Cinta Vania

Cinta Vania
Lamaran Kerja


__ADS_3

"ya sudah titipin saja ke Vania, kan dia juga mau ke sana" sahut mama Karina


"oh iya benar juga" kata papa Firman senang karena menemukan solusi


"ih nggak mau pa, nanti yang ada kak Devan tahu kalau Vania mau ngelamar kerja disana" sahut Vania.


"ya kamu kan bisa bilang kalau kamu kesana cuma di suruh papa buat anter ponselnya yang tertinggal, dia juga kan nggak akan tahu kamu bakal ngelamar kerja disana kalau kamu nggak bilang, kadang-kadang b*go sih" sahut Adit sambil menoyor pelan kepala adiknya.


"mama....." rengek Vania


"Adit... jangan usil gitu sama adikmu" kata Mama melerai.


"tahu nih, udah nggak serumah ketemu adiknya bukannya kangen malah jahat" kata Vania mulai muncul sifat manjanya


Adit hanya melipat bibirnya menahan senyum melihat rengekan Vania. Sebenarnya ia rindu saat-saat seperti ini. Sudah lama adiknya itu tak bermanja-manja lagi seperti ini dengan orang-orang di sekitarnya


"ya sudah papa mau berangkat dulu. Ini ponselnya, ingat disini ada banyak data penting, papa mau kamu antar langsung ke pemiliknya. Papa nggak percaya kalau dititipin ke orang lain. Nanti papa akan menghubungi asistennya supaya kamu bisa ketemu sama Devan dan ngasih langsung ponsel ini ke dia" kata papa Firman sambil menyerahkan ponsel Devan ke Vania.


Vania menerima ponsel itu dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.


Adit dan papanya berangkat menuju kantor kemudian di susul oleh Vania yang juga berangkat ke SA Group setelah taksi pesanannya datang.


Didalam taksi saat perjalanan tiba-tiba ponsel milik Devan berdering. Vania mengambil ponsel itu dari tasnya. Ternyata panggilan masuk dari bundanya. Vania tak berani mengangkat panggilan itu karena tidak ingin dikatakan lancang. Dan saat panggilan itu berakhir, Vania tak sengaja melihat layar ponsel Devan yang menyala. Ia terkejut mendapati foto dirinya dijadikan sebagai wallpaper ponsel Devan.


Ia ingin membuka kunci layar ponsel itu. Namun sayangnya Devan mengunci ponsel itu dengan pin sandi.


Vania memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tasnya.


Sesampainya di depan gedung SA Group, Vania memberi tahu security yang berjaga tentang kedatangannya. Salah satu security mengantar Vania menuju ruang HRD untuk menyerahkan lamarannya.


"lamarannya sudah saya terima, kamu bisa mengikuti wawancara besok. Tolong persiapkan dirimu dengan baik karena akan ada banyak saingan yang juga melamar di posisi yang sama" kata seorang wanita berusia tiga puluhan yang menduduki jabatan sebagai kepala HRD.

__ADS_1


"baik mbak, terimakasih. Saya pamit dulu" kata Vania sambil menjabatkan tangannya.


Vania keluar dari ruang HRD menuju ke loby perusahaan untuk menyampaikan maksudnya bertemu dengan atasan mereka.


"apa anda sudah membuat janji?" tanya wanita yang bertugas di loby


"sudah mbak"


"atas nama siapa mbak?"


"Vania"


Pihak loby segera menginformasikan kepada sekertaris pribadi Devan.


Setelah mendapatkan informasi dari Lia, Vania dipersilahkan untuk menuju ke lantai paling atas gedung itu untuk menemui sekertaris Devan.


Vania sudah tiba di lantai paling atas gedung. Ia keluar dari lift dan berjalan menuju ruang presdir. Ia berhenti di depan seorang wanita yang duduk di sebuah meja kerja yang ada di sebelah ruang presdir. Meja itu bertuliskan LIA (Sekretaris Presdir).


"iya betul, kamu yang namanya Vania?


"iya benar mbak..."


"sebentar ya... saya hubungi asistennya dulu"


Lia mengambil gagang telpon yang ada di sampingnya. Ia menghubungi nomor asisten Ronald yang menjadi atasan keduanya setelah Devan.


Lia: "selamat siang pak, ini mbak Vania nya sudah sampai di depan meja saya"


Ronald: _________


Lia: "baik pak"

__ADS_1


Lia menutup teleponnya dan meletakkannya kembali diatas meja kerjanya.


"mbak Vania, pesan dari pak Devan, mbak diminta langsung menunggu di dalam ruangan beliau dulu karena beliau belum selesai meeting"


"masih lama nggak mbak?"


"mungkin sekitar sepuluh menit lagi" jawab Lia sambil melirik jam yang melingkar di tangannya


"saya nunggu di sini saja kalau gitu mbak" kata Vania sambil menunjuk ke kursi tunggu yang ada di depan ruangan presdir.


"maaf mbak... bukannya saya melarang, tapi pesan beliau seperti itu, saya takut bapak marah dan menuduh saya tidak memperlakukan tamunya dengan baik. Tolong mengerti posisi saya" kata Lia memohon.


Vania pun mengangguk setuju.


"mari saya antar masuk ke ruangan pak presdir" ajak Lia berjalan di depan Vania. Lia membukakan pintu ruangan atasannya dan mempersilahkan Vania masuk dan duduk di sofa ruangan.


Lia menutup kembali pintu ruangan atasannya meninggalkan Vania sendiri.


Didalam ruangan Devan, Vania hanya duduk diam dengan matanya terus menatap sekeliling. Tak ada yang berubah saat pertama ia datang ke tempat itu. Tapi tunggu, pandangan matanya berhenti pada sebuah bingkai foto yang ada di meja kerja Devan. Bingkai itu membelakangi Vania dan menghadap ke kursi kebesaran presiden direktur itu.


Saat kejadian tempo lalu ia tidak begitu memperhatikan pemandangan di atas meja Devan. Ia semakin penasaran dengan foto itu. Ia merasa aneh dengan sikap lelaki itu, bahkan ia tersenyum sendiri membayangkan betapa alaynya lelaki itu.


"Seorang Devan yang dikenal pendiam dan cukup dingin, masa iya dia begitu alay dengan memasang fotonya sendiri di atas meja kerjanya" batinnya dalam hati.


Vania ingin menghilangkan rasa penasarannya dengan melihat foto itu. Baru selangkah ia berjalan, ia menghentikan langkahnya karena ragu. Ia takut terlalu mencampuri privasi orang lain. Tapi wallpaper ponsel yang tadi dilihatnya membuat rasa penasarannya yang begitu besar ingin kembali melangkahkan kakinya mendekati meja itu. Ia hanya ingin tahu apa seperti apa sebenarnya lelaki yang dikenalnya itu.


Vania mengikuti apa kata hatinya. Ia berdiri di depan meja dan menyentuh bingkai foto itu tanpa membiarkan foto itu menghadapnya.


Saat Vania mengambil bingkai itu dan membalikkannya. Ia terkejut karena melihat foto dirinya yang terpajang disana.


Karena rasa ingin tahu yang begitu besar, Vania mengambil foto itu. dia melihat ada tulisan tangan yang ditulis kecil-kecil dibelakang kertas foto.

__ADS_1


__ADS_2