Cinta Vania

Cinta Vania
Tak akan mengulang hal bodoh itu lagi


__ADS_3

Vania telah menyelesaikan masaknya. Ia memasak ayam rica dan tumis kentang yang dulu menjadi favorit Devan ketika Bu Tini memasak.


Vania membawa masakannya ke meja dimana suaminya berada.


"Iisshhh....katanya lapar, tapi malah tidur" kata Vania kesal setelah melihat Devan berbaring diatas busa kursi.


Vania meletakkan masakannya di atas meja. Ia bergerak duduk berjongkok di bawah kursi mendekati Devan yang terlelap. Dipandanginya wajah teduh dan damai itu. Sudut bibir Vania melengkung melihat suaminya nampak terlelap dalam tidurnya. Kelopak mata yang tertutup membuat Vania memberanikan diri menyentuh rambut Devan.


"Aku yang terlalu banyak menyakitimu, maaf" kata Vania tanpa bersuara.


Kini Vania beralih menyentuh pipi Devan, ia mengusapnya lembut. Memberi ketenangan pada tubuh yang sedang terlelap itu. Namun, sekejap saja, tangan Vania digenggam oleh Devan membuat pemiliknya terkejut karena kaget.


"Apa kamu terpesona dengan ketampanan suamimu ini?" kata Devan tiba-tiba tanpa membuka matanya. Ia melipat bibirnya menahan senyum.


"iih.... kepedean banget jadi orang" Pipi Vania memerah karena malu. Ia hendak menarik tangannya tapi Devan tak membiarkannya begitu saja. Devan malah mendekap tangan Vania di dadanya.


"Aku tahu semuanya, sayang. Sudah lah jangan mengelak"


"Memang sejak kapan kamu bangun?"


Devan membuka matanya, "Sejak mencium aroma masakan yang begitu menggugah seleraku"


"Jadi kamu hanya pura-pura tidur?" tanya Vania memanyunkan bibirnya.


Devan bangun dari tidurnya dan duduk. Ia meraih kedua pundak Vania agar berpindah duduk di sebelahnya.


"Apa disini kamu merindukanku?" tanya Devan menatap istrinya.


"Enggak tuh" jawab Vania cepat. Wanita itu terlihat sekali sedang berbohong.


"Yakin?"


"Yakinlah... lagian ngapain juga kangen sama kamu".


"Ya sudah kalau gitu. Aku mau balik ke Jakarta" kata Devan sambil beranjak.


"E..e...e... kok gitu" cegah Vania sambil memegang lengan Devan.


"kenapa?"


"Jangan pergi" kata Vania merengek.


"Katanya nggak kangen, terus ngapain juga aku disini" jawab Devan ketus.


Vania menundukkan pandangannya. Dengan malu-malu ia berkata "iya kangen, tapi jangan pergi"


Seketika Devan menahan tawanya. Ia senang sekali menggoda Vania.


"Beneran kangen?" tanya ulang Devan.

__ADS_1


"Iya beneran..."


Devan kembali duduk di tempatnya. Ia menatap Vania yang masih menunduk.


"Kalau beneran kangen, coba buktiin" kata Devan.


"Buktiin apa?" jawab Vania mengangkat wajahnya.


"Cium aku"


Vania hanya diam tak menjawab. Raut wajahnya mulai nampak masam karena kesal.


"Kenapa diam, katanya kangen? Ya udah kalau nggak mau, aku pergi"


"Iiiihhhhh...jangan" rengek Vania yang membuat Devan semakin gemas.


"Ya udah cium sini" kata Devan sambil menunjuk bibirnya.


"Enggak mau" jawab Vania cepat.


"kenapa?"


"Malu" jawab Vania manyun dengan pipi yang masih bersemu merah.


"terus?"


"Pipi aja ya..." kata Vania memohon.


"Mau enggak?"


"huft... Ya sudah lah daripada enggak sama sekali" jawab Devan mengalah.


Devan mulai mendekatkan pipinya di depan Vania. Saat Vania hendak mencium pipinya, tiba-tiba saja Devan menoleh membuat bibir mereka saling bersentuhan. Akibatnya Devan langsung menyambar bibir manis Vania yang begitu dirindukannya. Vania yang tak bisa menolak karena dengan cepat salah satu tangan Devan memegang tengkuknya sedang tangan lainnya memegang lengan Vania. Devan me*umat habis bibir Vania sampai pemiliknya merasa terengah-engah karena tak diberi jeda untuk bernafas.


Devan yang merasa kasihan pada Vania melepas ciumannya dengan ujung bibir yang melengkung.


"Kamu sengaja kan?" kata Vania ngos-ngosan sambil mengelus dadanya.


"Sorry, sayang. Aku terlalu rindu dengan bibir manismu" jawab Devan memeluk Vania.


Vania melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia masih memegang dadanya agar kembali tenang.


"Jangan peluk. Biarin nafasku teratur dulu"


Devan terkekeh mendengar jawaban istrinya yang seperti baru belajar berciuman.


"Tiga tahun lebih tak bertemu, kenapa kamu semakin menggemaskan saja" kata Devan sambil mengacak rambut Vania membuat pemiliknya kesal sambil membenahi rambutnya.


"Udah ah mas makan dulu... nanti keburu dingin. Aku masakin makanan kesukaan kamu. Mungkin rasanya sedikit beda sama bikinan Bu Tini"

__ADS_1


"Apapun aku makan jika kamu yang bikin, sayang"


Devan mengusap pipi Vania yang bersemu merah. Ia mencium kening Vania dengan lembut. "Makasih sudah memberiku kebahagiaan hari ini. Semoga selamanya kita seperti ini. Aku lelah jika dunia harus selalu menguji cinta kita".


Vania mengangguk pelan. "Aku janji nggak akan mengulang hal bodoh itu lagi" kata Vania tersenyum. "Sekarang makanlah dulu, aku akan menemanimu" lanjutnya mengambil piring dan mencentongkan nasi dan lauk ke dalam piring suaminya.


"Kita makan disini?" tanya Devan heran. Dan Vania mengangguk.


"Kenapa nggak di meja makan saja?"


"Ini itu kontrakan kecil, mas. Cuma ada satu kamar, kamar mandi, dapur kecil sama ruang tamu ini. Jangan disamain sama apartemen" jawab Vania menyebutkan isi rumah kontrakannya.


"Kenapa nggak cari kontrakan yang lebih besar sih yang"


"Uangku hanya cukup untuk ini, mas. Lagipula aku hanya sendiri disini"


"Bukannya kamu manager di resto milik Sherin?"


"Biarpun manager, aku nggak mungkin terus berpoya-poya tanpa menyisakan uang untuk tabungan. Apalagi kemarin aku harus terus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk biaya check up dokter" kata Vania sambil menuangkan air minum dari teko ke dalam gelas


Devan memandang wajah istrinya dengan perasaan bersalah. Ia tak tahu jika Vania harus hidup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya di Kota orang.


"Maafkan aku... Mulai sekarang, jangan pernah merasa terbebani lagi, aku akan berusaha untuk terus memenuhi kebutuhanmu" kata Devan menatap sedih Vania.


Vania membalasnya dengan tersenyum dan mengusap pipi Devan.


"Udah ayo makan" kata Vania mengalihkan pembicaraan agar suasana kembali tak sedih. Ia menyerahkan piring berisi makanan pada suaminya.


Devan mengambil piring itu dan memasukkan satu sendok berisi makanan ke dalam mulutnya. Ia mencoba mencerna rasa yang ada di makanan itu.


"Enak, sayang. Aku nggak nyangka kamu beneran bisa masak" puji Devan membuat Vania senang.


Devan makan dengan lahapnya. Ia tak menyangka istrinya kini pandai memasak. Padahal dulu saat tinggal bersama, jika berada di dapur hanya bisa memotong dan membersihkan sayuran.


"Alhamdulillah" kata Devan mengakhiri makannya yang tak tersisa.


”Minum dulu, mas. Aku beresin bekasnya dulu" kata Vania menyerahkan segelas air minum ke Devan. Kemudian ia membawa piring kotor sisa makan suaminya ke dapur.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Vania kembali duduk di samping Devan.


"Mas kok tiba-tiba bisa di Surabaya, ada urusan di kantor cabang sini?" tanya Vania


"Aku sengaja kesini cuma buat cari kamu"


"Darimana mas tahu aku disini, bahkan aku tidak pernah cerita apapun ke Mama" tanya Vania penasaran.


"Aku tahu dari Sita. Kamu ingat dia?"


"Sita temanmu yang Bandung itu?" tanya balik Vania menebak.

__ADS_1


"he'em. Dia sedang berada disini menemani suaminya. Sita sering melihatmu berada di mall bersama Juna".


"Oo" jawab Vania membulatkan bibirnya.


__ADS_2