Cinta Vania

Cinta Vania
Wanita Beruntung Menjadi istrimu


__ADS_3

Mobil yang membawa Devan dan Vania telah sampai di rumah sakit setelah mendapat pesan singkat dari mama Karina.


Vania segera turun dari mobil dan berlari melewati koridor rumah sakit menuju ruang perawatan papanya.


Devan yang merasa khawatir dengan gadis itu segera mengejar dari belakang.


"mama, papa mana ma?" tanya Vania cemas saat melihat mamanya berada di luar ruangan dengan menangis.


"papa masih ditangani dokter di dalam, sayang" jawab mama Karin dengan berlinang air mata.


Vania duduk di kursi tunggu depan ruangan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena menangis.


Tak lama kemudian Adit datang dengan setengah berlari menghampiri tiga orang yang ada di depan ruangannya.


"apa yang terjadi, Ma, Van?" tanya Adit khawatir. Namun mama Karin tak menjawabnya, dia hanya menatap putranya dengan berlinang air mata.


Adit merasa bingung karena tidak mendapatkan jawaban dari kedua wanita itu.


"tenanglah dulu, dokter sedang menangani beliau di dalam" kata Devan sambil menepuk bahu Adit.


Mereka berempat pun menunggu di luar dengan perasaan was-was. Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan membuat semua orang yang ada disana berjalan mendekat.


"bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya mama Karin.


"pasien masih belum sadar, dia terlalu lelah sehingga menyebabkan pernafasannya terganggu, akibatnya paru-parunya tidak bisa bekerja dengan maksimal. Dan mohon maaf dengan berat hati saya sampaikan peradangan paru-paru yang dialami pasien mengalami kerusakan yang cukup parah"


Vania dan Mama Karin seketika menangis mendengar penjelasan dokter. Sedang Adit hanya mengusap kasar wajahnya sambil terus beristighfar.


"saya sarankan pasien dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar untuk mendapatkan pengobatan yang lebih bagus karena peralatan disini belum lengkap untuk menangani penyakit beliau" imbuh dokter.


"terimakasih dok" kata Adit lemah


"baik, saya permisi dulu kalau begitu" pamit dokter meninggalkan mereka.


" kak, bagaimana kalau kita ke Healthy Hospital saja, disana peralatan sudah lengkap dan dokter spesialis yang menangani Oom Firman juga ada disana" kata Devan menyarankan.


"iya benar kata nak Devan, Dit" kata Mama Karin.

__ADS_1


"baiklah, mama sama Vania temani papa dulu, aku akan mengurus administrasi disini, dan Devan, tolong bantu aku menghubungi rumah sakit itu agar menyiapkan semuanya" kata Adit yang diangguki oleh Devan.


Adit bergegas menuju ruang administrasi untuk mengurus perpindahan papanya. Sedang Devan menghubungi dokter spesialis paru-paru di Healthy Hospital dan memintanya untuk menyiapkan semuanya.


Setengah jam kemudian pak Firman siap dipindahkan ke Healthy Hospital.


Devan masih dengan sabar menemani anggota keluarga yang sedang dirundung kesedihan itu.


Sesampainya di rumah sakit tujuan, dokter Kevin yang menjadi spesialis paru-paru segera menangani pasiennya.


"bagaimana ayah saya dok?" tanya Adit saat dokter Kevin keluar dari ruangan


"pasien sudah lebih baik setelah mendapatkan alat bantu yang ada. Kami akan segera memindahkannya ke ruang perawatan"


"pindahkan ke ruang VVIP atas dok" kata Devan yang sudah seperti perintah. Ruangan itu adalah ruangan VVIP khusus untuk para keluarga pemilik saham.


Dokter pun mengangguk. Tak ada siapapun yang berani membantah perintah orang yang mempunyai jabatan tertinggi di rumah sakit itu.


Pasien dipindahkan ke ruang yang diminta oleh Devan. Ruangan itu cukup besar dan beruntungnya bukan ruangan ICU seperti saat Ditya dirawat dulu sehingga mereka berempat bisa menunggu di dalam.


"Adit, kamu pulang dan istirahatlah dulu, kasihan Renata harus kau tinggal" kata Mama Karin ke Adit.


"kak, aku akan menemani mereka, Aku bisa menjaga mereka. Kamu pulanglah, kasihan istrimu" Kata Devan.


"nak Devan benar, Renata sedang hamil besar, mama tidak mau dia sampe stress dan banyak pikiran, karena akan berakibat pada kehamilannya. Mama yakin saat ini dia sedang cemas" kata Mama


"baiklah" kata Adit, "terimakasih atas semua bantuanmu, aku titip keluargaku. Besok pagi aku akan kembali" lanjutnya menepuk bahu Devan.


Devan mengangguk dengan tersenyum lembut diikuti oleh kepergian Adit.


"Tante pasti lelah, istirahatlah dulu... aku akan menjaga beliau" kata Devan


"tante masih ingin menemani suami tante"


"saya mengerti, tapi tante juga harus menjaga kesehatan. Jangan sampai tante ikut sakit dan tidak bisa menjaga Oom"


"baiklah, tante akan tidur sebentar" kata Mama Karin karena perkataan Devan ada benarnya. Ia pun menaikkan tubuhnya diatas sofa yabg ada di ruangan itu. Dan tak butuh waktu lama ia sudah tertidur karena malam sudah larut.

__ADS_1


Devan berjalan mendekati Vania yang duduk di samping ranjang papanya. Gadis itu terus menangis dan menggenggam tangan papanya.


"Van, tidurlah, jangan sampai kamu sakit" kata Devan lembut.


Vania hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh.


"Dengarkan aku" kata Devan memaksa Vania dengan lembut agar menoleh dan menatap dirinya. Vania melepas genggaman tangannya dari papanya.


"kamu sudah cukup banyak mengeluarkan air mata hari ini, kamu harus istirahat. Biar besok aku yang mengurus ijin kerjamu" kata Devan lembut.


Air mata Vania justru semakin deras mendengar perkataan Vania. Gadis itu begitu rapuh, bahkan matanya sedikit bengkak karena menangis.


"aku takut..." katanya dengan bahu yang bergetar karena menangis.


Devan mengusap air mata di pipi Vania dengan kedua ibu jarinya. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu. Seolah memberikan semangat dan menyalurkan energinya agar gadis itu tenang.


"yakinlah semua akan baik-baik saja" kata Devan lembut.


Vania merasa tenang setelah mendengar penuturan dari Devan. Ia pun mau beristirahat meski hanya beberapa jam saja.


*****


Fajar menyingsing, Mama Karin mulai membuka matanya dan bangun. Ia melihat Devan yang sudah banyak menolongnya itu masih terjaga dan dengan sabar duduk disamping ranjang pasien. Ia pun menghampiri pria muda itu.


"Nak, makasih banyak buat semuanya" kata Mama Karin menatap lekat Devan.


"tante, Oom Firman sudah seperti orangtua saya. Kalian tak perlu sungkan" kata Devan.


"kamu begitu baik, beruntung wanita yang akan jadi istrimu kelak... Maaf jika putri tante sudah menyia-nyiakanmu dulu"


"tante, jangan seperti itu. Saya hanya merasa beruntung kemarin pulang bersama Vania. Jika tidak, saya mungkin tidak akan pernah tahu apa yang terjadi"


Mama Karina tersenyum bangga pada lelaki yang ada di hadapannya.


"baiklah, tante sholat subuh dulu, setelah itu kamu bisa pulang istirahat" kata Mama Karin yang diangguki oleh Devan.


Devan pun berpamitan pada mama Karin setelah wanita paruh baya itu selesai sholat.

__ADS_1


Setelah kepergian Devan, Mama Karin membangunkan Vania.


Vania yang awalnya bingung karena tidak melihat keberadaan Devan akhirnya mengerti setelah mendapat jawaban dari mamanya. Ia pun bangun dan bergegas mengambil wudhu untuk sholat karena waktu yang hampir habis.


__ADS_2