
"hah.. pingsan? pantas saja kepalaku pusing" kataku mencoba duduk
"*ya sudah kamu istirahat saja disini. atau kamu mau makan sesuatu?"
"ah, tidak usah kak, aku akan kembali bergabung dengan teman-temanku*" jawabku sambil menurunkan kaki untuk turun dari ranjang UKS
"jangan... aku tidak mengijinkanmu melanjutkan kegiatan dengan keadaanmu yang seperti ini. istirahatlah sebentar, aku akan menemanimu. Sebentar lagi ospek juga akan berakhir. aku kan menghubungi panitia untuk memberikan ijin padamu" selah kak Andre memotong pembicaraanku dan menahanku untuk tetap tidak turun dari ranjang.
Kak Andre mengambil benda pipihnya dan keluar hendak menelepon seseorang. Kulihat Ana sedang mengembalikan minyak angin ke tempatnya semula.
"kak ana ya?" sapaku membuatnya menoleh
"kamu mengenalku? tanya balik Ana heran
"aku membaca nametag di seragammu" jawabku tersenyum
"oh iya ...aku lupa semua bisa tahu namaku hanya dengan membaca tulisan ini", ia tertawa menghampiriku dan mengulurkan tangannya
"aku Vania, salam kenal ya kak.. makasih buat semua bantuannya" kubalas uluran tangannya dan diapun mengangguk dengan senyum manisnya.
Tak lama kemudian Kak Andre masuk dan menghampiriku.
"ya sudah aku balik dulu ya Van, masih ada yang harus ku kerjakan. kamu cepat pulih..Andre akan menemanimu..." pamit Anna menyentuh tanganku
"makasih ya An" kata Andre yang diangguki oleh Ana.
Ana kemudian pergi meninggalkan kami berdua. situasi kemudian tiba-tiba hening.
Didalam ruangan dengan pintu yang masih tetap terbuka, Kak Andre mulai membuka obrolan "*kamu nanti pulang bareng aku aja, kita searah kan?"
"eh nggak usah kak, aku udah janji nanti mau pulang bareng Nadya*" kataku menolak dengan sopan
"*nggak apa-apa, aku anter kalian berdua"
"van, boleh aku tanya sesuatu*?" lanjut kak Andre
"tanya apa kak?" tanyaku balik
"Ditya itu pacar kamu?" tanya Andre serius menatap tajam kearahku
__ADS_1
"hah...maksudnya apa tanya kaya gitu, mana tatapannya berubah mengintimidasi lagi" gumamku pelan dan menoleh kesamping karena takut akan tatapannya
"van, kok malah bengong" lanjutnya mengagetkanku
"ah iya kak... eh ..maksudku enggak kak, kita cuma temen deket aja kog, kenapa ya?" jawabku gelagapan
"oh...nggak ada apa-apa, cuma kulihat kalian tampak akrab"
"kami akrab karena dulu waktu masih di SMP bertemu hampir setiap hari di sekolah dan kami juga sering melakukan kegiatan extra sekolah bersama"
"eh bentar ya kak, aku hubungi Nadya dulu, takutnya dia mencariku" lanjutku sambil mengambil ponsel didalam tasku yang diletakkan kak Andre diatas meja samping ranjang saat aku pingsan.
aku: "Nad, gue lagi di UKS, nanti kalo acara selesai lu kesini ya"
Nadya: "lu kenapa, pantes nggak ada balik"
aku: "aku tadi pingsan. udah nanti buruan kesini aja, kita pulang bareng dianter sama kak Andre"
Nadya: "oke"
"udah ngabarin Nadya?" tanya kak Andre melihatku memasukkan ponsel kembali kedalam tas
Tak berselang lama Nadya datang mengetuk pintu yang sudah terbuka
"Nad, sini.." kataku melambaikan tangan ke Nadya.
Nadya berjalan masuk menghampiriku dan tersenyum ke kak Andre. "*lu kenapa bisa pingsan mak?"
"nggak tau tadi tiba-tiba lemes"
"ah lu sih.....udah dibilangin sarapan dulu tapi malah nggak mau. gini kan jadinya malah lu sakit gini. kan mending dimarahin aja sama senior daipada ujung-ujungnya lu telat makan dan sakit*" marah Nadya kearahku. Aku hanya tersenyum mendengarkan ocehannya. Bagiku kemarahannya adalah bentuk perhatian dan rasa kasih sayangnya terhadapku.
"iya mak....iya...maaf ya mamak..." kataku cengengesan meredam marahnya.
Kak Andre yang mendengarkan obrolan kami hanya tersenyum. "ya sudah ayo pulang" lanjutnya mengajak kami menuju ke parkiran mobilnya
"lho...ada kak Reno didalam.." kataku saat melihat Kribo yang sudah duduk disamping kemudi mobil kak Andre.
"Kebagusan kali Van, panggil dia kribo aja" kata kak Andre menahan tawa. kribo yang mendengarnya hanya manyun dan mengerucutkan bibirnya. "sialan lu bro" umpat kribo meninju lengan Andre yang sudah duduk di balik kemudi. Aku dan Nadya tertawa lucu sambil memasuki mobil ke Andre.
__ADS_1
kak Andre kemudian menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Semuanya terdiam. Hanya terdengar suara musik lagu slow yang diputar oleh kribo.
"*kita nanti berhenti makan dulu ya*" kata kak Andre memecah keheningan.
"eh nggak usah Kak... kita langsung pulang aja" jawabku menolak sopan
"sebentar doang kok... bukannya kamu juga belum sampai makan dari tadi pagi" kata kak Andre mulai memaksa.
"udah ngikut aja cantik... biar gue juga dapat gratisan.. kan lumayan hemat uang jajan ..hahaha" sela kribo tertawa. Kami yang mendengar ucapan kribo ikut tertawa.
"mau ya...." kata kak Andre yang masih degan tawanya dan masih fokus menyetir tanpa menoleh kearah kami
"ya udah oke deh nggakpapa"
Kak Andri kemudian menghentikan mobilnya saat sampai di depan sebuah cafe. Dia lantas mengajak kami semua turun dan masuk ke dalam cafe yang tidak begitu ramai.
Kami duduk di bangku paling pojok di cafe tersebut agar lebih leluasa dan bisa melihat pemandangan jalan. Seorang pelayan menghampiri kami dan memberikan buku menu. Setelah menentukan pesanan, pelayan itu pun pergi.
Kami semua mengobrol santai dan bercanda di sana. Tiba-tiba benda pipih milik kak Andre berdering. ia mengambil dan melihat nama Devan tertera disana. kemudian dia tersenyum meletakkan kembali ponselnya tanpa mengangkat panggilan itu.
"kenapa nggak lu angkat, emang siapa sih" tanya kribo
"bukan siapa-siapa. nanti aja biar gue telpon balik.." jawab Kak Andre tersenyum.
Pelayan datang membawakan pesanan kami. kamipun menikmati pesanan masing-masing. Setelah menghabiskan makanan kami, kak Andre lalu berjalan menuju arah kasir untuk membayar dan menminta kami menunggu di mobil.
tak lama menunggu ke Andre sudah kembali dan segera melajukan mobilnya kembali untuk mengantar kami pulang terlebih dahulu.
---------------------
Ditempat lain, Devan sedang gelisah karena mendapatkan pesan yang telah dikirim Andre tadi siang dan baru sempat membukanya saat sampai di parkiran sekolah. Devan mencoba untuk menghubungi nomor Andre namun tak juga mendapatkan jawaban.
Devan akhirnya memutuskan untuk pulang dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Dia akan mencoba untung menghubungi Andre kembali setelah sampai dirumah. Saat hendak memasuki mobilnya, ia mendengar suara seseorang memanggil namanya. Dia adalah Sita. Gadis yang selama ini selalu mendekatinya. Sita pernah mengungkapkan perasaannya kepada Devan. Dia ingin Devan menjadi kekasihnya. Namun Devan dengan tegas menolaknya karena ia hanya menganggap Sita sebagai seorang teman.
meski sudah ditolak, usaha Sita tidak pernah berhenti sampai disitu. Sita justru semakin gencar mendekati Devan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**jangan lupa like dan vote ya...
__ADS_1
salam sayang selalu๐๐๐**