
Hari-hari dilewati Vania dengan berat hati. Ia seperti orang asing di rumahnya sendiri. Bahkan untuk bertemu dengan mamanya saja begitu sulit karena papanya seakan tidak suka istrinya berlama-lama di luar kamar.
"ya Tuhan apa ini hukuman buatku yang menentang perintah orangtua? aku hanya tidak ingin dijodohkan dengan laki-laki itu" keluh Vania sambil meneteskan air mata.
Hampir seminggu papa Firman mengacuhkan Vania. Bahkan saat Vania ingin menemuinya pun, Papa Firman selalu menolak dengan alasan sedang istirahat. Hal itu membuat Vania semakin tidak betah di rumah dan sering berada waktunya di luar.
Vania memilih menghabiskan waktunya di kampus dan taman terdekat dengan berangkat pagi dan pulang petang. Hal itu dilakukannya setiap hari selama seminggu sejak kejadian perselisihan dengan papanya.
Pagi ini Vania mengingat sesuatu. Dia harus kembali ke gedung SA Group untuk menemui Devan. Namun ia lupa untuk meminjam kartu identitas pada kakaknya.
Vania bergegas membereskan bukunya dan memasukkan ke dalam tas. Ia bertekad untuk tetap pergi. Ia tak lagi peduli akan bisa tetap masuk atau justru diusir oleh security.
Vania segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke gedung SA Group. Dan tak lama kemudian taksi pesanannya datang. Ia segera masuk ke dalam mobil. Setelahnya supir taksi melajukan mobilnya membawa penumpang menuju alamat yang diminta.
Setelah hampir satu jam kemudian Vania sampai tepat di depan gerbang sebuah gedung yang megah dan tinggi itu. Ia segera mendekati security untuk menyampaikan tujuannya setelah turun dari taksi. Namun sayangnya pihak security tidak bisa membiarkan sembarang orang melewati gerbang yang tingginya dua meter lebih itu.
Vania terus melakukan negoisasi dengan pihak security yang berjaga bagian gerbang agar dirinya bisa tetap masuk. Namun sayangnya, usahanya sia-sia belaka karena memang tanpa kartu identitas mereka tidak bisa masuk kecuali pihak keluarga.
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Vania mulai putus asa dan mau menerima peraturan perusahaan yang begitu ketat.
Namun saat ia akan melangkah pergi menjauh dari pos security, tiba-tiba datang mobil sedan mewah yang akan memasuki gerbang. Dua security yang tengah berjaga di luar itu segera berlari membukakan gerbang untuk mobil sedan yang begitu tidak asing bagi mereka.
Devan yang tidak menyadari kehadiran Vania memasuki gerbang yang mulai terbuka itu. Dan saat gerbang akan di tutup kembali Vania berteriak dan memaksa untuk memasuki gerbang karena melihat sosok Devan bersama seorang lelaki bule lain membuka pintu mobil.
__ADS_1
Vania berteriak memanggil-manggil nama Devan agar mendengar dan menoleh ke arahnya. Dan benar saja, Devan terkejut mendengar suara ribut orang-orang yang ada diluar gerbang.
Devan berjalan keluar untuk mengetahui suara yang mengganggu telinganya.
"saya akan mengurusnya tuan" kata Ronald menghentikan langkah bossnya yang akan melihat keributan di luar.
"tidak perlu, saya hanya merasa tidak begitu asing dengan suara itu, dan saya ingin melihatnya langsung" jawabnya sambil mendekat pada security yang berjaga di pos bagian dalam.
Devan menyampaikan maksudnya pada security untuk membuka pintu gerbang. Ia begitu terkejut saat gerbang dibuka dan menemukan sosok Vania yang sedang dihadang oleh dua security yang masinh-masing memegang tangan kanan dan kiri Vania.
"lepaskan dia" bentaknya cepat karena merasa tidak terima gadis yang dicintainya merasa kesakitan.
Kedua security yang berjaga segera melepaskan pegangan tangannya. Mereka merasa takut karena melihat boss besarnya tampak marah.
"Biarkan dia masuk" kata Devan yang mulai mengerti alasan anak buahnya melakukan semua itu.
Vania berjalan mendekati Devan. Tanpa bicara Devan berjalan terlebih dahulu memasuki gedung SA Group. Ronald segera mengikutinya dan meminta Vania untuk berjalan mengekor bersamanya. Mereka bertiga sambil di depan lift. Devan, Ronald dan Vania masuk di lift bagian khusus untuk persiden direktur yang letaknya di tengah-tengah antara lift karyawan.
Lift yang membawa Devan telah sampai di lantai 20, lanti paling atas dimana hanya ada ruangan khusus presiden direktur dan asistennya, ruangan sekertaris presdir dan sebuah pantry.
Devan memasuki ruangannya diikuti oleh Ronald dan Vania. Devan duduk di kursi kebesarannya dan meminta Ronald untuk meninggalkan mereka berdua sendiri.
Ronald segera mengikuti perintah bossnya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Namun sebelumnya ia mempersilahkan Vania terlebih dahulu untuk duduk di kursi di depan Vania yang hanya berjarak sebuah meja kerja.
__ADS_1
Tatapan Devan begitu dingin. Ya, sebenarnya ini caranya agar tidak terus larut dalam kesedihan karena melihat gadis yang dicintainya.
"ada perlu apa sampai kamu datang kemari?" tanyanya begitu dingin namun dengan intonasi yang lembut.
"aku ingin meminta kejelasan dari semua yang sudah kau lakukan" jawab Vania menatap tajam lawan bicaranya
"maksudmu?"
"apa yang kau katakan pada papaku sampai dia sekarang tidak lagi peduli padaku, bahkan ia memperlakukan aku seolah aku ini anak yang durhaka" katanya dengan wajah yang mulai memerah karena marah.
Devan mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Vania. Ia merasa mengatakan sesuatu yang akan membuat papa Vania membenci putrinya.
"kenapa kamu diam, huh?" lanjutnya karena melihat lawan bicaranya yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"aku tidak mengerti apa maksudmu"
"kau tak perlu lagi berpura-pura bodoh. Aku heran entah apa yang kau katakan pada papa sampai ia justru malah semakin memaksaku untuk menerima perjodohan ini. Bahkan papa lebih berpihak padamu. Papa mengacuhkanku dan enggan untuk bertemu denganku meski aku adalah anaknya sendiri. Bukankah kau sendiri yang bilang akan mengatakan pada papa kalau kau akan meminta perjodohan ini batal dengan alasan yang tidak akan menyudutkan aku? lalu sekarang apa? mana buktinya? aku yakin kau justru sebaliknya dengan berkata yang tidak-tidak dan meminta papa untuk tetap melaksanakan perjodohan yang kau tahu sama sekali tidak pernah aku harapkan ini" jelasnya menggebu-gebu karena semakin emosi.
Devan hanya diam tak menanggapi karena tahu ini semua hanyalah sebuah kesalahpahaman. Ia tidak merasa mengompori papa Vania untuk melanjutkan perjodohan ini.
"aku bisa jelaskan" jawab Devan lembut.
"jelaskan apa? jangan bilang kamu akan mengelak setelah melakukan semua yang telah menyakitiku. Aku benar-benar benci sama kamu. Kamu laki-laki yang tidak mempunyai belas kasihan. Aku tahu kau punya segalanya dan kau bisa melakukan apapun yang kau suka. Tapi ingat, tidak semudah itu kau bisa membeliku dengan uangmu. Ingat..aku tidak akan memaafkanmu semudah itu"
__ADS_1