
Pagi ini Vania bersiap untuk berangkat ke kantor setelah seminggu lamanya ijin. Ia nampak sibuk merapikan pakaian yang dikenakan.
"kita berangkat bareng ya" kata Devan sambil membenarkan dasinya membuat Vania yang tengah duduk di depan meja riasnya menoleh.
"aku naik ojol saja kak" jawab Vania
"enggak, mulai sekarang aku tak ijinkan kamu naik kendaraan lain selama aku masih bisa menemanimu" kata Devan tegas yang secara tak langsung menjadi larangan keras bagi Vania.
"Tapi aku nggak mau nanti orang-orang di kantor curiga" bantah Vania
"aku nggak peduli, daripada aku harus membiarkanmu naik kendaraan lain sementara kau bisa pergi bersamaku" katanya seperti perintah yang tak boleh lagi dibantah.
"tapi..."
"baiklah jika kau tak bisa menurut, terserah maumu saja" kata Devan mulai kesal karena istrinya itu tidak mau menurut.
"kak, maaf..." panggil Vania. Namun suaminya itu seolah tak memperdulikan dan mengabaikan panggilannya. Ia mengambil jasnya yang baru diambilnya dari dalam almari pakaian.
Devan berjalan menuju arah pintu untuk keluar. Dan saat ia sudah berada tepat di balik pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti karena Vania memegang pergelangan tangannya. Rasa kesalnya membuat dirinya tidak ingin menoleh. Ia hanya ingin Vania bisa mengerti kekhawatirannya.
"kak, maafin aku" kata Vania lirih.
Devan masih tak bergeming. Ia tetap diam dalam posisinya tanpa menoleh sedikitpun.
"kak..." panggil ulang Vania namun tetap saja lelaki itu tak bergerak sedikitpun dari posisinya.
"maafin aku" suara Vania bergetar didengar oleh Devan. Ia tahu betul istrinya sedang menangis. Ia tidak sampai hati melihat istrinya seperti itu. Padahal niat awalnya hanya ingin membuat sang istri menyadari kesalahannya, tapi yang terjadi wanita itu justru nampak sangat sedih dan tertekan.
Devan membalikkan tubuhnya menghadap istrinya. Ia menatap lekat istrinya. Dipandanginya wajah yang terlihat sendu itu. Kedua tangannya bergerak ke pipi Vania menghapus air mata yang mengalir.
"jangan pernah ulangi lagi... aku hanya ingin kamu mengerti akan kekhawatiranku. maaf jika kata-kataku sudah menyakitimu" katanya dengan tangan kanan memegang tengkuk istrinya. Ingin sekali ia memeluk dan mencium bibir Vania. Tapi ia masih sadar dan ingat akan janjinya.
Vania mengangguk pelan, "aku akan berangkat bersamamu, maafkan aku yang kepala" kata Vania merasa bersalah.
"ya sudah ayo berangkat...jangan bersedih lagi, nanti mama bisa curiga aku menganiaya putrinya" kata Devan menggoda istrinya agar tersenyum. Dan benar saja, Vania menanggapinya dengan senyum malu-malu.
Setelah berpamitan dengan Mama Karina dan Renata, Devan dan Vania berangkat ke kantor. Di sela-sela perjalanan mereka saling mengobrol.
__ADS_1
"nanti setelah dari kantor, kita beres-beres ya..." kata Devan sambil fokus menyetir
"kita jadi pindah hari ini?"
"jadi lah... aku sudah mempersiapkan semua keperluanmu disana, tinggal pindahin baju dan barang-barang penting lainnya yang perlu kamu bawa"
Vania mengangguk.
Saat mobil hampir mendekati area gerbang kantor, Vania meminta Devan untuk menurunkannya. Awalnya ia menolak. Tapi setelah Vania memaksanya, akhirnya Devan setuju karena jaraknya juga hanya lima puluh meter saja dari gerbang kantor.
"makasih ya..." kata Vania menunduk ke arah Devan lewat jendela kiri yang terbuka.
"kamu jalan lah dulu, aku akan masuk setelah belakangmu" kata Devan dan Vania mengangguk.
Vania berjalan mendahului masuk gerbang kantor. Setelah itu baru Devan melajukan kembali mobilnya masuk area parkiran.
Vania yang akan memasuki pintu utama gedung tersenyum simpul pada Devan yang baru keluar dari mobilnya.
Vania berjalan menuju ruangannya. Ia penasaran dengan boss baru pengganti pak Linggar. Ia juga harus bersiap menghadapi banyak pertanyaan dari Maya karena ijin begitu lama.
"Kamu Van... bikin aku khawatir aja tahu nggak sih, seminggu ambil cuti, di telepon nggak diangkat, di WA juga nggak bales. David juga khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Aku suruh ke rumahmu bilangnya nggak enak, takut gangguin. kamu kenapa sih?" tanya Maya memberondong Maya ke Vania tanpa henti. Maya berjalan mendekati ruangan Vania yang hanya tertutup kaca setengah badan dengan ruangannya.
"maaf mbak, aku nggak sempet pegang ponsel" kata Vania senyum.
"tapi kamu sehat-sehat aja kan? aku khawatir lho, sejak kejadian istri pak Linggar ngamuk itu kamu paginya langsung ijin" kata Maya khawatir.
"aku nggak apa-apa mbak... aku ambil ijin karena papaku meninggal" kata Vania pelan dengan senyum paksanya.
"innalillahi... maafin mbak ya Van, mbak turut berduka cita ya" kata Maya sedih
"iya mbak...makasih semuanya serba mendadak mbak... oo iya boss baru kita gimana mbak orangnya?" kata Vania mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin sedih kembali.
"orangnya baik Van, cuma ya itu tampangnya lebih kerenan yang dulu, ini agak tua" kata Maya setengah berbisik sambil cekikikan.
"mbak ini ada-ada saja" kata Vania tersenyum
"udah ah...kita kerja aja" kata Maya tersenyum. Ia berlalu menuju ruangannya.
__ADS_1
Vania mengerjakan pekerjaannya seperti hari-hari sebelumnya. Ia juga sudah mengenal manager yang sekaligus menjadi bossnya itu.
Tiba saatnya jam makan siang. Vania bergegas ke kantin bersama Maya. Saat menunggu makanan pesanannya datang, tiba-tiba ponsel Vania bergetar. Vania melihat panggilan itu dari suaminya, Devan.
"aku angkat telepon bentar ya mbak" kata Vania ke Maya.
Vania pergi keluar kantin untuk menerima panggilan Devan.
"hallo assalamualaikum"
"waalaikumsalam, kamu di mana? sudah makan?"
"ini aku di kantin mau makan sama mbak Maya"
"Maya siapa?"
"itu... sekretarisnya pak Romi"
"ya sudah kalau begitu, nanti tolong ke ruanganku setelah jam istirahat"
"tapi bagaimana kalau orang-orang melihat?"
"aku akan meminta Ronald unkuk mnghubungi Maya atau siapa itu biar kamu bisa ke ruanganku dengan alasan mengantar berkas"
"baiklah, kalau begitu"
"ya sudah, lanjutkan makanmu, assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Vania kembali ke Maya yang sudah menunggu di mejanya. Mereka pun segera menyelesaikan makan siangnya untuk bergegas ke musholla.
Vania kembali ke meja kerjanya. Beruntung siang ini dia tidak bertemu dengan David. Mungkin pria itu mengira dirinya masih ijin. Sehingga ia tak perlu lagi mencari alasan untuk menjawab pernyataan cinta pria itu tempo hari
Tak lama kemudian Maya mendapatkan panggilan dari Ronald seperti yang telah dipesankan oleh Devan.
Vania pun menuju ruangan Presdir sambil membawa sembarang berkas untuk dijadikannya alasan.
__ADS_1