Cinta Vania

Cinta Vania
episode 20 Yang???


__ADS_3

Mereka bercanda tawa layaknya sebuah keluarga.


Hingga tak terasa malam semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Kedua tamu itupun mengundurkan diri untuk berpamitan pulang.


"sudah malam sekali, kami pamit dulu ya Fir.. lain waktu gantian kalian berkunjung ke rumah kami" kata Pak Satria tertawa dan diikuti oleh pak Firman juga.


"pasti itu" jawab pak Firman


Mereka berpamitan pulang. para Keluarga Wibowo mwngantarkan tamunya keluar sampai di teras rumah. Bu Dewi memeluk bu Karina. Adit dan Vania menyalami keduanya. Kemudian bu Dewi memeluk Vania dengan hangat "tante pamit ya sayang, kapan-kapan tante kenalkan putra tante, biar kalian dekat..kan satu sekolah" kata Bu Dewi melepaskan pelukannya. Vania manganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.


Mereka berjalan ke arah parkiran dan memasuki mobilnya. Mobil mewah itupun melaju keluar pagar rumah. Para anggota keluarga kemudian bergegas masuk rumah untuk istirahat di kamar masing-masing. Karena semua bekas peralatan makan malam sudah dibereskan oleh Bi Inah.


Di dalam kamarnya, Vania tidak langsung tidur. Ia meraih benda pipih miliknya dan melihat ada pesan masuk dari kekasihnya. Mereka saling bertukar chat menyaakan keadaan dan kesibukan masing-masing. Sesekali wajah Vania memerah karena mendapatkan pujian dari sang pengirim pesan. Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Dia merasa bahagia meski hanya bertukar pesan.


"lama-lama kamu benar-benar membuatku gila dengan tersenyum sendiri Dit.. Terimakasih, aku bahagia menjadi kekasihmu" gumam Vania menatap ponselnya. Kemudian Vania meletakkan ponselnya diatas nakas setelah menirimkan pesan terakhirnya. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang mulai terasa cukup dingin karena AC yang menyala dengan suhu tinggi. Diraihnya remote AC di atas nakas untuk menurunkan suhunya. Vania termasuk gadis yang tidak terlalu kuat dengan cuaca dingin. Ia mempunyai riwayat alergi terhadap suhu yang dingin.


Tak butuh waktu lama ia memejamkan matanya. Karena hari memang sudah semakin larut. Dalam waktu sekejap saja ia sudah terlelap dalam mimpinya.


Malam yang singkat mulai berlalu. Seperti biasanya ia bangun pagi dan membersihkan tubuhnya. Ia turun ke bawah untuk membantu mama dan Bi Inah menyiapkan sarapan setelah melaksanakan sholat subuh.


Setibanya di dapur, ia melihat mamanya sedang memotong sayur. Sedang Bi Inah membersihkan ayam dan ikan yang akan dimasak. Bu Karina sering sering memasak sendiri karena suami dan anak-anaknya sangat menyukai masakannya. Bi Inah hanya bantu-bantu membersihkan dan menyiapkan peralatan dan bahan yang akan dipakai.


"eh sayang...kamu tolong siram tanaman di depan aja ya.. biar bi Inah yang bantuin mama disini" kata bu Karin saat melihat anaknya memasuki dapur


"baik ma"


Vania keluar pintu utama menuju taman kecil di halaman samping rumahnya. Tampak taman dengan bunga-bunga yang sangat indah dipandang mata. Mama Vania sangat menyukai bunga. Tak heran jika halaman rumahnya sudah seperti kebun bunga.


Selesai dengan pekerjaannya, Vania kembali masuk rumah dan menuju meja makan untuk sarapan bersama anggota lain yang sudah menunggu.


"pa, nanti Vania keluar boleh?" tanya Vania setelah duduk di kursinya.


"kemana?" tanya mama sambil menghidangkan nasi ke piring papa Vania


"jalan-jalan ma"

__ADS_1


"sama siapa?" tanya papa menoleh ke Vania


"emmm..sama Ditya pa" jawab Vania pelan dan menunduk sambil memegang sendok dan garpu. Vania sedikit takut saat mengatakannya. Takut akan dimarahi dan dilarang oleh papanya karena ia termasuk anak rumahan yang jarang keluar untuk sekedar berjalan-jalan dengan teman laki-laki.


"nanti suruh Ditya menemui papa dulu" sahut papa tegas membuat Vania semakin takut


"i...iya pa" jawab Vania gugup


Mereka kemudian sarapan bersama tanpa mengobrol. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Vania menyantap sarapannya dengan perasaan campur aduk dan takut.


Selesai sarapan, Vania kembali ke kamarnya untuk mngambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Ditya


vania: "kamu dimana?"


Ditya: "aku masih dirumah"


Vania: "jadi jalan?"


Ditya: jadi, dua jam lagi aku kesana"


Ditya: "papa nggak kasih ijin ya?"


Ditya mengirim pesan lagi karena Vania tak kunjung membalas. Vania mulai gusar, ia langsung menekan tombol panggilan pada layar ponselnya.


"hallo Dit"


"iya...gimana, kenapa nggak balas pesanku?"


"emm...itu..." kata Vania gugup


"apaan, kenapa kamu gugup gitu"


"anu...papa cuma bilang kalau kamu disuruh nemuin papa"


"oo...ya udah nanti aku nemuin papamu dulu"

__ADS_1


kata Ditya santai


"hah? kamu yakin? kok kamu sesantai itu sih?" tanya Vania sedikit terkejut


"terus? masa iya aku bawa keluar anak orang tanpa ijin"


"eh...iya juga ya"


"ya udah aku mau bantuin ibu dulu..habis itu siap-siap, tunggu aku ya"


"emm iya"


Mereka mengakhiri panggilannya. Vania langsung bergegas menuju lemari pakaiannya untuk memilih-milih baju yang akan dipakainya untuk kencan pertamanya. Dicobanya satu persatu baju pilihannya di depan cermin. Satu jam ia berkutat dengan puluhan pakaian yang ia biarkan berserakan diatas tempat tidur. Akhirnya dia menemukan baju yang cocok. Celana panjang hitam dan sweater pink dengan gambar kecil menjadi pilihannya mengingat hari ini mereka akan bepergian dengan mengendarai motor. Tak lupa ia menyiapkan sling bag warna hitam untuk dibawanya.


Selesai mempersiapkan pakaiannya, ia duduk di depan meja riasnya dirinya. Vania bukan anak yang suka berpenampilan berlebihan. Selain karena usianya yang masih muda, ia juga bukan anak yang suka dengan dandanan menor. Kulitnya yang putih dan bersih membuat wajahnya tetap ayu meskipun hanya dipoles bedak tipis dan lipgloss.


Saat akan beranjak dari kursinya, benda pipih miliknya berbunyi. Ia membuka pesan masuk.


Ditya: "yang, aku udah sama papamu ni"


Jantung Vania berdetak kencang membaca pesan itu. Bukan karena maksud dari pesannya yang membuat ia terkejut, melainkan panggilan sayang yang ia tujukan ke Vania.


"ya ampun....dia manggil aku yang. Aduh...jantungku..berasa mau loncat gini, kok aku jadi deg-degan banget" kata Vania menatap layar ponselnya sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya.


Vania: "iya, aku turun"


Vania membalas pesan Ditya dan kemudian bergegas untuk turun ke lantai bawah tanpa membawa tasnya.


Vania terkejut melihat Ditya yang hanya seorang diri di ruang tamu. Ia mengahmpiri Ditya dan duduk di sebelahnya.


"udah siap?" tanya Ditya


"papa mana?" tanya balik Vania tanpa menjawab pertanyaan Ditya


"papamu tadi buru-buru nganter mamamu belanja, ayo berangkat" kata Ditya

__ADS_1


Tanpa menunggu penjelasan Ditya lagi, Vania bergegas kembali ke kamar untuk mengambil tasnya. Tak lama ia kembali membawa tas dan melangkah pergi bersama Ditya


__ADS_2