Cinta Vania

Cinta Vania
Sakit sekali


__ADS_3

Mereka melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda.


"kamu taat beragama ya..." kata Devan sambil fokus menyetir.


"enggak juga, aku hanya berusaha menunaikan tugasku sebagai manusia, kalau soal taat, aku masih nol besar. Aku aja masih belum bisa nutup aurat" kata Vania dengan senyum


"tapi kamu rajin ibadahnya"


"kalau ibadah kan emang udah jadi kewajiban setiap umat kak"


"jujur aku malu lho sama kamu, aku yang sebagai laki-laki tapi hanya sholat kalau sempat saja" kata Devan dengan senyum kecut


"semua berawal dari niat kak"


"Beruntung pria yang bisa dapatin hati kamu" kata Devan


"aku biasa aja kak, aku masih banyak belajar juga jadi makmum yang baik dari imamku nanti" kata Vania dengan senyum


"memang imam yang kamu harapkan seperti apa?


"aku nggak mau muluk-muluk, karena aku yakin nggak ada yang sempurna di dunia ini. Aku hanya ingin mencari yang bisa bimbing aku lebih baik dan bisa melindungi aku dengan ketulusan cintanya".


"nanti kalau aku ada teman yang kaya gitu aku kenalin ke kamu deh" kata Devan dengan senyum getir membuat Vania mengerutkan keningnya.


"kakak mau jadi agen biro jodoh?"


"gimana lagi, habisnya aku mau daftar sendiri udah jelas nggak masuk kriteria" katanya sambil tertawa. Namun kata-kata itu justru membuat Vania sedih karena pria itu tak memperjuangkan dirinya lagi.


Vania diam berperang dengan pikirannya sendiri. Hatinya begitu sakit. Ia membuang pandangannya ke luar jendela untuk menahan air matanya yang hampir jatuh.


"kita cari makan dulu aja gimana" tanya Devan


"terserah kakak" jawab Vania datar tanpa menoleh.


Devan yang mulai sibuk dengan jalanan di depannya tak begitu memperhatikan ekspresi Vania yang sedang muram.


"sudah, ayo turun" kata Devan saat mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di depan sebuah kafe.


Vania turun dari mobil diikuti oleh Devan. Keduanya memasuki kafe yang cukup mewah dengan nuansa Eropa.


Mereka duduk di salah satu meja kosong dan memesan makanan.


Di sela-sela menunggu, Devan menatap heran Vania yang nampak murung. Ia mencoba mengajak gadis yang duduk di depannya hanya terhalang meja kecil itu untuk mengobrol


"Van, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Devan yang kemudian diangguki Vania.


"apa kamu masih mencintai dia?"

__ADS_1


Deg,,, Vania terkejut dengan yang didengarnya. Ia tak menyangka pria di depannya akan menanyakan hal itu. Padahal, akhir-akhir ini bahkan ia sudah mulai lupa dengan sosok itu.


"siapa?" tanya Vania pura-pura tidak tahu


"Ditya, maaf jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman"


Vania diam tak menjawab.


"baiklah, lupakan... maaf sudah menyinggungnya" kata Devan berusaha senyum.


"tidak... aku hanya belum terbiasa dengan semua itu" kata Vania pelan


"Jangan dilanjutkan jika hanya membuatmu sedih"


"tidak apa-apa, aku akan belajar membiasakan diri untuk mendengar pertanyaan itu" diam sejenak. Devan mendengarkan Vania dengan serius. "jujur sebenarnya, akhir-akhir ini aku sudah mulai lupa dengan dirinya. Aku bahkan lupa jika aku pernah mencintainya. Semua itu karena seseorang. Dia mampu membuatku merasa nyaman saat di dekatnya. Dan orang itu adalah..."


"Devan..." teriak seorang wanita dari belakang Vania memotong pembicaraan mereka.


Devan dan Vania menoleh bersamaan ke asal suara.


"Addduh, kenapa tiba-tiba dia ada disini" kata Devan sambil menepuk keningnya.


Vania menoleh kembali pada pria di depannya. Ia memperhatikan wajah Devan yang mulai cemas.


"Devan kamu kenapa susah sekali dihubungi sih" kata wanita itu begitu manja menghampiri Devan. Ia berhambur ke pelukan Devan.


"Alline, tolong jangan seperti ini" kata Devan mencoba melepas pelukan Alline karena tidak nyaman dengan tatapan Vania.


"kamu kenapa sih" tanya Alline


"kamunya yang kenapa, datang-datang main peluk. bagaimana kamu bisa ada disini" tanya Devan ketus.


"aku udah sebulan di Jakarta, aku DM kamu tapi nggak pernah dibales, dan kebetulan kita ketemu disini, aku kangen banget sama kamu" kata Alline kembali memeluk Devan. Benar kata Alline, Devan memang sengaja mengabaikan Alline yang selalu berkirim kabar padanya.


Vania mulai muram karena rasa cemburu. Ia hanya menduga-duga kedekatan Devan dengan wanita yang bernama Alline itu tanpa berani bertanya.


Devan memperhatikan wajah Vania yang mulai masam. Gadis itu memalingkan wajahnya menatap sembarang arah. Matanya nampak menahan air mata. Devan yakin betul gadis itu sedang cemburu.


"dia siapa? bukan pacar kamu kan?" tanya Alline ke Devan.


"Tenang aja mbak... saya hanya pegawai di tempat beliau kerja kok" jawab Vania dengan senyum getirnya.


Devan terkejut dengan pernyataan Vania. Seketika hatinya begitu sakit mendengar bagaimana gadis itu memposisikan dirinya.


"Oo pegawai...kenalin aku Alline, aku calon tunangannya Devan, eh salah...tuan Devan" kata Alline bersemangat sambil mengulurkan tangannya.


"Alline, apa-apaan kamu" kata Devan yang merasa risih dengan perkataan gadis itu.

__ADS_1


Vania pun membalas uluran tangan Alline dengan senyum paksanya.


"saya Vania"


"baiklah, aku pulang dulu ya, kasihan mama nungguin di mobil" kata Alline dengan senyumnya yang mengembang.


"dan Vania... tolong jaga calonku" ia menoleh dan Vania hanya mengangguk pelan.


Alline pergi meninggalkan Devan dan Vania.


Tak lama kemudian pelayan mengantarkan pesanan mereka.


Devan segera menyantap makanannya karena sudah lapar. Sedang Vania tak lagi berselera dengan makanan yang ada di hadapannya. Ia hanya terus mengaduk-aduk makanan itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Sakit sekali rasanya di saat menemukan pengganti dari masa lalu, di saat sudah mulai sayang, namun justru kenyataannya dia milik orang lain.


Tanpa disadari air mata Vania menetes membasahi pipinya. Dengan cepat ia menghapus air mata itu. Namun sayang, Devan yang terus memperhatikan sikap Vania sambil menikmati makananya sudah menyadari apa yang terjadi pada gadis yang ada di hadapannya itu.


"kamu kenapa?" tanya Devan lembut


"nggak apa-apa, aku lagi nggak enak badan. Aku mau pulang" jawabnya lemas.


"makanlah dulu, setelah ini aku akan mengantarmu"


"aku udah nggak lapar" kata Vania pelan sambil meletakkan kembali sendok dan garpu diatas piring


"tapi.."


Tiba-tiba ponsel Vania bergetar membuat Devan mengurungkan niatnya untuk bicara.


Vania dengan cepat mencari ponselnya yang ada di tas. Panggilan itu dari mamanya.


"hallo ma"


"kamu dimana sayang, cepat pulang"


"ada apa ma" tanya Vania cemas karena mamanya terdengar menangis.


"papamu sakitnya kambuh"


"apa? aku pulang sekarang Ma"


Seketika Vania menangis. Ia memutuskan panggilannya.


"kak, aku harus pulang, papa sakit" katanya tergesa-gesa.


"aku antar"

__ADS_1


Devan segera memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran.


Setelah melakukan pembayaran, ia segera bergegas mengajak Vania memasuki mobil untuk mengantarnya pulang.


__ADS_2