
JAKARTA
Sejak sepeninggalnya mendiang Ditya, Vania menjadi gadis yang diidolakan oleh para pria kampus. Wajah ayunya selalu menjadi perbincangan para lelaki yang berpapasan dengannya.
"pagi Van, ada jam kuliah ya?" sapa salah seorang pria yang tengah duduk bergerombol saat melihat Vania berjalan seorang diri melewati koridor kampus.
Vania hanya menjawabnya dengan senyum. Sebenarnya dia sedikit risih semua itu. Bagaimana tidak, para lelaki itu tidak hanya menyapanya, mereka menatap dengan tatapan menggoda.
Vania hanya tidak ingin dianggap sebagai gadis sombong. Sebab itu dia memaksakan senyumnya untuk menanggapi para lelaki hidung belang.
Vania berjalan lebih cepat menuju kelasnya untuk menghindari beberapa tatapan mata yang tidak disukainya.
Sesampainya di depan kelas, ia segera masuk dan mencari keberadaan Nadya yang sudah terlebih dahulu menunggunya. Vania mencari bangku kosong di dekat Nadya dan duduk.
"ih kenapa mukanya ditekuk gitu" tanya Nadya yang keheranan karena melihat muka jutek Vania Saat memasuki kelas.
"nggak ada apa-apa" jawab Vania datar.
"pasti gara-gara cowok cowok di luar itu ya?"
Vania hanya diam tak menjawab pertanyaan Nadya. Ia justru malah menundukkan kepalanya.
"Van... kamu harus mulai membuka hatimu kembali. Kamu nggak bisa terus-terusan seperti ini. Ditya sudah tenang disana, waktunya kamu mencari kebahagiaan untuk diri kamu sendiri" kata Nadya menasehati sambil memegang pundak sahabatnya.
"tidak semudah itu Nad" jawab Vania menoleh ke Nadya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tampak kesedihan yang yang begitu dalam sedang ia rasakan.
"aku ngerti... tapi tidak dengan kamu terus menyakiti hati kamu seperti ini... Banyak pria disana yang bisa menyayangimu dengan tulus seperti Ditya"
"aku tidak yakin pada mereka semua"
"maksudmu?"
"Ditya seperti kak Andre yang cintanya menjaga. Ditya menjagaku, menjaga diri dan kehormatanku. Tidak dengan para pria hidung belang yang hanya melihatku dengan nafsu" jelas Vania mulai meneteskan air matanya
"maafin aku" kata Nadya karena merasa bersalah telah membuat sahabatnya kembali menangis.
"sudahlah... aku ngerti maksudmu Nad, kamu hanya ingin membuatku kembali bahagia" kata Vania tersenyum getir. Ia mengusap pipinya untuk menghapus air mata yang menetes.
Nadya terharu dengan ucapan sahabatnya. Ia memeluk Vania dari samping dan merangkulkan tangannya di lengan Vania.
__ADS_1
Aktivitas mereka berhenti saat dosen datang memasuki kelas. Vania dan Nadya mulai mengikuti kelas dengan baik hingga usai.
Waktu kuliah pun selesai. Hari sudah menunjukkan pukul 15.30.
"Van, mau langsung pulang?" tanya Nadya sambil mengemasi bukunya ke dalam tas.
"aku mau ziarah ke makam Ditya dulu Nad" kata Vania membuat aktifitas Nadya terhenti.
"sendirian?"
Vania menganggukkan kepalanya pelan.
"aku temani kalau gitu"
"tapi kamu kan harus ke butik"
"aku bisa ijin hari ini, lagi pula aku nggak mungkin ninggalin kamu pergi sendiri" jawab Nadya yang membuat Vania mengangkat kedua bibirnya senyum.
Nadya mengambil benda pipih dari dalam tasnya. Dengan cepat ia mencari kontak manager butik untuk menghubunginya.
"ayo berangkat" ajak Nadya sambil memasukkan ponselnya ke tas setelah mendapatkan balasan dari manager butik.
Nadya melajukan motornya menyusuri padatnya kota Jakarta. Cuaca yang masih panas tak mengurungkan niat mereka untuk berziarah.
Mereka sampai di tujuan 15 menit kemudian. Sebenarnya jarak antara kampus ke TPU yang ditempati Ditya tidak jauh. Hanya saja padatnya jalanan dan lampu lalu lintas yang memperlambat laju kendaraan mereka.
Nadya mematikan mesin motornya tepat disebelah pintu gerbang TPU. Seperti biasa Vania akan penjual bunga di samping makam untuk membeli bunga dulu sebelum berziarah.
Nadya berdiri di depan gerbang TPU sambil membawa dua lembar kain tipis di tangannya untuk menunggu Vania kembali.
"ayo masuk" ajak Vania yang baru saja kembali.
"eh bentar" jawab Nadya sambil menarik pergelangan tangan Vania.
"apa?"
"janji kali ini nggak boleh ada air mata" kata Nadya
"he'em" jawab Vania sambil mengangguk.
__ADS_1
"nggak... nggak... kemarin juga jawabnya gitu. Tapi ujung-ujungnya bohong lagi"
Vania menghela nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Ia mencoba mengumpulkan kekuatan sebelum memasuki gerbang.
"baik....aku janji" ucapnya mantap.
Saat akan melangkah gerbang, langkahnya terhenti lagi oleh tarikan tangan Nadya.
"apa lagi?"
"pakai ini dulu" kata Nadya menyodorkan selendang untuk penutup kepala.
"astaga aku lupa, kau sengaja membawa ini untukku?" kata Vania menerima selendang dari tangan Nadya
"ya, aku selalu membawanya kemanapun pergi"
"maksudmu?"
"aku meletakkannya di bagasi motorku bersama helm tadi, buat jaga-jaga karena kamu selalu lupa"
"lama-lama bagasi motormu seperti kantong doraemon" kata Vania tertawa
Vania memeluk sahabatnya "makasih banget ya sayangnya aku....kamu selalu ngertiin aku"
"iya lah... kan kita sahabat. Udah ah kita masuk yo' " kata Nadya melonggarkan pelukannya.
Mereka melangkahkan kakinya melewati beberapa makam yang berjajar rapi. Sampai tiba tepat di depan nisan bertuliskan ADITYA S.
Vania dan Nadya duduk berjongkok di samping makam Ditya. Vania memejamkan mata sambil menyentuh nisan Ditya. Ia sedang menguatkan hatinya.
Setelah dirasa hatinya mulai tenang dan kuat, Vania melepaskan tangannya dari batu nisan dan membacakan doa-doa untuk almarhum. Berharap ia mampu mengikhlaskan Ditya dan almarhum selalu ditempatkan layak di sisi-Nya,
Selesai dengan doanya, Vania kembali memegang nisan Ditya. Ia terdiam sejenak.
"kamu yang tenang disana, aku janji akan mengikuti kata-katamu dan aku akan melupakan kesedihanku" kata Vania sambil mengusap-usap nisan itu.
Nadya yang berada di samping sahabatnya itu tersenyum lembut. Ia merasa senang Vania menepati janjinya dengan tidak menangis seperti sebelumnya.
Mereka pulang setelah selesai dengan aktifitasnya. Vania diantarkan oleh Nadya pulang ke rumahnya.
__ADS_1