Cinta Vania

Cinta Vania
Menimang Cicit


__ADS_3

Suasana kafe yang cukup ramai membuat Vania mengernyit heran. Tak biasanya suaminya itu menyukai suasana dinner di tempat yang cukup ramai. Karena biasanya ia lebih memilih tempat yang tidak begitu banyak orang berlalu lalang.


Beberapa karyawan yang melihat kedatangan sepasang suami istri itu segera berhambur mendekat dan berdiri membentuk sebuah barisan berjajar menyambut kedatangan mereka dengan mempersilahkan masuk diikuti dengan menunduk.


Vania yang merasa bingung akan perlakuan para pegawai dan karyawan kafe hanya mengernyit heran karena merasa perlakuan mereka terlalu berlebihan dalam menyambut tamu. Vania menoleh ke arah suaminya seakan meminta jawaban atas kebingungannya. Namun, Devan hanya mengangguk pelan diikuti senyum manisnya. Vania yang mengerti akan maksud suaminya untuk diam dan menerima perlakuan para pegawai kafe akhirnya menurut saja.


Setelah melewati para pegawai yang menyambut kedatangannya, Devan dan Vania masuk ke dalam ruang VIP. Sampai disana datang seorang pria muda perawakan tinggi berumur tiga puluhan.


"Selamat malam pak Devan, apa ada yang perlu saya kerjakan? Sebentar lagi kasir akan membawakan laporan untuk minggu ini" kata laki-laki itu.


"Tidak perlu, pak Zian. Saya kesini hanya untuk mampir makan sekalian memperkenalkan istri saya sebagai pemilik kafe ini" kata Devan.


"Baik, pak. Sebentar lagi saya akan mengumpulkan sebagian karyawan di taman belakang"


"Tolong minta pelayan untuk buatkan menu seperti biasa, pak" minta Devan ke pak Zain.


"Baik, pak. Saya permisi" pamit pak Zain untuk keluar dari ruangan menjalankan perintah dari orang tertinggi di VAN Cafe.


Vania terkesiap mendengar perkataan Devan. Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung.


"Maksudnya? Kafe ini milikmu?" tanya Vania ke suaminya.


"Milikmu, sayang" jawab Devan meralat perkataan istrinya.


"Tapi____"


"Semua atas namamu, sayang. Jangan membantah. Oke!!!" sergah Devan tegas tanpa bermaksud membentak istrinya.


Tak ingin lagi memperdebatkan sesuatu yang bisa mengganggu kemesraan mereka, Vania akhirnya menurut saja dan tak lagi mengelak ataupun membantah perkataan suaminya.


Usai makan dan melakukan pertemuan singkat dengan para pegawai, mereka berdua pulang kembali ke rumah Oma.


*****


Pagi berikutnya mereka menghabiskan waktu berkumpul dan bercengkerama dengan Oma melepaskan kerinduan.

__ADS_1


"Kalian jadi pulang besok pagi?" tanya Oma sedikit sedih seakan tak rela ditinggal.


"Iya, Oma. Devan nggak mungkin ninggalin kerjaan lama-lama. Kami janji kapan-kapan bakalan kemari lagi mengunjungi Oma" jawab Devan menyenangkan Omanya agar tak bersedih.


"Oma akan menanti kunjungan kalian, semoga nanti saat kalian kemari sudah ada tanda-tanda Oma menimang cicit" kata Oma disertai senyum sumringahnya. Begitu pula Devan. Ia membalas perkataan Oma dengan senyumnya dan menjawab, " Aamiin, doakan kami Oma".


Namun hal yang berbeda terjadi dengan Vania, wajahnya berubah murung setelah mendengar percakapan nenek dan cucunya itu. Ada ketakutan tersendiri darinya jika tak mampu memberikan keturunan bagi keluarga suaminya.


Devan menoleh ke arah istrinya. Ia menyadari ekspresi Vania yang sedang tidak nyaman dengan obrolannya baru saja.


"Oma, kalau begitu kami istirahat dulu karena besok pagi sekali harus kembali ke Jakarta" pamit Devan menghentikan obrolan dengan sopan.


"Baiklah, Oma juga mau istirahat"


Sejoli itu kembali ke kamar dengan tangan Devan merangkul bahu Vania tanpa melepaskannya. Seolah memberikan kekuatan pada Vania jika ia tak akan memaksakan apapun pada istrinya.


Devan dan Vania duduk di tepi ranjang. Vania masih diam saja menunduk sambil memainkan dan me*emas jari-jarinya.


"Sayang" panggil Devan pelan.


Vania mendongakkan wajahnya menatap suaminya.


Vania menggelengkan kepalanya pelan tanpa bersuara.


"Kamu marah dengan perkataan Oma tadi?"


Vania menggeleng lagi dan kemudian menundukkan pandangannya.


Devan menyentuh dagu istrinya dan menggerakkannya agar mampu melihat wajah sendu istrinya dengan mata yang mulai berkaca-kava yang sangat terlihat jelas olehnya.


"Lalu?" tanya Devan lagi meminta penjelasan pada Vania.


"Aku hanya takut tidak bisa memenuhi keinginan keluargamu" katanya pelan membuat air matanya lolos begitu saja jatuh di pipinya.


Devan langsung menarik tubuh istrinya ke pelukannya. Ia merasa tak tega melihat istrinya bersedih dan tertekan seperti itu. Tangannya bergerak mengusap-usap rambut Vania yang tergerai bebas di punggungnya.

__ADS_1


"Jangan pernah merasa seperti itu, sayang. Yakinlah kita bisa melalui ini semua. Bahkan kalau kau mau besok pagi juga kita bisa melakukan program hamil terbaik dimanapun kau mau, sekalipun ke luar negeri"


Vania tak merespon perkataan suaminya. Ia semakin membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Tangisnya semakin pecah membasahi pakaian yang dikenakan oleh Devan.


Devan mengerti akan keadaan istrinya, perasaan kacau Vania yang selama ini selalu dipendamnya sendiri. Devan seakan tak membiarkan Vania menanggung beban lagi seorang diri.


"Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Kau wanitaku. Kau milikku. Tak akan ku biarkan menanggung kesedihan seorang diri" kata Devan. Ia menghujani ciuman di puncak kepala Vania berulang kali.


Devan menjauhkan pelan tubuh Vania dari pelukannya. Ditatapnya wajah pilu yang kini terus menundukkan pandangan.


Devan mengangkat dagu Vania dan menggerakkan kedua ibu jarinya menghapus air mata yang menggenangi wajah cantik itu.


"Sekarang tidurlah, besok pagi-pagi sekali kita akan kembali ke Jakarta" ucapnya diikuti dengan meninggalkan beberapa ciuman di wajah Vania.


Vania mengangguk dan mengikuti perkataan suaminya. Ia pun membaringkan tubuhnya disamping Devan. Devan menarik tubuh ramping itu dan mendekapnya setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka agar terhindar dari hawa dingin.


Malam itu tidak ada aktifitas panas yang biasa Devan lakukan pada istrinya. Devan hanya tidak tega mengganggu istirahat Vania apalagi disaat suasana hati wanita itu sedang tidak baik.


*****


Hawa dingin udara pagi kota Bandung tak menyurutkan niat Devan dan Vania untuk kembali ke Jakarta. Pekerjaan yang menumpuk membuat Devan bergegas melakukan perjalanan pulang meski kerinduannya pada wanita yang telah melahirkan ayahnya itu belum sepenuhnya terobati.


Setelah dua jam lebih melakukan perjalanan pulang, kini Devan dan Vania telah sampai di depan rumah mereka.


Asisten rumah tangga dan penjaga rumah segera menghampiri mobil majikannya untuk menurunkan barang dari dalam bagasi mobil.


"Mas" panggil Vania ragu-ragu.


"hmm" jawab Devan sambil sibuk melepaskan sabuk pengaman yang masih melilit di badannya.


"Kata-katamu kemarin nggak serius, kan?" tanya Vania tiba-tiba membuat Devan dengan cepat menoleh ke arah istrinya dengan penuh tanda tanya.


"Yang mana?" tanyanya lembut sambil membantu melepaskan sabuk pengaman istrinya.


"Soal konsultasi program hamil"

__ADS_1


Devan menghentikan aktifitasnya. Kedua tangannya menangkup wajah Vania. Ditatapnya kedua manik mata milik Vania yang nampak sedih


"Aku tidak pernah memaksamu, sayang. Jika kau merasa tertekan dengan semua ini, aku tidak akan melakukannya. Yakinlah, aku akan menerima apapun kekurangan dan kelebihanmu" jawab Devan dengan senyuman khasnya.


__ADS_2