Cinta Vania

Cinta Vania
Sebuah Keluarga?


__ADS_3

Pagi harinya Devan berangkat ke kantor. Hari ini ada meeting rutin perusahaan induk dan anak cabang.


Meeting berlangsung cukup lama karena banyak proyek yang harus dibahas. Hingga sore hari, meeting baru selesai. Semua orang keluar dari ruang meeting. Tak terkecuali Adit dan Devan. Dua saudara ipar itu keluar bersamaan sebelum berpamitan.


Ronald yang baru saja melihat atasannya sudah kembali di ruang kerjanya segera mendatangi.


"Maaf boss, sejak meeting tadi ponsel anda terus berbunyi" kata Ronald sambil menyerahkan ponsel atasannya yang dititipkan padanya.


Devan menerima ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Sita, tidak biasanya ia menghubungiku berulang kali" gumam Devan melihat nama Sita tercantum di lima panggilan tak terjawab.


Devan menelepon kembali nomor Sita. Tak lama kemudian panggilan tersambung.


"Hallo"


"Hallo Ta, tadi telepon ya? Sorry tadi lagi meeting"


"Enggak, cuma mau nanya. Kamu lagi di Surabaya ya?"


"Surabaya? enggak. Aku di Jakarta kok. Emang kenapa sih?"


"Enggak... tadi kan aku lagi main sama putriku di Playground sebuah mall di Surabaya. Eh aku kaya lihat Vania sama anak kecil cowok usia 2 tahunan gitu. Mungkin aku salah lihat kali ya.. ku pikir kalian di Surabaya"


"Kamu yakin itu Vania?" tanya Devan penasaran.


"Aku sih yakin karena sudah tiga kali ini melihatnya. Tapi karena kamu bilang nggak lagi di Surabaya, aku jadi ragu. Berarti aku salah. Lagian juga penampilan wanita itu beda, rambutnya pendek pakai kacamata. Vania kan nggak gitu. Terus anak kecil itu, setau aku kalian belum punya anak. Mungkin aku yang salah lihat kali"


"Ta, bisa kamu katakan di daerah mana kamu bertemu dengannya?"


"Di pusat kota jalan XXX. Kenapa memang?"


"Firasatku yang kau lihat wanita itu memang Vania"


"Maksudmu?"


"Aku sudah tiga tahun lebih kehilangan kontak dengannya. Kami punya masalah yang belum terselesaikan. Dia pergi entah kemana. Aku minta tolong sama kamu buat konfirmasi ke aku jika melihatnya lagi"


"Oo baiklah kalau begitu"


"Makasih ya Ta"


"oke"


Panggilan terputus. Devan merasa antusias mendapatkan berita dari Sita. Ia yakin betul wanita itu adalah Vania. Mungkin penampilan saja yang kini berubah sehingga membuat Devan kesulitan menemukannya.

__ADS_1


*****


Hari berikutnya di jam yang sama. Sita mengajak anaknya bermain di tempat yang sama seperti sebelumnya. Ia berharap bisa bertemu dengan wanita yang dimaksud lagi.


Cukup lama Sita menunggu. Hingga waktu mulai sore, Sita memutuskan untuk pulang. Namun saat Sita hendak melangkah, ia mendengar suara seorang wanita berlarian kecil sambil memanggil seseorang.


"Juna... jangan lari sayang"


Sita menoleh ke arah suara. Ya, itu adalah suara wanita yang dicarinya.


"Kita langsung pulang saja ya, sudah sore. Besok saja kita main lagi kesini, oke?"


"Oke"


Wanita itu mengajak anak laki-laki bernama Juna keluar mall. Ia menuju mobilnya yang terparkir dan melajukannya keluar area mall.


Sita diam-diam mengikuti arah mobil itu melaju.


"Mama, mau uyang? (Mama, mau pulang?)" tanya Sienna, putri kecil Sita.


"Enggak sayang, kita jalan-jalan dulu ya"


"he'em"


Sita terus mengikuti pergerakan mobil di depannya. Mobil itu berhenti di sebuah resto mewah di kawasan pertokoan.


"Mamam mama" kata Sienna.


"Iya sayang, kita makan ya"


Sebelum masuk resto, Sita mendekati seorang tukang parkir yang ada disana.


"Pak, boleh tanya tadi yang barusan masuk siapa ya? kok kayanya dia sering banget kesini lihat caranya menyapa bapak"


"Oo itu namanya Mbak Dhani, dia manager resto ini. Mbaknya kenal?"


"Enggak pak, saya pikir dia teman saya. Ya sudah makasih ya pak, saya masuk dulu" kata Sita ramah.


"Iya monggo, mbak"


Sita memberikan informasi yang ia dapat dari tukang parkir. Dalam waktu itu juga Devan meminta Ronald untuk menghandle pekerjaan kantor dan menyiapkan tiket penerbangan menuju Surabaya. Karena akan memakan waktu lama jika harus menunggu persiapan dengan jet pribadi.


Tepat jam delapan malam, Devan sampai di bandara Juanda Surabaya. Ia dijemput oleh sopir yang bertugas di kantor cabangnya yang ada disana. Devan meminta untuk langsung diantar menuju kediaman Sita lewat alamat yang sudah dikirimkan.


"Istirahatlah dulu, besok kami akan mengantarkanmu kesana. Kau bisa pakai mobilku, biar aku berangkat dengan suamiku" kata Sita saat Devan sudah sampai di rumahnya.

__ADS_1


"Terimakasih ya... maaf merepotkan kalian"


"Tak perlu sungkan, bukankah kau teman istriku. Sudah selayaknya aku juga membantu" jawab suami Sita.


Devan beristirahat di kamar tamu rumah Sita. Ia harus banyak istirahat agar besok bisa puas mencari keberadaan Vania.


*****


Mentari telah menampakkan sinarnya yang hangat, menerangi ruangan kamar yang ditempati Devan disebuah rumah memiliki banyak jendela besar. Angin berhembus semilir lembut, menerpa daun daunan pohon dengan ukuran besar yang menari mengikuti arah berhembusnya angin.


Hari ini Devan begitu bersemangat. Ia sudah tak sabar bertemu dengan Vania.


"tokk..tokk..tokk...Dev..." Suara Sita mengetuk pintu membuat Devan melangkah membukanya.


"Sarapan dulu ya di bawah, setelah itu kita berangkat" kata Sita saat pintu kamar terbuka.


"iya, makasih ya, Ta. Bentar lagi aku turun"


Sita dan suaminya mengantarkan Devan dengan mobil yang berbeda.


Devan terus mengikuti pergerakan mobil di depannya agar tidak kehilangan arah.


Sesampainya di seberang jalan depan resto, dia mobil itu menepi. Sita turun dari mobilnya menghampiri Devan yang ada di mobil belakangnya.


"Kenapa Ta?" tanya Devan


"Kita udah sampai. Itu restonya" kata Sita menunjuk resto yang ada di seberang jalan.


"oke"


"Tapi sorry aku bisanya cuma nganter sampai sini doang ya"


"iya nggak apa-apa. Makasih ya" kata Devan dan kemudian Sita pergi.


Devan dengan sabar menunggu di dalam mobil. Sesaat kemudian ia melihat see seorang wanita yang diduga bernama Dhani. Devan memperhatikan jelas wanita itu. Kali ini tidak salah lagi. Dhani adalah Vania. Ia paham betul istrinya meski penampilannya berubah.


Devan mengikuti Vania yang masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya keluar resto.


"Dia bisa menyetir sekarang" gumam Devan memperhatikan mobil di depannya.


Mobil Vania berhenti di sebuah mall yang disebutkan oleh Sita. Devan masih terus mngikuti pergerakan Dhani. Wanita itu bertemu dengan seorang anak kecil


bersama seorang laki-laki yang diduga ayah dari anak itu. Vania nampak akrab pada laki-laki itu membuat hati Devan sedih.


"Mungkinkah mereka sebuah keluarga? Tapi Vania tak mungkin menikah dengannya. Aku belum pernah menceraikannya" batin Devan dalam hati.

__ADS_1


"Tidak... aku tidak akan berhenti sebelum menemukan kenyataan yang sebenarnya" katanya berbicara sendiri sambil terus memperhatikan Vania dan lelaki itu.


__ADS_2