
"Mas, Kau kah itu?" tanya Vania pelan tanpa menoleh. Namun Devan tak menggubrisnya. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya diatas pundak Vania.
Vania menikmati pelukan hangat suaminya. Dinginnya udara pagi yang tadinya begitu menusuk ke tulang kini berubah menjadi hangat setelah Devan merengkuh tubuhnya.
"Mas" panggil Vania ulang karena suaminya masih diam saja.
"Maafkan aku" kata Devan lirih
"Maaf? buat apa?" Vania menjadi bingung dengan permintaan maaf Devan yang tiba-tiba.
"Aku tidak bisa melindungimu waktu itu"
Vania tahu sekarang, yang suaminya maksud adalah kejadian dengan Alline di kantor kemarin.
Vania berusaha membalikkan badannya agar bisa melihat jelas wajah suaminya.
"Mas, aku baik-baik saja. Percayalah" kata Vania meyakinkan suaminya.
Devan mencium kening Vania dan kembali merengkuh tubuh itu dalam pelukannya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Vania yang heran dengan sikap suaminya.
"Diamlah... Biarkan sesaat seperti ini. Aku sangat merindukan ini" katanya pelan tanpa melepas pelukannya.
Vania pasrah menerima perlakuan Devan padanya. Cukup lama mereka saling berpelukan hingga akhirnya Vania merasa punggungnya seakan terasa sakit karena tubuh suaminya yang lebih besar.
"Mas, bisakah kau lepaskan? punggungku mulai sakit sekali"
Dengan cepat Devan melepaskan rengkuhannya. "Maafkan aku, sayang. Aku terlalu bahagia bisa memelukmu kembali"
"Tidak apa-apa. Sejak kapan kau pulang? Bukankah seharusnya kau akan baru sampai Jakarta nanti sore?"
"Aku langsung pulang setelah mendapatkan kabar dari pak Romi. Aku sangat mengkhawatirkanmu" katanya dengan tangan kiri memeluk pinggang istrinya dan tangan kanannya menyelipkan anak rambut Vania ke belakang telinga agar bisa melihat jelas wajah cantik istrinya.
Vania tersenyum kecil mendengar kekhawatiran suaminya. Ada rasa bahagia menjadi orang yang diprioritaskan.
"Yang, kenapa kamu semakin cantik saja setelah aku tinggal? Apa lagi dengan pakaian seperti ini" kata Devan merayu Vania.
Vania menunduk melihat pada pakaian yang dipakainya. Ia baru sadar jika saat ini ia begitu seksi dengan apa yang dipakainya.
"Oh maaf, aku sampai tidak sadar jika aku masih memakai ini" katanya yang kemudian bergegas masuk kamar hendak mengganti pakaiannya.
"Tunggu" kata Devan menahan tangan Vania agar langkahnya terhenti.
__ADS_1
Vania menoleh ke Devan. Ada rasa penasaran yang membuat suaminya menghentikan langkahnya.
"Aku suka kau seperti ini" kata Devan dengan senyum menggoda.
"Jangan bercanda, mas. Aku merasa aneh berada di dekatmu dengan pakaian seperti ini" kata Vania cemberut membuat Devan semakin gemas.
Vania masuk kamar mandi sambil membawa baju ganti yang akan dipakainya untuk pulang.
Tokk..tokk..tokkk...
Suara ketukan pintu dari luar membuat Devan beranjak dari duduknya untuk membukanya.
"Iya Bi,,, ada apa?" tanya Devan setelah melihat Bi Inah yang berada di balik pintu.
"Permisi Den, Nyonya meminta anda dan Non Vania untuk turun sarapan" kata Bi Inah ramah.
"Baiklah terimakasih, Bi. Sebentar lagi kami akan turun"
"Kalau begitu saya permisi, Den"
"Iya, Bi".
Devan menutup kembali pintu kamarnya setelah Bi Inah membalikkan badan pergi.
"Kita mau kemana?" tanya Vania pada Devan karena jalan yang mereka lewati bukan arah menuju rumah.
"Aku akan mengajakmu bertemu sahabat terbaikmu" kata Devan menoleh dengan senyum manisnya.
"Sahabat? Nadya?"
"Siapa lagi" jawab Devan santai
"Benarkah?" Vania kegirangan mendengar akan bertemu sahabatnya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Nadya karena terakhir kali mereka bertemu saat acara pengajian tujuh hari meninggalnya Papa Firman.
Devan mengangguk "Sebentar lagi sampai".
Baru juga Devan memarkirkan mobilnya, ia sudah melihat Nadya berdiri di depan butik untuk menyambut kedatangannya.
"Turunlah... lihat itu temanmu sudah menunggu" kata Devan begitu lembut sambil menunjuk ke arah Nadya.
Kedua mata Vania mengikuti arah jari Devan menunjuk. Dan benar saja Nadya sedang berdiri disana.
Vania turun terlebih dulu dan berlari kecil menghampiri Nadya. Kedua sahabat itu saling berpelukan melepas rindu.
__ADS_1
"Kok lo tahu kalau gue mau datang?" tanya Vania melepas pelukannya.
"Noh... Suami Lo yang duluan ngechat gue duluan" jawab Nadya sambil mengarahkan dagunya pada Devan yang berjalan mendekati mereka.
Vania menjadi bingung. Jika memang Devan ingin mempertemukan mereka kenapa harus di butik. Bukankah akan lebih nyaman dan leluasa jika mereka berada di luar
"Udah ih... Jangan bengong melulu. Ayo masuk" ajak Nadya sambil membuka pintu masuk butik.
"Kalian tunggu disini sebentar ya..." Kata Nadya meminta kedua sahabatnya untuk duduk di sofa yang sudah di sediakan untuk pengunjung.
Nadya masuk ke dalam sebuah ruangan. dan tak lama kemudian ia keluar dengan membawa beberapa gaun mewah di tangannya.
"Nih, Lo coba dulu deh satu-satu" kata Nadya sambil menunjukkan gaun yang di bawanya dan meletakkannya diatas meja.
"Buat apa?" tanya Vania kebingungan.
"Lho... kak Devan enggak jelasin alasan dia ngajak Lo kemari?" tanya Nadya ke Vania sementara Devan hanya menahan senyumnya memperhatikan wajah istrinya yang kebingungan.
"Mas..." panggil Vania pelan ke suaminya agar suaminya menjelaskan.
"Van... Lo mau datang ke pesta pernikahan, kan?" tanya Nadya dan Vania mengangguk.
"Ya udah buruan di coba, Nanti biar bisa pilih mana yang cocok" lanjut Nadya.
Vania tidak menjawab. Dia beralih menoleh ke suaminya yang masih saja diam. Seolah mengerti maksud dari Vania, Devan hanya mengangguk dan tersenyum.
"Noh kan...udah ayo" ajak Nadya dan Vania mengikutinya menuju ruang ganti.
Gaun pertama dicoba oleh Vania. Sebuah long dress berwarna gold tanpa lengan yang terlihat begitu ketat dan seksi karena menampakkan lekuk tubuh Vania.
Nadya mengajak Vania keluar dari ruang ganti untuk menunjukkan penampilan Vania ke suaminya.
Devan terpanah melihat penampilan Vania yang begitu memukau. Padahal istrinya itu baru memakai gaunnya saja, belum make up dan tatanan rambut. Tapi kecantikan Vania sudah mampu membius Devan.
"Gimana, kak?" tanya Nadya ke Devan.
Devan mengamati wajah Vania yang nampak tidak nyaman dengan gaun itu, Ia meminta Nadya untuk mengganti model gaun lain.
Gaun kedua, long dress hitam tanpa lengan dengan bagian punggungnya sangat terbuka hampir sampai pinggang. Dengan cepat Devan menolak dan meminta mengganti. Devan tidak rela istrinya menjadi bahan tontonan para lelaki karena body seksinya.
Gaun ketiga berwarna peach panjang. Gaun itu nampak sopan dari belakang. Namun saat melihat dari depan, belahan dada Vania terlihat sangat jelas.
"Enggak...enggak...Nanti para lelaki hidung belang keenakan pada lihat" kata Devan cepat.
__ADS_1
Vania mendengus kesal mendengar jawaban suaminya. Ia sudah lelah harus bolak-balik ke ruang ganti. Bahkan wajah Vania sudah nampak masam karena kesal.