
Devan menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan tak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Hanya keheningan dan suara mesin mobil yang mereka dengar.
Saat berhenti di lampu merah, Devan mengisi keheningan dengan memutar radio yang ada di tape mobil. Ia memutar volume yang tidak terlalu kencang dan juga tidak terlalu pelan.
Dan tiba saatnya pembawa acara radio memutar lagu. Mereka saling pandang karena tak menyangka lagu yang di putar seakan menggambarkan perasaan Devan saat ini.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik, dengarkanlah aku
Devan bingung dengan keadaaan yang sedang terjadi padanya. Spontan ia menekan tombol pause. Dia merasa salah tingkah. Tangannya hendak bergerak lagi untuk memindah siaran yang didengarnya. Namun dengan cepat Vania menghalanginya.
"biarkan saja, tak perlu diganti" kata Vania sambil tangannya menyentuh ujung jari Devan yang menyentuh tombol di salah satu tape mobilnya.
Devan menoleh ke arah Vania. Kemudian dengan cepat ia melepaskan tangannya dari tape setelah menyadari tangan Vania yang menyentuh jarinya.
Vania menekan kembali tombol Play yang menyatu dengan tombol pause. sedang Devan hanya diam pasrah mendengarkan lagu yang membuatnya cukup sedih dan malu baginya.
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
__ADS_1
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku (di sampingku)
Aku tak main-main (main-main)
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Oh, satu yang kumau
Kuingin melamarmu.
"kenapa lagu ini yang harus ku dengar saat sedang bersamanya" batin Devan dalam hati. Ia merasa kesal dan malu sejak ungkapannya ditolak Vania tempo hari.
"kenapa dimatikan?" tanya Vania.
"emm... nggak apa-apa, berisik aja" kata Devan sambil senyum dan terus fokus menyetir.
Setelah dua jam perjalanan, mobil Devan sampai tepat di depan rumah Vania karena pagar rumah terbuka lebar.
Nampak pak Firman juga baru saja sampai rumah dan akan turun dari mobilnya.
Devan yang awalnya berniat hanya ingin mengantar saja tanpa mampir, mengurungkan niatnya setelah melihat keberadaan pak Firman.
Devan turun dari mobil karena merasa tidak enak jika harus langsung pulang tanpa menyapa orangtua Vania.
"sore oom" sapa Devan sambil mendekati Pak Firman yang baru saja turun dari mobilnya yang terparkir di depan mobil Devan
"lho... nak Devan, kapan datang" tanya Pak Firman yang tidak menyadari kedatangan pemuda hebat itu.
"baru saja oom" kata Devan menyalami dan mencium tangan pak Firman.
"saya hanya mau mengantarkan Vania pulang" imbuhnya
"lho... kalian habis keluar berdua?" tanya Pak Firman nampak senang. Ia mengira mulai ada perkembangan atas hubungan putrinya dengan lelaki yang ada di hadapannya.
"lebih tepatnya berempat oom, tadi kebetulan saya diajak Andre, nggak tahunya Nadya juga ajak Vania"
Obrolan mereka terhenti saat melihat Vania turun dari mobil Devan. Gadis itu berjalan menghampiri papanya. Ia mencium tangan papanya.
__ADS_1
"Vania masuk dulu ya pa, dan kak Devan... makasih sudah mganterin" katanya kemudian beralih menghadap Devan. Ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Devan.
"hey sayang, kok nak Devan nggak disuruh mampir dulu" sahut pak Firman ke putrinya.
"emmm.... nggak usah Oom, saya langsung balik saja"
"eee... jangan, ayo masuk dulu sebentar, tante Karina kan belum sampai ketemu kamu" ajak Pak Firman yang tak bisa ditolak lagi oleh Devan.
Devan pun menurut. Ia berjalan beriringan dengan pak Firman di belakang Vania yang memasuki Pintu utama.
Devan dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu.
"aku permisi ke kamar dulu ya" kata Vania
"lho, ini nak Devan kok nggak ditemani dulu" jawab pak Firman seakan mencegah putrinya.
"pa, Vania mau mandi. Badan Vania lengket seharian diluar" jawab Vania sedikit kesal karena merasa papanya seakan memaksa.
"nggak apa-apa oom, lagian saya juga cuma sebentar kok" kata Devan sopan.
"ya sudah sayang, tolong sekalian panggilkan mamamu" kata pak Firman.
Vania meninggalkan Papanya dan Devan di ruang tamu.
Bi Inah datang membawakan minuman dan camilan untuk tamunya.
"silahkan dinikmati Den" kata bi Inah
"makasih Bi" jawab Devan.
Bi Inah meninggalkan majikan dan tamunya kembali menuju dapur.
Sesaat kemudian bu Karina datang.
"eh Nak Devan, apa kabar?" sapa bu Karina.
"baik tante" jawabnya sopan sambil menyalami dan mencium tangan wanita paruh baya itu.
"emmmm....Nak Devan" panggil Bu Karina ragu-ragu
"iya tante"
"untuk tempo hari, maafin putri kami ya"
"maaf atas apa tante? Vania tidak punya salah ke Devan kok"
"Tante sama Oom sebenarnya sudah tahu semuanya nak, kami tahu kenapa kamu membatalkan perjodohan itu karena Vania yang menolak" sahut pak Firman menjelaskan.
"oh soal itu... semua sudah berlalu Oom, kita lupakan saja" jawab Devan mencoba untuk memaksakan senyumnya.
"boleh tante tanya sesuatu?"
Devan mengangguk pelan.
"apa kamu benar-benar mencintai putri tante?" tanya bu Karina serius menatap lekat lelaki yang ada di depannya.
__ADS_1
"Jujur saya hanya tidak ingin menyakiti hati Vania, tante. Jika ditanya cinta atau tidak, mungkin tante sudah tahu semuanya dari Oom Firman. Saya hanya merasa tidak berhak dan tidak pantas untuk mengatakannya di depan Oom dan Tante setelah penolakan dari Vania" kata Devan pelan.