Cinta Vania

Cinta Vania
Tak Bersemangat


__ADS_3

Hari telah berlalu. Matahari telah menembus kaca jendela dan menyeruak masuk ke dalam kamar Devan membuat sang pemilik kamar mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau karena Gorden jendela yang sudah dibuka lebar oleh bunda Dewi.


"ayo bangun, ini sudah siang lho, kamu bukannya harus mulai ngantor pagi ini" kata bunda Dewi membangunkan Devan dengan menggoyang-goyangkan lengan putranya.


Devan mengucek matanya dan mengumpulkan nyawanya sambil duduk bersandar di sandaran ranjang.


"cepetan mandi, ayah nungguin di bawah, katanya mau bicara sesuatu sama kamu"


"soal apa bund" jawabnya dengan suara serak"


"soal kamu sama putri Oom Firman... Ya sudah bunda tinggal dulu, kamu buruan sana mandi"


"iya" jawabnya singkat.


Bunda Dewi meninggalkan putranya untuk menemui suaminya yang sudah menunggu di meja makan.


Selang setengah jam kemudian, Devan turun dengan pakaian yang sudah rapi layaknya pergi ke kantor.


"pagi Yah, Bund" sapanya sambil mencium pipi bundanya.


Devan duduk di salah satu kursi dan menikmati sarapannya. Ia memasukkan Roti bakar yang sudah dioles selai coklat dan taburan keju buatan bundanya ke dalam mulutnya.


"oh iya jangan lupa besok kita harus ke London untuk menghadiri pernikahan Ronald" kata Ayah Satria yang telah menyelesaikan sarapannya.


"iya yah"


"lalu bagaimana hubunganmu dengan Vania"


Devan melepaskan roti yang tersisa setengah dari tangannya dan meletakkan kembali diatas piring yang ada di hadapannya.


"Devan mau batalin perjodohan ini Yah" jawabnya pelan


"lho, kok gitu" tanya bunda Dewi yang terkejut


"bukannya kamu suka sama putri pak Firman?" sahut ayah Satria bertanya


"Tapi Vania tidak suka sama Devan, Yah. Devan nggak mau memaksakan ego kalau Vania tidak mau nerima perjodohan ini"

__ADS_1


"kamu yakin, sayang?" tanya bunda


Devan mengangguk pelan. "Nanti biar Devan sendiri yang akan bilang sama Oom Firman. Dan Ayah, tolong jangan katakan yang sebenarnya alasan aku membatalkan perjodohan ini" katanya menoleh pada ayah Satria.


"Ayah yakin kamu bisa menyelesaikan masalahmu"


"makasih yah"


"Kamu mau berangkat bareng ayah?" tanya Ayah Satria


"Ayah duluan saja, nanti aku menyusul"


"ya sudah habiskan sarapanmu, jangan terlalu dipikirkan" kata Ayah Satria sambil berdiri hendak berangkat kerja.


Bunda Dewi mengantarkan kepergian suaminya sampai teras rumah. Setelah mobil yang ditumpangi suaminya telah meninggalkan gerbang, Ia kembali masuk dan duduk menemani putranya.


"jadi kapan kamu akan menemui Papa Vania?" tanya Bunda


"secepatnya... sebelum kita berangkat ke London"


"itu artinya hari ini juga? karena besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat"


Bunda Dewi merasa sedih melihat putranya seperti itu. Ia tak menyangka putranya yang dikenal orang begitu sempurna justru sebenarnya mempunyai kisah percintaan yang begitu rumit.


"baiklah bunda, Devan berangkat ke kantor dulu" katanya sambil berdiri setelah menyelesaikan sarapannya.


"iya hati-hati sayang"


Devan mencium pipi bundanya dan bergegas keluar rumah menuju garasi untuk mengambil mobil sedan mewahnya yang terparkir.


Sesampainya di kantor, Devan nampak tidak bersemangat dalam bekerja. Pikirannya tidak bisa fokus pada setumpuk file yang ada di hadapannya.


Dekan tekad yang bulat, Devan menyambar kunci mobil yang ia letakkan diatas meja. Ia mengenakan kembali jas yang disampirkannya di kursi kebesarannya. Devan keluar dari ruangannya dan berpapasan dengan sekretarisnya yang akan menghampirinya untuk mengambil file yang tadi pagi ia letakkan diatas meja bossnya.


"Belum ada yang saya cek, nanti saja saya selesaikan. Saya ada urusan. Kalau Pak Satria tanya bilang saja saya pergi" jelasnya dengan ekspresi yang begitu dingin membuat wanita bernama Lina itu menciut.


"baik pak" jawab Lina mengangguk.

__ADS_1


Devan bergegas turun ke lantai bawah menuju mobilnya yang terparkir rapi di tempat khusus petinggi perusahaan. Ia melajukan mobilnya menuju perusahaan pak Firman.


pihak loby yang mengetahui kedatangan boss besar perusahaan SA group datang ke kantor cabang segera menghubungi sekertaris pak Firman. Sekertaris itu melanjutkan berita itu pada asisten sekaligus wakil pimpinan pak Firman yang tak lain adalah Adit.


Adit segera masuk ke ruangan papanya untuk mengabarkan apa yang disampaikan oleh pihak loby. Pak Firman segera meminta Adit untuk menyambut kedatangan Devan seadanya karena pertemuan yang begitu mendadak tanpa memberikan kabar.


Tak lama kemudian pintu ruangan pak Firman diketuk dari luar.


Pak Firman yang sudah mengetahui siapa yang mengetuk pintu itu segera berdiri dari duduknya, sedang Adit membukakan pintu untuk Devan.


Devan memasuki ruangan dengan senyum seramah mungkin.


"selamat datang nak Devan, kenapa tidak memberi kabar dulu kalau akan kemari. Kami kan bisa mempersiapkan sesuatu" kata pak Firman sambil merangkul Devan.


"tidak perlu repot Oom, lagipula saya datang tidak untuk urusan kantor" katanya setelah lepas dari rangkulan pak Firman.


"mari silahkan duduk dulu" ajak pak Firman menuju sofa yang ada di ruangannya.


"saya tinggal pergi dulu kalau begitu" pamit Adit


"Kak Adit mau kemana?"


"saya harus menggantikan rapat dengan klien" kata Adit ramah


"ow jadi Oom sedang sibuk hari ini? kalau begitu saya balik saja, lain kali saya akan kemari lagi menemui oom" jelas Devan merasa bersalah.


"tidak apa-apa nak Devan,,, Adit bisa mengatasi ini sendiri. Lagipula jarang-jarang bapak menerima tamu penting di kantor" kata pak Firman dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


"ada apa nak? apa ini tentang putri Oom?" lanjutnya yang mulai curiga dengan kedatangan Devan yang mengatakan bukan untuk urusan kantor.


Devan mengangguk pelan membenarkan pertanyaan lelaki paruh baya yang ada di dekatnya itu.


"saya mau minta maaf sebelumnya" kata Devan


"minta maaf? untuk apa?"


"saya ingin membatalkan perjodohan ini"

__ADS_1


"maksud nak Devan?" tanya pak Firman yang tidak percaya dengan pernyataan calon menantunya.


Devan terdiam menunduk. Namun otaknya terus berpikir mencari alasan yang tidak akan menyinggung perasaan pak Firman.


__ADS_2