Cinta Vania

Cinta Vania
Tak peduli apapun yang terjadi


__ADS_3

"Sudah enakan, yang?" tanya Devan saat melihat istrinya keluar dari kamar mandi.


"Udah mendingan, mas" jawab Vania berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di samping suaminya.


"Mau makan apa? Biar aku kasih tahu Bu Tini"


"Nggak usah, mas. Aku pengen makan masakan mama, boleh?" tanya Vania memohon.


"Kamu masih sakit lho" kata Devan menolak halus permintaan istrinya


"Aku udah mendingan, mas. Lagi pula yang bikin kaya gini juga kamu. Masa iya capek-capek baru pulang perjalanan malah diajakin gituan sampai subuh. Kamu kuat aja, aku?" kata Vania mengomel tanpa henti membuat suaminya melipat bibir menahan senyum.


Devan merangkulkan tangannya di bahu Vania sambil menggerakkan kepala Vania agar bersandar di dadanya yang bidang


"Itu wujud dari rasa cinta dan rindu suami ke istrinya, sayang"


"Apaan... itu mah mesum namanya" sahut Vania mencebikkan bibirnya.


"Mesum sama istri sendiri kan boleh..." kata Devan membela diri. "Besok aja ya makan di rumah mama, kamu harus sehat dulu" lanjutnya.


"Mas, enggak mau" jawab Vania menegakkan badannya dan menghadap suaminya. "Aku udah sehat kok. Tuh nggak panas lagi" lanjutnya sambil meraih telapak tangan Devan dan menempelkan di dahinya.


Devan hanya diam tak lagi bisa mencegah keinginan istrinya yang keras kepala.


"Boleh ya, aku juga udah kangen banget sama mama dan orang-orang disana" rayu Vania bergelayut manja di lengan suaminya sambil mengedipkan matanya berulang-ulang.


Devan mendengus kesal mendengar istrinya yang bermanja-manja padanya.


"Matanya biasa aja sayang. Jangan sampai bikin aku pengen makan kamu lagi lho"


Vania spontan melepaskan tangannya dari lengan Devan karena takut suaminya itu akan menerkamnya lagi tanpa ampun.


Devan tertawa berhasil mengerjai istrinya yang sudah merona pipinya karena takut dan malu.


"Jangan lah mas" pinta Vania memohon agar suaminya mengurungkan niatnya.


Devan semakin tertawa puas mendengar Vania yang benar-benar lugu dan mudah dikerjai olehnya.


"Kenapa sih malah ketawa" tanya Vania namun Devan tak juga menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Kamu ngerjain aku ya" tanya Vania kesal karena baru menyadari suaminya kembali usil.


Devan melebarkan kedua tangannya agar Vania mendekatkan diri memeluknya.


"Makasih, sayang. Mau dan bersedia bersamaku lagi. Aku tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan padaku" kata Devan penuh makna yang diakhiri dengan kecupan lama di pucuk kepala istrinya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Devan setelah melepas kecupannya.


"hemm"


"Bukankah dii Surabaya kamu jadi pinter masak. Tapi kenapa tubuhmu semakin kurus saja"


Pertanyaan Devan membuat Vania menjauhkan diri dari pelukannya.


"Istri mana yang bisa makan dengan baik saat jauh dari suaminya, mas" kata Vania jujur membuat Devan menyunggingkan senyum karena bangga merasa dicintai oleh Vania.


Devan menatap dalam kedua mata istrinya dengan senyum di bibirnya. Ia begitu bahagia mendengar Vania berkata seperti itu. Namun di sisi lain, ia juga kasihan karena Vania tak begitu merawat kesehatannya dengan baik.


"Ya sudah, siap-siap ya... sore ini kita berangkat ke rumah mama" kata Devan lembut.


*****


Mama Karina yang tengah menyiram bunga di taman depan langsung mematikan keran airnya saat mengetahui menantunya datang berkunjung. Namun langkahnya terhenti saat melihat kaki seorang wanita turun dari kursi penumpang samping kemudi. Ia menduga-duga wanita itu adalah pasangan baru menantunya yang akan dikenalkan padanya karena Vania tak juga kunjung kembali. Mama Karin merasa sedih dan tanpa sadar mengeluarkan air mata. Ia memejamkan kedua matanya menguatkan hatinya yang rapuh mengingat putrinya yang di pikirannya akan menjadi janda.


"Mama"


Suara seseorang memanggil namanya. Suara itu begitu familiar di telinganya. Sontak membuat Mama Karina membuka kedua matanya.


"Vania, putriku...." panggil Mama Karina sambil merentangkan tangan hendak memeluk putrinya.


Vania menghambur ke pelukan mamanya. Keduanya menangis bahagia saat bertemu untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terpisah.


"Kamu darimana saja, nak" tanya Mama Karin masih berurai air mata.


Vania menarik diri dari pelukan mamanya. Ia menatap lekat wajah orang yang sudah mengandung dan membesarkannya. Diusapnya air mata yang jatuh di pipi mamanya dengan kedua ibu jarinya.


"Aku tinggal di Surabaya, ma" jawab Vania.


"Untung suamimu bisa ketemu" kata Mama Karina sambil melirik ke arah Devan yang berjalan mendekat setelah memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, ma" sapa Devan sambil mencium punggung tangan mertuanya.


"Waalaikumsalam... makasih sudah membuat putri mama kembali" kata Mama penuh haru.


"Sudah tugas saya sebagai suaminya, ma" jawab Devan sesaat setelah melepaskan tangan mama mertuanya.


"Masuk yuk, sayang. Kakakmu pasti senang sekali melihat kalian datang" ajak mama Karina masuk ke dalam rumah.


"Adit... Rena... Lihat siapa yang datang" panggil Mama Rena ke anak dan menantu pertamanya.


Adit dan Renata keluar dari ruang bermain anaknya bersama Leona.


"Siapa, ma?" tanya Adit.


"Oo Devan, tumben kesini pas nggak weekend" celetuk Rena yang memang mereka hanya melihat Devan karena tubuh Vania terhalang lemari kaca besar.


"Sini dulu... Devan kesini nggak sendiri" panggil Mama Karina sambil mengayunkan jari tangannya.


Adit dan Rena berjalan mendekati mamanya. Ia terkejut saat mendapati Vania disana.


"Vania" Teriak Rena sambil membungkam mulutnya tak percaya. "Ini beneran kamu?" tanyanya memastikan.


Vania mengangguk dan tersenyum penuh haru. Kedua wanita itu langsung berpelukan melepas rindu. Kemudian Adit bergantian memeluk adik semata wayangnya.


"Darimana saja kamu? kenapa nakal sekali. Apa kau tidak tahu kami semua mengkhawatirkanmu. Apalagi suamimu. Apa kau tak kasihan sedikitpun padanya. Kami pikir dengan pergi semua masalah akan selesai? huh? Jangan pernah ulangi lagi. Kasihan suamimu harus kesana kemari mencarimu" kata Adit mengomeli adiknya dengan masih memeluknya.


Vania melepaskan diri dari pelukan kakaknya.


"Aku sudah banyak salah sama kalian. Maaf sudah mengecewakan kalian" kata Vania sedih. Ia merasa bersalah pada orang-orang yang sudah menyayanginya, "terutama dia" lanjutnya melirik ke arah suaminya dengan senyum getir.


Devan berjalan mendekati istrinya dan mengelus punggung Vania.


"Tak peduli apapun yang terjadi di masa lalu. Yang terpenting kau kembali dan kita semua bisa kembali bersama dalam keluarga" kata Devan lembut membuat semua orang tersenyum.


"Mama, itu siapa?" tanya gadis kecil berkuncir kuda menarik rok Rena.


Devan duduk berlutut menyeimbangkan gadis kecil yang menjadi keponakannya dan sering bermain bersamanya itu. Ia mengangkat tubuh kecil yang ada di hadapannya dan berdiri menghadap Vania


"Leona sayang... ini aunty Vania, adiknya papa Adit. Aunty Vania ini istrinya uncle. Coba salim dulu sama aunty" kata Devan memberikan penjelasan pada keponakannya selembut mungkin.

__ADS_1


Vania tersenyum dan tak menyangka ternyata suaminya sedekat itu pada keponakan iparnya.


__ADS_2