
Kehadiranmu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan kekuatanku dengan cinta.
Aku selalu tersenyum ketika memandangmu. Bagiku inilah seseorang yang selalu memperjuangkanku dengan segenap jiwanya. Dan kini, sang waktu telah membuat kita kembali menjauh untuk sementara.
Aku bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta. Namun semenjak melihatmu, aku melihat sisa hidupku di depan mataku. Kau telah membuatku lupa akan kenangan buruk masa lalu. Dalam tiap senyummu, dalam tiap tetes air matamu, dalam lambaianmu, kutitipkan bahagiaku selalu untukmu.
Kini, perpisahan kembali mengujiku. Aku harus rela meski sakit. Aku pernah melakukan ini sebelumnya. Beribu penyesalan yang kudapatkan. Mungkin ini balasan bagiku karena dulu pernah meninggalkanmu.
*****
Pagi itu dengan berat hati Vania harus merelakan kepergian suaminya untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan.
"Hati-hati dijalan, jaga kesehatanmu" ucap Vania yang terdengar serak karena air matanya yang mulai jatuh.
"Hei kenapa harus menangis, jangan membuatku semakin berat untuk pergi. Aku janji akan segera kembali menjemputmu. Yang perlu kamu lakukan hanya jaga dirimu baik-baik" kata Devan sambil menghapus air mata dipipi Vania dengan kedua ibu jarinya.
Vania semakin sedih mendengar perkataan suaminya. Dia berusaha menguatkan dirinya dengan tetap tersenyum.
"Udah ya, berhenti nangisnya. Atau aku akan membawamu ikut ke Kalimantan" kata depan menggoda Vania.
Vania menggeleng cepat, "enggak mau".
Devan tersenyum dan mengusap lembut rambut Vania ia mendekatkan wajahnya mengecup lembut kening Vania dengan penuh kasih sayang.
"Satu lagi, jaga hati ini hanya untukku" lanjut Devan kemudian mengalihkan tangannya di dada Vania.
"Pasti" jawabnya lirik, iya meraih tangan kanan Devan dan mengecupnya. "Pergilah aku akan selalu menunggumu" lanjutnya lirih.
Devan melangkah keluar rumah menuju mobil yang sudahen menunggu untuk menjemputnya di depan pagar.
*****
Selepas kepergian Devan, Vania bersiap untuk berangkat ke resto. Seperti biasa ia akan berangkat ke resto dulu untuk menukar motor maticnya dengan mobil resto untuk menjemput Juna.
"Mama atit?" tanya Juna karena melihat mata Vania yang nampak masih sembab.
"Enggak sayang, tadi mama ada debu yang masuk ke mata mama" kata Vania berbohong.
Vania menjalankan mobil kembali ke resto untuk melanjutkan pekerjaannya sambil menemani Juna bermain di ruangannya.
__ADS_1
"KIA tolong kesini sebentar" panggil Vania ke salah satu karyawannya yang bernama Kia untuk menuju ke ruangannya.
Kia masuk ke ruangan managernya. Ia terdiam melihat penampilan managernya yang berbeda seperti biasanya. Tak ada cepol rambut ataupun kacamata yang bertengger di atas hidungnya.
"Kenapa diam saja, Ki. Sini" ajak Vania melambaikan tangannya karena Kia hanya berdiri di ambang pintu.
"Iya mbak, maaf. Saya cuma sedikit terkejut tadi lihat mbak Dhani yang kelihatan beda hari ini, tambah segar dan cantik" puji Kia sambil berjalan mendekat.
Vania tersenyum, "makasih Ki. Tolong temani Juna main di belakang sebentar ya, saya harus menyelesaikan kerjaan dulu" lanjutnya meminta tolong dan Lia mengangguk.
"Juna main sama mbak Kia dulu ya, mama mau beresin pekerjaan mama sebentar" katanya ke Juna
"Oke mama"
"Ayo Juna, kita ke taman belakang resto saja ya" ajak Kia menggandeng Juna.
Vania mengecek beberapa laporan dua hari yang lalu karena kemarin cuti.
"Huft, baru cuti sehari saja pekerjaan sudh menumpuk" kata Vania mengeluh karena sudah hampir jam makan siang pekerjaannya baru selesai.
Vania mengambil ponsel yang sedari belum ia keluarkan dari tasnya. Ia membuka layar ponsel. Tidak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Devan.
Vania merasa gusar. Ia beranjak dari duduknya. Ia tidak ingin terus memikirkan sesuatu yang untuk tentang suaminya. Vania berjalan ke taman belakang untuk menemui putranya.
"Juna, kita makan siang dulu, sayang" panggilnya membuat Kia mengajak Juna berdiri dan menghampiri Vania.
"Makasih ya Ki, sudah nemenin Juna" ucap Vs ia ke Kia.
"Sama-sama mbak Dhani, kalau begitu saya permisi kembali bantu yang lain dulu"
"iya" jawab Vania mengangguk.
Vania mengajak Juna makan siang terlebih dahulu sebelum akhirnya mengajak Juna pulang.
Sore harinya seperti biasa Sherin menjemput Juna untuk pulang dari rumah mama angkatnya.
"Kak Devan mana?" tanya Sherin ke Vania.
"Nggak ada, dia ada perjalanan bisnis di Kalimantan"
__ADS_1
"Lo nggak jadi ikut balik ke Jakarta?"
"Jadi Sher, cuma gue harus nungguin dia balik jemput kesini dulu. Lo udah tahu kalau dia ngajakin balik ke Jakarta?"
"Dia udah telepon gue sih kemarin" jawab Sherin
"Emmm... nggak apa-apa kan Sher?" tanya Vania ragu-ragu.
"Van, gue selalu dukung apapun yang terbaik buat lo. Apalagi sekarang yang minta suamimu. Ikutlah bersamanya. Jangan pikirkan soal resto, aku akan mencari pengganti yang bisa mengurusnya" jawab Sherin menepuk pelan lengan Vania.
Vania tersenyum dan memeluk tubuh Sherin, "makasih ya Sher, Lo udah banyak banget bantu gue".
Sherin menarik diri dari pelukan Vania. "Gue nggak ngelakuin apa-apa, Van. Gue yang harusnya bilang makasih, Lo udah mau ngurus resto kecil gue sampe berkembang pesat seperti saat ini"
Vania senyum haru mendengar jawaban Sherin.
"Ya sudah gue pulang dulu ya, kasihan laki gue kalau sampai rumah lebih awal" pamit Sherin sambil terkekeh.
"Iya hati-hati" jawab Vania. "Juna, mami ngajakin pulang, sayang" katanya menoleh ke Juna yang sedang asyik bermain mobil-mobilan.
"Iya mami".
Juna yang sangat penurut degan mami dan mamanya itu langsung beranjak dan menggandeng tangan maminya.
"Dadah mama" kata Juna mencium.pipi Vania dan kemudian menggerakkan telapak tangannya sebelum pergi.
Kini Vania sendiri di rumah. Ia bolak balik melirik ke layar ponselnya. Namun hasilnya tetap sama, tak ada pemberitahuan dari Devan yang tertera disana. Perasaan gusar dan cemas kembali menyelimutinya saat tak mendapati kabar dari suaminya.
Hingga malam menjelang, Vania mencoba terus berfikir positif meski hatinya selalu dipenuhi ketakutan.
Vania pergi ke teras depan. Memandang terangnya bulan dan bintang yang menghiasi malam.
Vania mendongakkan wajahnya, memejamkan matanya mencari kedamaian dalam hatinya.
"Selagi kita masih memandang langit yang sama, kurasa akan baik-baik saja. Kau telah menjadikan penantian untuk membuktikan kesungguhanmu. Aku pun begitu, aku akan menanti untuk pembuktian cinta sejati" batinnya penuh keyakinan.
Vania masuk ke dalam rumah karena udara malam yang begitu dingin menyelimuti kota Surabaya waktu itu. Ia menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Tak lupa ia mengambil ponselnya agar dekat dengannya. Ia tak ingin melewatkan satu kabar pun dari suaminya.
Percuma juga mencari berita tentang suaminya di media. Lelaki itu seolah menutup semua berita tentang urusan pribadinya di media semenjak kepergian Vania ke Surabaya.
__ADS_1