
Tak berselang lama, pak Yanto keluar dari ruang ICU. Vania segera berdiri mencium tangan calon mertuanya itu dan meminta ijin untuk menemui kekasihnya.
Pak Yanto mengiyakan dan mempersilahkan Vania untuk masuk ruang ICU. "tolong kendalikan kesedihanmu nak, bapak tidak mau kamu kenapa-kenapa, doakan saja kesembuhan untuk Ditya" kata pak Yanto mengelus rambut Vania yang tergerai.
Vania memasuki ruangan Ditya. Tak lupa ia menggunakan perlengkapan khusus yang telah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Belum sampai di dekat pembaringan kekasihnya, air mata Vania sudah membasahi pipinya kembali. Kakinya terasa berat untuk mendekat. Ia takut semakin tidak bisa mengontrol perasaan sedihnya. Ia membiarkan mulut dan hatinya untuk mengucapkan kalimat istighfar sebagai cara untuk menenangkan hatinya.
Setelah merasa sedikit mampu berkawan dengan keadaan, ia mulai berjalan mendekati Ditya. Ia duduk di kursi samping ranjang. Sejenak ia terdiam. Dipandanginya wajah pucat dan digenggamnya tangan kekasihnya itu.
"Bangun Dit, kamu harus sembuh, kamu nggak boleh tinggalin aku" kata Vania tanpa henti menangis.
****
Diluar halaman rumah sakit, bu Dewi turun dari mobil mewahnya. Ia datang untuk menjenguk saudara angkat putranya. Supir pribadinya segera memarkirkan mobilnya setelah menurunkan majikannya tepat di depan pintu utama.
Bu Dewi tiba di rumah sakit satu jam setelah Vania sampai. Ia memasuki lobi rumah sakit. Seluruh karyawan bagian lobi memberikan hormat dengan sedikit membungkukkan badannya saat mengetahui istri dari pemilik saham rumah sakit itu datang. Banyak karyawan yang menduga-duga kedatangan wanita paruh baya itu mendadak datang. Pihak lobi segera menghubungi manager rumah sakit. Tak lama kemudian manager itu datang menghampiri bu Dewi.
"maaf nyonya, kami tidak mengetahui jika hari ini anda akan ada kunjungan di rumah sakit" kata manager itu dengan sopan
"tidak apa-apa pak, saya hanya ingin mengunjungi seseorang yang dirawat disini" jawab bu Dewi tersenyum
"pasien dirawat di ruang mana nyonya? saya siap mengantar anda sampai ke ruangannya"
"tidak perlu pak... saya akan kesana sendiri. Anda silahkan melanjutkan kembali pekerjaan anda"
"baik nyonya, jika ada sesuatu anda bisa menghubungi kami. Kami akan melayani dengan sepenuh hati" kata manager itu dan diangguki oleh bu Dewi.
__ADS_1
Bu Dewi segera memasuki lift dan menekan tombol lantai lima. Ia sudah mendapatkan informasi ruangan dari putranya.
Dalam waktu singkat, ia sudah sampai di lantai dimana ruangan Ditya berada. Ia berjalan menuju ruangan yang dituju. Ia cukup terkejut melihat keberadaan bu Karina yang sedang mengobrol bersama sepasang suami istri di depan ruang yang dimaksud.
"jeng Karina, anda disini?" tanya bu Dewi membuat bu Karina menoleh kearahnya. Bu Karina segera bersalaman dan mencium pipi sahabatnya
"iya jeng, saya mengantar Vania"
"Vania?" tanya bu Dewi mengulang nama gadis cantik itu. Ia begitu bingung dengan situasi yang sedang ada dihadapannya.
"iya, kekasihnya sedang dirawat di ruangan itu" jawab bu Karina sambil menunjuk ruangan yang ada di sebelahnya.
"maksud anda Ditya?"
"iya jeng, anda juga mengenalnya?" tanya balik bu Karina
Bu Dewi mulai mengingat perkataan Devan tadi malam tentang kekasih Ditya. Gadis yang juga sudah diincarnya sejak beberapa tahun lalu. Dan ternyata dugaannya benar. Dia adalah Vania, gadis cantik yang pernah memikat hati bundanya.
”oo iya jeng, perkenalkan ini orang tua Ditya. ini bu Wati dan pak Yanto" katanya melirik kepada sepasang suami istri yang berdiri di sampingnya. "pak, bu, ini nyonya Dewi, beliau orangtua Devan"
Mereka bertiga saling bersalaman. Bu Dewi memeluk hangat bu Wati. "Devan sudah cerita semuanya pada saya dan ayahnya, ibu yang sabar ya" katanya sambil mengelus punggung ibu Ditya.
"terimakasih banyak atas kebaikan hati keluarga anda kepada kami nyonya, kami sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik seperti putra anda"
Mereka berdua melonggarkan pelukannya. "jangan panggil saya nyonya, bu. Panggil saja saya bu Dewi. Dan satu lagi, bukankah putraku juga sudah menjadi putra kalian?" kata bu Dewi tersenyum menatap bu Wati dan kemudian beralih ke pak Yanto, membuat sepasang suami istri itu saling pandang dan terharu.
"terimakasih atas kemurahan hati anda bu Dewi" suara pak Yanto bergetar karena menahan tangis saat mengucapkannya.
__ADS_1
Bu Karina yang mendengar pembicaraan mereka tak henti-hentinya mengulas senyuman. Pemandangan yang ada dihadapannya sungguh menyejukkan hati.
Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara hentakan beberapa langkah kaki yang berjalan cepat. Mereka adalah dokter Niko, dokter Ricky bersama dua dokter lainnya. Mereka datang bersamaan dengan keluarnya Vania dari ruang Ditya. Wajah para dokter itu tampak cemas. Vania menangis histeris membuat para orang tua yang menunggu diluar semakin khawatir. Mereka sudah menduga terjadi sesuatu pada Ditya.
Para dokter segera memasuki ruangan Ditya. Tampak dari balik kaca kecil mereka sedang melakukan penanganan pada Ditya.
Bu Karina mencoba bertanya pada putrinya "ada apa sayang?"
"tiba-tiba tadi denyut jantung Ditya melemah ma" jawab Vania terbata-bata dan menangis di pelukan mamanya.
"ya Allah anakku...." teriak bu Wati menangis. Pak Yanto memeluk istrinya mencoba menenangkan meskipun pikirannya sendiri juga kacau.
Sudah setengah jam para dokter berada di dalam. Namun, masih belum ada tanda-tanda salah satu dari mereka yang keluar. Hingga kemudian, dokter Niko membuka pintu dengan masih menggunakan seragam khusus. Dokter Niko membuka maskernya. Tampak kesedihan di wajah dokter itu.
Bu Dewi segera menghampiri dokter Niko untuk mendapatkan informasi.
"bagaimana dokter?" tanya bu Dewi cemas
"maafkan kami nyonya, kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi tubuh kondisi pasien sudah tidak mampu lagi menerima reaksi obat dan peralatan medis. Dengan kata lain, mohon maaf dengan berat hati saya katakan pasien sudah meninggal dunia" kata dokter Niko melemah di akhir kalimatnya.
Bagai petir menyambar di siang hari. Mereka begitu terpukul mendengar apa yang telah disampaikan oleh dokter Niko. Bu Wati menangis histeris memanggil nama putranya dan kemudian ia tak sadarkan diri. Pak Yanto segera membopong istrinya untuk di tidurkan di kursi yang tadi didudukinya. Dokter Niko segera memberikan penanganan kepada wanita tua itu.
Vania merasa sesak di dadanya. Ia seperti kesulitan bernafas. Ia terus memegang dadanya yang sakit. Bu Karina yang sedari tadi memperhatikan putrinya yang menangis sambil menahan sakit segera memanggil dokter Ricky yang baru saja keluar dari ruangan Ditya
"dokter, tolong putri saya dokter" teriak bu Karina
Dokter Ricky dengan cepat menangkap tubuh Vania yang tiba-tiba terhuyung lemas tak sadarkan diri. Ia segera membopong tubuh Vania menuju ruang sebelah karena kursi panjang sudah penuh oleh tubuh bu Wati.
__ADS_1
Bu Karina segera mengikuti dokter Rick yang akan membaringkan Vania di sebuah ranjang pasien.