
Sesampainya di rumah, belum sempat membuka hadiah pemberian Ditya, tubuh Vania tiba-tiba menggigil. Badannya terasa letih dan lemas. Ia tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamarnya.
Awalnya sang mama curiga karena putrinya tidak turun juga untuk makan malam setelah pulang ke rumah dua jam lalu.
Mama Karin mencoba menghampiri putrinya di kamar. Bu Karin mengetuk pintu kamar Vamia dan memanggil-manggil nama putrinya itu. Setelah berkali-kali tidak ada jawaban, bu Karin meegang handel pintu dan memutarnya. Pintu itu tidak dikunci.
Dan betapa terkejutnya ia saat menemukan putrinya tergeletak di lantai.
Bu Karin segera mendekati Vania dan membangunkannya. Namun, Vania tak kunjung sadar.
Bu Karin berteriak memanggil suami dan putra sulungnya untuk menolong Vania.
Pak Firman dan Adit segera berlari menuju suara. Mereka terkejut mendapati Vania pingsan. Adit segera membopong adiknya menuju rumah sakit diikuti oleh papa dan mamanya.
Terlalu lama jika harus menunggu kedatangan dokter karena rumah mereka lebih dekat dengan rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Vania segera mendapatkan penanganan dari pihak rumah sakit di tempa. Dokter meminta anggota keluarga untuk menunggu di luar sementara Bu Karin begitu sedih melihat keadaan putrinya. Ia terus menangis di dekapan suaminya.
Selang beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang IGD.
"keluarga nona Vania" panggil dokter
Semua anggota keluarga segera mendekat menghampiri dokter.
"bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya bu Karin
"Nona Vania mengalami depresi dan stress. Apa sebelumnya kejadian ini pernah dialami pasien?" tanya balik dokter
"pernah dok, beberapa tahun lalu dia pernah mengalami ini" jawab Adit
__ADS_1
"tolong jangan ini sampai terulang kembali. Pasien begitu stress, jangan biarkan pasien sendiri, kasihan kalau terus seperti itu...akibatnya bisa fatal terhadap sel syarafnya" kata dokter menasehati
Semua anggota keluarga terdiam. Masing-masing dari mereka merasa bersalah tidak mampu menjaga Vania dengan baik.
"baiklah, pasien sudah sadar dan akan dipindahkan ke ruang perawatan. silahkan salah satu dari anda menemani pasien didalam untuk sementara sebelum dipindahkan" imbuh dokter.
Bu Karina segera memasuki ruang IGD, sedang Adit dan papanya mengurus administrasi pendaftaran rumah sakit.
Hari mulai malam, Vania telah dipindahkan di ruang rawat inap untuk menjalani perawatan.
Malam itu seluruh anggota keluarga tidur di kamar rumah sakit tempat Vania dirawat. Bu Karina begitu sabar dan setia menemani putrinya.
Keesokan paginya, Pak Firman dan Adit berbagi tugas, salah satu dari mereka harus mengurus kantor dan satunya lagi harus menemani bu Karina dan Vania jika butuh sesuatu.
Pagi itu Pak Firman yang berangkat ke perusahaan karena siangnya ada janji dengan pak Satria.
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, pak Satria mengajak bertemu dengan pak Firman. Namun ada hal aneh yang bikin pak Firman penasaran. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Pak Satria justru yang ingin mendatangi kantornya. Bahkan ia datang sendiri tanpa ditemani asisten ataupun sekertaris pribadinya. Padahal biasanya ia yang mengunjungi pak Satria atau mereka bertemu di luar.
Asisten pak Firman menuntun pak Satria memasuki lift untuk menuju ke ruangan pak Firman.
Setibanya di lantai tempat ruangan bosnya, asisten pak Firman mengetuk ruangan bosnya. Pak Firman mempersilahkan masuk dan segera berdiri karena sudah mengetahui bahwa juga ada pak Satria di balik pintu.
Asisten pak Firman meninggalkan kedua partner kerja itu setelah pak Satria masuk ruangan. Ia segera menghubungi pihak pantry untuk mengantarkan minum pada tamu agung yang datang.
Pak Satria masuk dengan senyum sumringah. Begitupun pak Firman, ia juga menyambut kedatangan atasan sekaligus sahabatnya itu dengan merangkulnya.
"apa kabar sahabatku" sapa pak Satria melonggarkan rangkulan
"alhamdulillah... mari silahkan duduk" ajak pak Firman berjalan menuju sofa yang tak jauh dari meja kerjanya.
__ADS_1
Mereka duduk berjejeran di sofa itu. Tak lama kemudian pintu kembali diketuk. Ada seorang office boy yang membawakan dua cangkir kopi. Office boy itu meletakkan cangkir kopi diatas meja tepat di depan kedua bosnya dan kemudian kembali ke pantry.
Kedua lelaki itu saling menikmati kopi masing-masing. Kemudian meletakkannya kembali di meja setelah menyeruput kopinya.
"apa ada yang penting hingga kita harus bertemu disini?" tanya pak Firman langsung ke tujuan
"iya benar. Ini sangat penting menyangkut putraku satu-satunya"
"maksudmu?" , pak Firman begitu penasaran dengan ucapan pak Satria
"Devan mencintai Vania" kata pak Satria to the point.
"iya aku tahu itu"
" hah? benarkah?"
Pak Firman mengangguk. "Devan pernah bercerita itu sebelum ia kembali ke London"
"baiklah, kalau begitu aku tak perlu berbasa-basi lagi, kedatanganku kesini sebenarnya karena aku ingin menjodohkan putraku dengan putrimu, aku ingin putrimu menjadi menantuku"
Pak Firman terdiam mendengar pernyataan sahabatnya. Ia cukup terkejut karena orang hebat itu sendiri yang meminta putrinya untuk menjadi menantu di keluarga mereka.
"kenapa? apa kau keberatan?" tanya pak Satria karena melihat sahabatnya hanya diam.
Pak Firman gelagapan mendengar pertanyaan sahabatnya.
"bu-bukan itu maksudku, orangtua mana yang akan menolak jika putrinya dijodohkan dengan pemuda luar biasa seperti Devan. Tapi apa tidak terlalu cepat. Putriku sedang bersedih karena baru saja kehilangan kekasihnya. Terlebih keadaannya saat ini sangat memprihatinkan" kata pak Firman cepat namun suaranya berubah melemah saat mengucapkan kalimat terakhir.
"maksudmu? apa yang terjadi padanya?" tanya pak Satria karena begitu tidak mengerti dengan kata memprihatinkan yang diucapkan sahabatnya.
__ADS_1
"Dia sedang dirawat di rumah sakit. kondisinya lemah. Dia depresi karena terlalu stress. Mungkin dia belum bisa menerima kepergian pacarnya" kata pak Firman. Wajahnya mulai nampak sedih. Bahkan sudut matanya tampak kristal.bening yang siap jatuh membasahi pipinya.
"dia putriku satu-satunya, rasanya sakit melihatnya seperti ini. Bahkan aku tidak tega jika terus menatap wajahnya yang tak lagi ceria. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya ingin putra dan putri kami bahagia. Adit mungkin pintar menemukan kebahagiannya, tapi tidak dengan Vania. Ia begitu rapuh" lanjut pak Firman dengan suara bergetar karena menangis.