Cinta Vania

Cinta Vania
episode 27 masih tentang Nadya


__ADS_3

Setahun telah berlalu. kini Vania sudah menginjak kelas XI. Hubungannya semakin dekat dan baik dengan Ditya. Ia merasa bahagia memilih Ditya sebagai kekasihnya. Ditya memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Ia benar-benar menjaga Vania. Jangankan untuk menciumnya, memeluknya saja tidak pernah dilakukan. Itu semata-mata karena rasa cintanya yang teramat besar ke Vania. Baginya, mencintai yang tulus adalah dengan menjaga kehormatan orang yang dicintainya. Tak sekalipun ia menyakiti hati Vania.


Disaat bertemu, mereka hanya sebatas mengobrol dan berpegangan tangan. Untuk berkencan diluar pun hanya dua kali sebulan. Kalaupun mereka saling rindu dan ingin bertemu, Ditya lebih memilih berkunjung ke rumah Vania. Hingga keluarga Vania mengenal Ditya sangat dekat. Orang tua Vania mempercayakan Vania pada Ditya saat di sekolah. Bagi mereka, Ditya anak yang baik dan sopan. Ia mampu menjaga putri mereka.


Di sisi lain, Devan mencoba sekuat mungkin menghadapi kenyataan bahwa ia tidak punya lagi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya ke Vania. Jangankan untuk mengungkapkan, mendekatinya saja ia tidak bisa. Ia lebih memilih untuk menyimpan perasaannya rapat-rapat di hatinya tanpa membiarkannya berubah sedikitpun. Karena level tertinggi dari mencintai adalah mendukung orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain pilihannya.


Meski banyak para gadis cantik yang mencoba mendekati dan ingin menjadi kekasihnya, ia tak gentar sedikitpun untuk berpaling dari perasaannya.


Devan hanya mampu memandang dan memeperhatikan Vania dari jauh tanpa sepengetahuan orang lain selain Andre.


Oo iya ngomong-ngomong soal Andre, selama satu tahun Andre mengerutuki kebodohannya pada Nadya. Perasaan sayang yang dimilikinya semakin besar terhadap gadis itu. Naasnya, Nadya terus meminta Andre untuk menjauhinya.


Segala cara Andre lakukan namun tak mampu merubah pendirian Nadya untuk menjauh.


Hingga pada suatu hari saat Andre tengah berjalan menuju kantor ruang wali kelas untuk menyerahkan tugas kelas, ia melewati kantor bagian administrasi sekolah yang sedikit terbuka pintunya. Samar-samar ia mendengar ada seorang murid yang tengah menunggak biaya SPP bulanan sampai 3 bulan. Ia penasaran dengan siswa tersebut. Saat ia mau melihatnya dengan menunggu siswa itu keluar dari ruangan administrasi, tiba-tiba saja ia dipanggil wali kelasnya untuk masuk ke ruangannya dan mambantu beliau membawakan beberapa buku paket ke kelas.


Ia keluar dari ruang wali kelas dan berjalan kembali melewati ruang administrasi. Namun sepertinya siswa itu sudah kembali ke kelasnya.


Andre melanjutkan langkahnya menuju kelasnya sambil masih membawa setumpuk buku.


Di kelas lain, Nadya yang baru kembali setelah dipanggil ke kantor tampak lemas dan berjalan gontai menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas, ia hanya diam dan menunduk. Vania yang memperhatikan perubahan wajah sahabatnya itu mulai curiga. Sedang anak yang lain sedang bercanda dan mengobrol dengan teman bangkunya masing-masing.


"nad, kenapa?" tanya Vania pelan sambil menyentuh bahu Nadya dan menatap wajahnya yang sedikit menunduk.


"nggak apa-apa kok Van" jawab Nadya mencoba tersenyum


"jangan bohong ya sama gue... lu udah berubah beberapa bulan ini, lebih tertutup dan nggak pernah cerita apapun ke gue. Gue sahabat lo Nad,, kalau lo lagi ada masalah cerita ke gue, barangkali gue bisa bantu, jangan cuma lo pendam sendiri" kata Vania panjang lebar

__ADS_1


"gu..gue besok nggak boleh masuk sekolah kalau belum melunasi biaya SPP yang dari 3 bulan lalu belum dibayar" kata Nadya lirih


"nggak usah sedih Nad, gue ada tabungan... nanti bisa lo pakai dulu"


"nggak usah Van, biayanya cukup banyak. Gue pasti bakal susah buat balikin. Apalagi bapak sekarang udah nggak kerja karena sakit" tolak Nadya


"nggak usah dibalikin...pakai aja. ya..." paksa Vania


"enggak Van, gue berhenti aja, gue mau cari kerja biar bisa bantu ibu buat biaya tambahan sekolah adik"


"tapi Nad, sayang lho... kita harus sampai lulus. lagian mau kerja apa zaman sekarang kalau cuma lulusan SMP. Udah deh ikutin kata-kata gue kalau lo anggep gue sahabat"


" kalau hari ini gue bisa bayar karena bantuan lo.. gimana dengan tahun depan, tahun terakhir gue disini? gue nggak mungkin terus-terusan bergantung sama orang lain, jadi tolong jangan paksa gue Van" bantah Nadya sambil memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.


Vania terdiam mendengar pernyataan Nadya. Hatinya menjadi sedih dan tanpa ia sadari air matanya menetes karena terus menatap sahabatnya itu. Cepat-cepat ia menghapusnya karena tidak ingin melihat Nadya semakin sedih karena melihatnya.


"nanti gue bantu cari solusi" suara Vania bergetar karena menahan air mata


Sherin yang sedari tadi asyik mengobrol dengan Desi menoleh ke bangku temannya yang ada di belakangnya.


"kalian pelukan kaya teletubbies aja, ada apaan sih" celetuk Sherin karena penasaran


Vania dan Nadya hanya tersenyum menjawab pertanyaan Sherin. Mereka saling pandang kemudian tertawa kecil. Sherin yang tidak mengerti hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Vania dan Desi duduk di bangku kantin waktu istirahat. Nadya sedang tidak berselera untuk keluar kelas. Sedang Sherin tidak ikut karena sedang menyelesaikan catatannya.


Vania tengah menikmati snack dan es jeruk favoritnya. Desi meminta ijin sebentar untuk menemui saudaranya yang ada di kelas lain.


Tinggallah Vania sendiri di kantin itu sambil menatap layar ponselnya. Tiba-tiba Vania dikejutkan oleh kedatangan Andre yang tiba-tiba duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

__ADS_1


"eh kak Andre bikin kaget aja" kata Vania menyentuh dadanya karena terkejut


Andre tersenyum "sorry Van, tumben sendirian aja"


"iya..yang lain pada males ke kantin" kata Vania meletakkan kembali ponselnya di saku bajunya.


"Van, boleh tanya sesuatu?" kata Andre serius


"hemm" jawab Vania sambil mengangguk


"Nadya lagi ada masalah apa sih?"


"hah? Nadya?" kata Vania terkejut karena arah pembicaraan Andre


"iya ... setahun lebih dia ngejauhin gue, dia nggak ada cowok kan"


"kakak suka sama Nadya?"


Andre mengangguk pelan. "tapi dia memblokir semua akses yang berhubungan dengan gue"


"hah? sejak kapan? kok aku nggak tahu apa-apa kalau hubungan kalian sudah sedekat itu" tanya Vania makin terkejut


"kami belum pacaran sih.. belum juga ngungkapin perasaan, dia udah duluan nyuruh gue menjauh..emang dia nggak pernah cerita?" tanya Andre mengkerutkan keningnya


"enggak..... Nadya emang gitu, dia itu tertutup sekali. Akan mau bercerita kalau dia sendiri yang mau" kata Vania


"emmm gitu ya... bagi nomor ponselmu boleh ya, gue pengen tahu banyak soal Nadya"


"boleh kok"

__ADS_1


Mereka menyebutkan nomor ponsel masing-masing dan menyimpannya. Kemudian Andre pamit menjauh dari Vania dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


__ADS_2