Cinta Vania

Cinta Vania
Semuanya Milikmu


__ADS_3

Vania turun dari tempat tidur sambil meraih selimut yang menutup sebagian tubuhnya untuk dibawanya ke kamar mandi. Ia tak ingin melewatkan pagi pertamanya di rumah utama hanya dengan menghabiskan waktu di tempat tidur.


Pasangan suami istri itu mandi bergantian setelah perdebatan singkat karena Devan juga ingin masuk ke kamar mandi bersama. Namun Vania menolaknya dengan alasan ia tak ingin melewatkan sarapannya karena takut suaminya akan menerkamnya ulang di kamar mandi.


Seusai sarapan, Devan menuju ruang baca milik Ayahnya yang kini menjadi ruang kerjanya. Meski hari ini tidak datang ke kantor ia tak seenaknya bermalas-malasan. Sedang Vania memilih untuk menemui Bi Siti untuk mengantarkannya mengelilingi setiap bagian bangunan rumah supaya mengenali setiap ruangan yang ada di rumah yang kini menjadi tempat tinggal barunya.


Bi Siti yang menjadi kepala asisten rumah tangga di rumah itu mengantarkan majikannya untuk berkeliling menunjukkan detail setiap ruangan yang ada di rumah megah nan mewah itu.


*****


Vania menuju ruang baca dengan membawa secangkir teh hangat untuk suaminya setelah satu jam yang lalu berkeliling bersama Bi Siti.


Vania membuka lebar pintu yang tertutup sebagian itu hingga menampakkan pemandangan dimana suaminya sedang duduk di kursi di balik meja kayu berlapis kaca yang ia jadikan tumpuhan untuk beberapa lembar kertas dan buku serta laptop.


"Sudah selesai berkelilingnya?" tanya Devan tanpa memalingkan pandangannya dari layar monitor laptopnya. Sementara jemari tangannya tetap sibuk mengetikkan huruf demi huruf yang ada di keyboard.


"Iya, mas. Ini aku bawakan teh hangat untukmu" kata Vania sambil berjalan mendekat dan kemudian meletakkan cangkir teh di meja kerja suaminya.


Vania mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan kerja itu. Matanya tak lepas mengamati setiap pergerakan yang suaminya lakukan.


"Kenapa terus memandangku seperti itu?" tanya Devan diikuti ekor matanya sambil melirik ke arah Vania.


"Tidak. Sepertinya kau sangat sibuk sekali" kata Vania mencoba memaksakan senyumnya karena melihat suaminya nampak sangat sibuk hingga tak menatapnya saat berbicara.


Devan yang menyadari dan peka akan apa yang disampaikan istrinya segera menyimpan file dan menutup laptopnya. Pandangan mata dan gerak tubuhnya beralih menatap istrinya yang sedang duduk di sofa memperhatikannya. Pandangan mereka sesaat terkunci cukup lama.


"Kemarilah" pinta Devan dengan manja agar Vania mendekat.

__ADS_1


Vania berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Devan. Ia berdiri tepat di depan suaminya. Sementara Devan dengan cepat meraih pinggang Vania dan menariknya pelan agar lebih mendekat. Ia tak segan-segan membenamkan kepalanya di perut istrinya.


Vania yang mengerti akan suaminya yang sedang bermanja-manja dengannya tidak diam saja. Ia mengusap-usap rambut suaminya dengan penuh perhatian.


"Kenapa?" tanya Vania.


"Tidak"


"Apanya yang tidak?"


"Aku tidak ingin kehilangan dirimu" kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Devan.


Vania sesaat diam dan melebarkan senyumnya. Tangannya masih setia mengusap ujung kepala suaminya. "Memang siapa yang mau meninggalkanmu?"


"Aku selalu takut kejadian lalu terulang kembali. Sungguh aku tidak akan sanggup tanpamu" tuturnya dengan suara yang berat.


"Mas..." panggil Vania lirih. Namun, Devan hanya diam di posisinya tanpa mengangkat wajahnya. Bahkan kali ini pelukan tangannya di pinggang Vania lebih erat. "Aku janji tak akan pernah pergi tanpa izinmu. Aku akan selalu menemanimu sampai kapanpun. Apapun yang terjadi kita akan selalu hidup bersama dan saling mencintai. Hanya kematian yang bisa memisahkan kita. Terimakasih sudah mencintaiku sedalam ini. Aku bahagia memilikimu" lanjutnya yang kemudian ditutup dengan mencium ujung kepala suaminya yang masih setia terbenam di perut datarnya.


"Ayo kita ke halaman belakang. Aku ingin sekali disana"


Devan memindahkan posisinya setelah mendengar permintaan Vania. Ia melepaskan pelukan tangannya di pinggang Vania lalu tersenyum lebar. Ia mengangguk dan berdiri. Tangannya ia selipkan diantara jemari istrinya. Menggiringnya keluar ruang baca menuju tempat yang istrinya inginkan. Tempat dimana menjadi favorit Devan saat masih di bangku sekolah.


*****


Devan dan Vania menghabiskan waktu seharian di rumah. Mereka seakan enggan menginjakkan kaki keluar dari pagar rumah. Ya, seharian ini mereka memang memutuskan untuk berdiam diri di rumah.


"Besok kita ke Bandung ya" ajak Devan ke istrinya saat selesai makan malam.

__ADS_1


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Vania yang seakan enggan karena rencana yang terlalu mendadak.


"Oma merindukanmu, dia ingin bertemu denganmu"


"Astaga, aku lupa jika belum mengunjungi Oma sama sekali semenjak kepulanganku" kata Vania sambil menyentuh kepalanya karena baru ingat akan Oma yang tinggal di Bandung.


Devan tersenyum melihat istrinya yang terlihat panik karena melupakan Omanya. "Aku memberitahunya kemarin. Itulah kenapa beliau meminta kita datang. Dan rencana kita akan menginap selama tiga hari sekalian nanti meninjau perkembangan resort disana"


"Resort?" tanya Vania mengulang perkataan Devan karena setahunya Devan tak punya resort di Bandung.


Devan mengangguk diikuti dengan jawabannya. "Iya. Aku lupa memberitahumu. Selama kepergianmu aku membangun resort di Bandung dan beberapa investasi lain di beberapa kota. Itulah sebabnya mengapa saat terjadi masalah di London aku kekurangan dana. Dan semuanya akan aku alihkan atas nama dirimu".


"Maksudnya? Aku nggak ngerti" tanya Vania bingung.


Devan menggenggam tangan kanan Vania yang ada di atas meja makan. "Semuanya milikmu, sayang. Aku melakukannya untukmu".


"Tidak perlu berlebihan, mas. Aku nggak butuh semua itu. Cukup selalu bersamamu, aku sudah nyaman. Tanpa namaku diatas semua itu juga aku tidak akan kekurangan sedikitpun. Jadi biarkan saja semua itu tertera namamu" tolak Vania tanpa mengurangi kesopanannya pada Devan.


"Jangan menolak, dari awal aku sudah memikirkan ini semua. Aku memang membuatnya untukmu" kata Devan menegaskan dengan suara lembutnya.


Vania menghela nafas berat. Ia sadar suaminya itu tak lagi bisa dibantah keinginannya. "Ya sudah terserah mas saja" jawabnya pasrah.


" Nah, gitu dong. Setelah dari Bandung aku akan mengurus surat pengalihan hak kepemilikan padamu" ucap Devan tersenyum lebar karena istrinya mau menurut. Ia pun mengajak Vania untuk kembali ke kamar beristirahat.


"Istirahatlah dulu. Aku akan siapkan keperluan kita untuk besok" tutur Vania.


"Aku akan membantumu, sayang"

__ADS_1


"Baiklah" jawab Vania sambil mengambil beberapa potong pakaian miliknya dan milik suaminya dari dalam lemari. "Oo iya, lalu bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor? Kau yakin akan libur selama tiga hari?" tanya Vania sambil membuka koper untuk ia jadikan tempat menaruh barang-barang yang akan dibawanya.


"Ronald bisa menghandle untuk sementara. Lagipula aku masih bisa memantau dan bekerja meski tidak datang ke kantor" jawabnya dengan santai.


__ADS_2