
"Jujur saya hanya tidak ingin menyakiti hati Vania, tante. Jika ditanya cinta atau tidak, mungkin tante sudah tahu semuanya dari Oom Firman. Saya hanya merasa tidak berhak dan tidak pantas untuk mengatakannya di depan Oom dan Tante setelah penolakan dari Vania" kata Devan pelan.
Kedua orangtua Vania terdiam seketika mendengar penjelasan Devan. Mereka merasa malu dan kecewa atas perlakuan putrinya yang mengabaikan Devan, terutama pak Firman. Bukan kebanggaan atas status Devan sebagai milyarder muda, melainkan ia melihat ketulusan hati Devan yang diyakininya mampu membahagiakan dan menjaga putrinya.
"Baiklah oom... tante... Jika sudah tidak ada yang perlu diobrolkan, saya mohon pamit" kata Devan yang tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan di depan orangtua Vania.
Pak Firman dan Bu Karina mengangguk pelan.
Devan beranjak dari duduknya diikuti oleh pemilik rumah.
Sepasang suami istri itu mengantar tamunya sampai di depan rumah.
Devan memutar kembali arah mobilnya dan keluar dari halaman rumah Vania. Baginya tak perlu menunggu gadis itu kembali untuk sekedar pamit.
Sekembalinya Devan, pak Firman pergi menemui putrinya. Ia memasuki kamar Vania yang tidak ditutup.
"eh papa" panggil Vania terkejut karena tiba-tiba papanya datang. Gadis itu sedang duduk menghadap layar laptopnya di meja belajar.
"kamu lagi ngerjain skripsi?" tanya papa Firman sambil duduk di tepi ranjang putrinya.
"iya pa, Vania mulai masuk bab satu. Doain ya pa, Vania bisa cepet selesai dan wisuda" kata Vania senyum
Papa Firman menganggukkan kepalanya. Vania beralih kembali menatap layar laptopnya.
"tumben papa cari Vania, bukan untuk menjodohkan Vania lagi dengan kak Devan kan?" tanya Vania tanpa basa-basi sambil terus menatap laptopnya dan mengetik. Ia menduga kedatangan papanya ada maksud tertentu karena sejak perselisihan itu papanya tidak pernah menemuinya di kamar.
Papa Firman menghela nafas berat dengan pertanyaan putrinya. Ia tak mengnyangka putrinya bisa menebak apa yang sedang ada dipikirannya.
"nak...." panggil papa Firman melemah. "kemarilah sebentar" ajak papa Firman sambil menepuk tempat di sebelahnya.
__ADS_1
Vania menoleh ke arah papanya dengan tatapan datar.
"maaf Pa... kalau untuk membicarakan tentang kak Devan, Vania nggak punya waktu" kata Vania sedikit kesal.
"Papa tidak akan membicarakan itu"
Vania mengikuti perintah papanya. Ia beranjak dari duduknya dan berpindah di samping papanya.
"maaf kalau papa terlalu menekanmu. Papa memang salah sudah egois memaksakan keinginan papa. Kamu harus tahu, semua orangtua di dunia ingin hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Maaf jika papa sudah melakukannya dengan cara yang salah. Papa hanya ingin melihat anak-anak papa menikah, salah satunya dengan menemani putra dan putrinya menikah. Dan kamu tahu, satu impian papa sudah terwujud. Papa bisa berada di sisi kakakmu di hari pernikahan. Papa sudah tidak muda lagi, semakin hari umur papa akan berkurang. Papa juga tidak sesehat dulu lagi. Impian papa terhadapmu hanya ingin menemanimu saat kelulusan dan pernikahanmu. Setidaknya jika papa tak mampu lagi menjadi wali atas dirimu, Papa masih bisa berada di tengah-tengah kedua peristiwa penting dalam hidupmu itu. Sekali lagi maafkan papa yang sudah menyakitimu" kata pak Firman dengan bergetar karena menangis. Ia tak mampu lagi menyembunyikan air matanya. Ia beranjak dan berjalan keluar dari kamar putrinya.
Vania sedih mendengar kata-kata papanya. Ia merasa bersalah sudah mempunyai pikiran buruk tentang papanya. Ia tak menyangka alasan papanya melakukan perjodohan ini. Vania tahu akhir-akhir ini papanya sering mengeluh karena sakit. Ia tak ingin semakin membebaninya dengan banyak pikiran.
Vania berjanji untuk mewujudkan impian paoanya. Ia harus giat mengerjakan skripsi agar bisa lulus tepat waktu. Ia tak ingin kebahagiaannya terlewatkan begitu saja tanpa kehadiran papanya.
Hari-hari telah berlalu. Vania telah menepati janjinya. Ia bisa menyelesaikan kuliahnya sesuai waktu yang ditargetkannya sendiri.
Tiba saatnya Vania mencari pekerjaan. Ia duduk di sofa ruang keluarga sambil fokus melingkari beberapa lowongan pekerjaan di surat kabar yang telah dibelinya.
"eh ada kak Rena" Vania berdiri menyambut kakak iparnya yang baru saja datang. Adit dan Vania memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tuanya. Ia membeli sebuah rumah sederhana sebagai tempat tinggal bersama keluarga kecilnya.
Ketiganya duduk di sofa. Renata yang belum pernah melihat kebiasaan Vania akhir-akhir ini menjadi penasaran.
"kamu ngapain Van?" tanya Renata
"nyari lowongan kerja dia, yang" sahut Adit
"lho...kenapa nggak kerja di tempat kakakmu aja sih"
"nggak ah, nggak seru kak, yang ada para pegawai lain segan padaku karena aku anak papa, bukan karena hasil kerjaku"
__ADS_1
"kamu mau pekerjaan?" tanya Adit yang diangguki Vania
"kakak ada? dimana?" tanya Vania antusiaS
"yakin kamu beneran mau?" tanya balik Adit yang diangguki Vania
"serius?"
Vania mengangguk lagi. "jangan bikin aku penasaran deh... kakak jawab dulu dimana, nanti aku bikin surat lamaran kerjanya"
Kantor induk SA Group ada lowongan sebagai asistem manager, kamu bisa daftar disana"
"itu artinya kantor kak Devan?"
"iya, kenapa? kamu keberatan?" tanya Adit enteng.
"enggak... cuma aku sedikit takut..." jawab Vania dengan ekspresi ragu-ragu
"kenapa?"
"dia jadi dingin sejak aku menolaknya"kata Vania membuat kedua kakaknya tersenyum.
"Tenang aja, kamu mungkin tidak bertemu dengannya meski satu kantor, karena semua akses tentang pekerjaan dilimpahkannya ke sekertaris pribadinya. Dia hanya akan turun langsung untuk mengurus klien. Disana gajinya lumayan lho" kata Adit.
Vania nampak berfikir dengan tawaran kakaknya. "tapi aku belum punya pengalaman kerja kak"
"tidak ada persyaratan tentang pengalaman kerja dek... Ya itupun kalau kamu mau sih, kakak yakin kamu akan diterima. Kamu sudah sesuai kriteria syarat yang diajukan. Jurusanmu juga cocok"
Vania mulai diam. Apa salahnya mencoba. Lagi pula dia tidak mungkin bertemu langsung dengan petinggi perusahaan itu.
__ADS_1
"atau kamu jadi asisten kakak aja di kampus?" goda Renata karena melihat adik iparnya diam.
"ogah kak... Vania nggak nyambung sama jurusan organ tubuh dan tanaman" Tolak Vania cepat karena kakak iparnya adalah dosen biologi membuat sepasang suami istri itu tertawa puas karena sudah mengerjai adiknya.