Cinta Vania

Cinta Vania
Kejutan


__ADS_3

Kepergian Devan ke Surabaya tak butuh waktu lama. Ia mengatur waktu secepat mungkin agar segera kembali ke Jakarta sebelum gelap. Dan akhirnya, ia bisa tepat waktu.


Devan pulang ke rumah tepat pukul lima sore. Karena tak menemukan istrinya di lantai bawah, Ia langsung menuju ke kamar.


"Sayang" panggil Devan setelah membuka pintu kamar. Ia meletakkan tas kerjanya di atas tempat tidur.


"Lho, tumben jam segini udah pulang. Tidak biasanya akhir bulan pulang sore" kata Vania sambil mendekat pada Devan. Vania meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya.


"Ngapain aja seharian di rumah?" tanya Devan.


"Cuma tiduran sambil baca novel di kamar" jawab Vania seraya duduk di tepi ranjang


"Aku ada kejutan buat kamu" ucap Devan ikut duduk di samping istrinya.


"Apa itu?" tanya Vania penasaran.


"Syaratnya lakuin dulu kebiasaan kamu seperti dulu"


"Maksudnya?" Vania mengernyitkan keningnya karena tak mengerti maksud dari perkataan suaminya.


"Ya seperti dulu, kalau suamimu ini pulang. Biasanya kamu akan mendekat dan minta dipeluk, terus bantuin aku buka jas dan dasi. Kok akhir-akhir ini tidak pernah?" tanya Devan lembut agar tak menyakiti hati istrinya.


"Oo....itu" jawab Vania hanya manggut-manggut lalu diam dan acuh.


"Gitu doang?" tanya Devan heran karena istrinya benar-benar acuh.


"Lha terus aku harus bagaimana?"


"Ya langsung dilakuin kek, atau kalau tidak kasih alasan lah, yang. Ini malah diem doang" ungkap Devan sebal terhadap wanita yang kini ada di depannya.


"Ya....Habisnya parfum kamu bau, ,mas. Aku nggak tahan nyium baunya" jawab Vania sambil menutup hidungnya dengan salah satu tangannya.


Devan menciumi kedua lengannya sendiri. Ia bahkan tak segan-segan mengangkat tangannya dan mencium kedua ketiaknya.


"Tidak bau kok. Malah wangi banget. Lagian kan ini juga parfum pilihan kamu, sayang" protes Devan.


"Tapi beneran bau, mas. Udah sana kamu mandi dulu deh" usir Vania sambil mengibaskan tangannya. Ia benar-benar menolak akan bau yang ditimbulkan oleh suaminya.


"Kamu ini kenapa sih, yang?" tanya Devan meminta kejelasan karena istrinya selalu menolak untuk dekat dengan dirinya.


"Udah sana, buruan mandi. Atau aku muntah ini gara-gara nyium bau kamu"

__ADS_1


Vania mengusir suaminya untuk menjauh dan segera menuju kamar mandi. Ia tak memperdulikan pertanyaan yang suaminya utarakan.


Devan yang mulai kesal dengan tingkah istrinya melangkah menuju kamar mandi. Wajahnya ditekuk malas. Rasa jengah dan kesal memenuhi pikiran dan perasaannya.


Seperempat jam kemudian, Devan keluar dari kamar mandi dengan dada bidangnya yang terbuka dan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Tanpa kata ia berjalan menuju almari untuk mengambil baju gantinya. Ia tak lagi menghiraukan Vania yang tengah duduk selonjoran di sofa sambil memangku buku novelnya.


"Mas, beliin bakso dong" pinta Vania tiba-tiba.


Devan hanya diam dan cemberut. Ia berpura-pura tak mendengar permintaan istrinya dan masih dengan aktifitasnya.


"Mas...." panggil ulang Vania karena tak mendapatkan jawaban.


"Apa sih" jawab Devan menoleh malas.


"Katanya tadi mau kasih kejutan. Mana kejutannya?"


"Astaghfirullah...." Devan menepuk keningnya sendiri karena melupakan kejutan yang sudah disiapkannya. "Sebentar aku ganti baju dulu" lanjutnya seraya memakai kaos oblongnya dengan cepat. Ia tak lagi menghiraukan kekesalannya.


"Sudah, ayo" ajak Devan tergesa-gesa setelah mengenakan pakaian rumahannya. Ia menggandeng tangan Vania agar mengikuti langkahnya.


"Lho, kita mau kemana?" tanya Vania sambil terus membuntuti suaminya.


"Ngapain?"


"Udah ikut aja" jawab Devan.


Mereka berjalan menuruni tangga di lantai satu. Devan mengajak Vania di meja makan. Tampar dimana ia menitipkan kejutan yang disiapkannya pada Bu Siti. Namun, ia tak menemukan sosok Bu Siti disana.


Devan mengedarkan pandangannya mencari. Dan ia menemukan sosok yang dicarinya sedang berdiri menggendong anak laki-laki di depan almari penyimpanan snacks dan makanan ringan.


"Lho, itu yang digendong Bu Siti anak siapa?" tanya Vania ke suaminya. Jari tangannya menunjuk mengikuti sorot matanya.


"Itu kejutan buat kamu, sayang" jawab Devan mencubit lembut dagu istrinya.


"Bu Siti" panggil Devan membuat pemilik nama itu menoleh.


" Iya, tuan" jawab Bu Siti membuat anak kecil yang digendongnya ikut menoleh.


"Juna" teriak Vania girang. Vania tak menyangka anak laki-laki yang digendong Bu Siti adalah putra angkatnya.


Vania berjalan mendekati Juna. Ia begitu merindukan putranya. Begitu pula dengan Juna, anak itu tersenyum senang. Wajahnya tampak berseri-beri. Entah sudah berapa bulan mereka tidak bertemu. Dan hari ini pertemuan mereka mengobati kerinduan dan kesepian yang selama ini ibu dan anak itu rasakan.

__ADS_1


Vania mengambil alih Juna dari gendongan Bu Siti. Ia menciumi wajah mungil dan imut itu berulang ulang.


"Mama kangen banget sama kamu, sayang" ucap Vania hari.


"Juna juga kangen sama mama. Kenapa Mama tidak pernah mengunjungi Juna?" jawab anak kecil yang kini berusia tiga tahun lebih itu.


"Maafin mama, ya sayang. Habis papa sibuk banget mengurus kerjaan. Yang penting kan hari ini kita udah ketemu" kata Vania merapikan rambut putranya. "Kamu sudah makan?"


"Sudah sama Nek Siti" jawab Juna polos menunjuk ke Bu Siti yang berdiri tak jauh darinya.


Vania tersenyum ke Bu Siti dan mengucapkan terimakasih.


Bu Siti melanjutkan kembali pekerjaannya dan meninggalkan majikannya.


Vania mengajak Juna duduk di sofa keluarga sambil tertawa-tawa. Mereka begitu bahagia hingga melupakan sosok yang sejak tadi mengikutinya dan memperhatikan di samping pilar besar dengan muka yang ditekuk.


"Putranya saja yang ia perhatikan, akunya enggak. Nasib....nasib..." keluh Devan menggerutu karena diabaikan kehadirannya.


"O iya sayang, kamu kesini sama siapa?" tanya Vania ke Juna.


"Dijemput sama papa, ma" jawab Juna sambil menunjuk ke arah Devan.


Vania mengikuti gerak tangan Juna. Lalu ia tersenyum lembut.


"Sini, papa" pinta Juna agar Devan ikut mendekat.


Devan begitu senang mendapat ajakan dari putra angkatnya. Dengan girang ia pun mendekat dan ikut duduk di samping istrinya.


"Yang Juna bilang bener, mas?" tanya Vania ke suaminya.


Devan mengangguk cepat dengan senyum bangganya.


"Jadi ini yang kamu bilang kejutan?".


Devan mengangguk lagi.


"Kenapa tidak bilang dari awal sih kalau kamu ke Surabaya jemput Juna?"


"Ya, gimana mau bilang. Orang dari kemarin kamu cuekin aku terus. Jadi aku inisiatif jemput Juna kesini biar kamu jadi kaya dulu lagi ingat sama aku" protes Devan sambil cemberut.


"Maafin aku ya, mas. Entah kenapa kahir-akhir ini aku sering mual kalau terlalu dekat sama kamu. Makanya aku enggak mau dekat-dekat" kata Vania mengusap pipi suaminya. Berharap suaminya bisa mengerti akan penjelasannya.

__ADS_1


__ADS_2