
Sudah sebulan lamanya Vania bekerja di SA Group. Selama sebulan itu juga ia bersembunyi saat bertemu dengan Devan di kantor.
Semenjak pertemuan terakhir mereka di warung martabak, Devan tak pernah lagi menghubungi Vania. Ia benar-benar mengikuti permainannya, menghindari Vania untuk melihat reaksi Vania.
Benar saja tanpa sepengetahuan Devan, Vania selalu memperhatikan gerak-gerik pria itu saat di kantor. Bahkan Vania tak pernah ketinggalan untuk melihat story whatsapp dan sosial media lain milik Devan.
Gadis itu selalu menunggu Devan menghubungi atau barang mengirimkan pesan padanya. Namun ternyata, harapannya selalu pupus begitu saja. Yang ditunggu tak juga sesuai harapannya.
Makin hari Vania semakin galau dengan perasaannya. Ia bingung dengan perasaannya ke Devan. Ia begitu resah memikirkan sikap Devan yang semakin tidak jelas padanya.
Mungkin aku yang terlalu berlebihan padanya.
Aku terlalu menyakitinya
Dan sekarang lihatlah...
Dia tak lagi mengharapkan diriku
Bahkan dia tak peduli lagi padaku
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya hingga membuatnya tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
"Vania... hallo" panggil pak Linggar sambil menggoyangkan tangannya di hadapan Vania yang terus melamun di meja kerjanya.
"Vania... kamu nggak apa-apa?" ulang Pak Linggar yang mulai khawatir karena pemilik nama itu masih saja diam melamun
"Vania" panggil Pak Linggar lagi. Kali ini ia menepuk lengan Vania hingga membuat pemiliknya terkejut dan sadar.
"Eh iya... Bapak ngagetin aja, ada apa pak?" tanya Vania yang kaget membuat Maya yang berada di sebelah mejanya melipat bibirnya menahan untuk tidak tertawa.
" kamu ini dipanggil dari tadi kok ngelamun saja" kata pak Linggar
"lho iya kah pak?" tanya Vania seolah tak percaya.
"lho... ni anak kenapa ya May, apa tadi salah sarapan ya... pagi-pagi kok sudah melamun" kata Pak Linggar ke Maya yang membuat Maya semakin tak bisa menahan tawanya.
"maaf pak...maaf" kata itu terus keluar dari bibir mungil Vania
"kalau pengen ketemu saya nggak apa-apa, tinggal ngomong saja, tidak perlu lah pake melamunkan saya begitu" goda pak Linggar sambil menaik-turunkan alisnya.
__ADS_1
"ya ampun pak Linggar, bisa aja bapak ini" kata Vania heran.
"bercanda cantik, jangan diambil hati" kata Pak Linggar yang membuat Vania tersenyum malu karena kebodohannya. "sudah ayo ikut saya sebentar" lanjutnya
"kemana pak?"
"ke ruang pak Ronald, jangan lupa bawa berkas yang di map hijau. Kita harus menyerahkan laporan kerja sama beliau" kata pak Linggar sambil membalikkan badan.
"*huh? ma*pus gue, bisa ketahuan kalau gini caranya*" gumam Vania.
"tunggu pak, kalau saya digantikan mbak Maya aja gimana?" kata Vania menghentikan langkah pak Linggar. Ia sengaja mencari alasan agar tidak ikut dan tidak bertemu Ronald.
"kenapa?"tanya pak Linggar
"saya masih nervous pak, ini pertama kalinya bertemu asisten presdir" jawabnya menunduk
"santai saja, kita hanya menyerahkan berkas kinerja pegawai itu saja sambil menjelaskan sedikit tentang isinya"
"tapi pak..." belum selesai Vania berbicara namun dipotong oleh Maya
"Van, aku nggak bisa lho, ini banyak pekerjaan yang nggak bisa ku tinggal" katanya sambil menunjukkan ke Vania beberapa berkas yang menumpuk di atas meja.
Vania berjalan di belakang pak Linggar sambil mensedekapkan map hijau di dadanya dengan kedua tangannya. Ia terus menunduk untuk mengurangi kegugupannya hingga tak sengaja menabrak punggung pak Linggar yang sudah berhenti tepat di depan ruangan asisten presdir.
"aduh" kata Vania terkejut sambil memegang keningnya yang terbentur punggung atasannya.
"lho ya,,, kamu ini, saya kan nggak pake baju merah, kok ya kamu main seruduk aja" kata Pak Linggar setelah membalikkan badan karena merasa punggungnya ditabrak dari belakang.
"maaf pak...nggak sengaja" kata Vania cengengesan.
"sial, dikirain gue banteng apa" gumam Vania dalam hati.
"fokus cantik... fokus... kita ini mau menghadap pak menteri" kata Pak Linggar mengingatkan.
"baik pak"
Pak Linggar mengetuk pintu ruangan sampai pemiliknya menyahut.
"masuk" sahut dari dalam.
__ADS_1
Pak Linggar memasuki ruangan diikuti Vania yang bersembunyi di belakangnya. Gadis itu terus menunduk karena tidak ingin asisten Ronald mengenalinya.
"silahkan duduk pak Linggar" kata Ronald sambil mengarahkan tangannya ke kursi yang ada di depannya. Sementara dirinya masih fokus dengan tumpukan kertas yang ada di sampingnya.
"makasih pak" jawabnya tersenyum.
Pak Linggar menoleh pada asistennya yang terus berdiri di posisinya.
"sstt...sstt...ayo sini duduk" kata Pak Linggar setengah berbisik
"baik pak" jawab Vania lemas. Ia sudah pasrah bila Ronald mengenali dirinya.
Vania mendudukkan diri di kursi samping pak Linggar. Ia masih terus menunduk.
"ini laporan bulanan yang anda minta pak" kata Linggar mengambil map yang dipegang Vania dan diserahkannya pada Ronald.
Ronald pun mengalihkan pandangannya pada dua bawahannya yang duduk di hadapannya. Ia terkejut mendapati gadis incaran bossnya duduk di samping Linggar.
"lho kok..." kata Ronald tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Vania. Namun ia tidak melanjutkan ucapannya karena Vania lebih dulu mengarahkan jari telunjuk di bibirnya bermaksud meminta Ronald untuk tidak membahasnya.
Linggar yang melihat tatapan Ronald ke Vania baru menyadari kalau pria itu merasa aneh dengan wanita baru yang datang bersamanya.
"oh iya ini asisten baru saya pak, namanya Vania" kata Linggar memperkenalkan.
Vania mennganggukkan kepalanya untuk menghormati atasannya. Ronald pun tersenyum.
"oke boleh saya lihat?" kata Ronald ke Linggar.
Ronald mengambil map dari tangan Linggar dan membukanya. Linggar dibantu oleh Vania menjelaskan secara detail tentang isi berkas di map itu.
"apa ada yang perlu ditanyakan lagi pak?" tanya Linggar
"sudah cukup, terimakasih atas kerjasama anda"
"baik kalau begitu kami permisi dulu" pamit Linggar
"sebentar pak Linggar, biar asisten ada disini dulu, ada sedikit yang masih saya bingungkan disini, biar saya minta dia menjelaskan" kata Ronald pura-pura agar Vania tetap tinggal dan dia bisa menjawab tanda tanya yang membuatnya penasaran akan kehadirannya.
"oh, baik pak Ronald, biar dia yang menjelaskan, saya akan kembali terlebih dulu" kata Linggar tersenyum kemudian keluar dari ruangan Ronald.
__ADS_1
Sebenarnya Vania merasa gugup di ruangan itu. Ia takut diintimidasi oleh orang kepercayaan Devan itu.