelas. Lelaki itu nampak tertidur pulas karena kelelahan.
Vania memindahkan kaki Devan yang menindihnya dan melepaskan pelukan suaminya hendak turun dari tempat tidur dan bersiap membersihkan diri untuk sholat subuh. Namun guncangan yang diperbuat oleh Vania membuat suaminya terbangun dan membuka mata.
"Mau kemana, Yang" tanya Devan dengan suara parau. Ia mengangkat badannya sehingga mwmbuatnya duduk.bwrsandar.
Mendengar suara suaminya, Vania mengurungkan niatnya untuk menurunkan kakinya dari atas tepat tidur.
"Kok sudah bangun, mas. Maaf ya tadi malam aku ketiduran sampai tidak sadar waktu kamu pulang"
"Aku yang pulangnya terlalu larut"
" Ya sudah aku mau mandi dan sholat dulu, Mas" kata Vania
"Tunggu, kemarilah sebentar" panggil Devan meminta istrinya agar mendekat.
Devan segera memeluk tubuh istrinya dan mencium bibirnya.
"Aku butuh ini setiap bangun tidur" katanya kembali memeluk istrinya.
__ADS_1
Vania membalas pelukan Devan. Ia merasakan kenyamanan saat tubuh tegap pria itu mampu menghangatkannya.
Setelah sholat subuh mereka memutuskan untuk pulang tanpa menunggu sarapan pagi.
******
drrttt..drttt...drttt...
Ponsel milik Devan berdering di sela-sela pekerjaannya yang menumpuk.
"Hallo Sita"
"Hai, Dev. Apa kau sedang sibuk" sahut suara dari seberang telepon.
"Sedikit, ada apa?"
"Sabtu pagi aku akan melaksanakan akad nikah. Dan malamnya akan ada resepsi. Aku harap kamu bisa hadir di acara pernikahanku nanti"
"Wah benarkah? Lelaki mana yang berhasil meluluhkan hatimu? Aku senang sekali mendengarnya. Selamat ya..." Devan tersenyum senang mendengar sahabatnya menikah.
"Makasih ya... Dia orang Surabaya, Dev. Kami sudah berpacaran selama dua tahun belakangan ini"
"Oke, Sit. Akan aku usahakan untuk tetap hadir"
"Hahaha... Pasti. Aku pasti mengajaknya"
"Yakin banget... baru juga gebetan" katanya masih terkekeh. "Ya sudah aku matikan ya"
"Oke, Sit"
Devan mengunci layar ponselnya dan meletakkannya kembali diatas meja kerjanya. Ia beralih ke meja telepon dan meraih gagang telepon yang biasa digunakannya untuk menghubungi Ronald dan Lia.
"Hallo, Nald. Tolong beri aku copyan laporan dari black card yang ku berikan pada istriku dua bulan lalu"
"Baik, Tuan"
Devan menutup panggilan teleponnya dan kembali fokus ke pekerjaannya.
Tak lama kemudian Ronald mengetuk pintu dan masuk ke ruangannya dengan membawa selembar kertas di tangannya.
"Bagaimana, Nald" tanya Devan menutup kembali lembaran di map yang dibacanya dan meletakkan pena diatasnya.
__ADS_1
"Disini tidak ada catatan transaksi apapun sejak dua bulan lalu, Tuan. Itu artinya Nona Vania belum sampai menggunakan kartu itu sekalipun" kata Ronald sambil.meyerahkan kertas yang dibawanya.
Devan mengamati kertas copyan laporan yang dibawa oleh asistennya. Ia mengernyit heran dengan hasil yang tertulis di kertas itu.
"Lalu selama ini jika ia butuh sesuatu, selalu menggunakan uangnya sendiri?" gumam Devan menatap kertas yang ada di tangannya.
"Nald, Hubungi Pak Romi biar Vania bisa ke ruanganku" perintah Devan yang langsung di iyakan oleh Ronald.
Ronald keluar dari ruangan Presdir dan kembali menuju ruangannya untuk melaksanakan pekerjaan atasannya.
Selang beberapa menit kemudian, Vania sudah sampai di lantai dimana ruangan suaminya berada. Ia berjalan melewati koridor sambil mendekap sebuah map yang biasa ia gunakan sebagai alasan.
"Ada apaan sih Mas Ronald?" tanya Vania ke Ronald yang sedang berdiri di depan meja Lia membicarakan beberapa jadwal.
"Anda akan tahu sendiri nanti, Nona. Silahkan Tuan muda sudah menunggu anda di dalam"
"Baiklah... Aku masuk dulu kalau begitu Mas, mbak Lia"
"Silahkan, nona" sahut Lia.
Vania memasuki ruangan Devan dan melihat suaminya itu sedang menatap serius kertas yang ada di depannya.
"Kamu memanggilku, mas? ada apa?"
"Kemarilah sebentar" kata Devan sambil menganggukkan kepalanya untuk mengajak istrinya mendekat.
Vania berjalan mendekati suaminya dan berdiri di samping kursi yang berhadapan dengan meja suaminya.
"Duduklah disini" perintah Devan dengan lembut meminta Vania agar duduk di pangkuannya. Vania menuruti keinginan suaminya. Lelaki itu langsung memeluk tubuh langsing istrinya. Ada perasaan sedih yang terlihat di wajahnya.
"Ada apa mas? Jangan membuatku penasaran" tanya Vania yang merasa ada yang tidak beres.
"Aku harus berangkat ke London" katanya pelan sambil mebenamkan wajahnya dibalik punggung istrinya.
"Kapan?" tanya Vania terkejut.
"Sore ini"
Vania terkejut dan menggerakkan tubuhnya agar bisa melihat jelas wajah suaminya "Huh? Secepat itu? kenapa mendadak sekali?"
"Iya, ada pekerjaan darurat yang harus aku selesaikan dan tidak bisa diwakilkan ke ayah"
__ADS_1
Vania terdiam sejenak memikirkan perkataan Devan. Ia merasa sangat berat membiarkan lelaki itu pergi. Namun terlalu egois jika ia harus mencegahnya.