Cinta Vania

Cinta Vania
Salah tingkah


__ADS_3

Pelan-pelan dibacanya satu persatu kata yang ada di foto.


Kau..... Bidadariku


Mungkin begitu banyak diluar sana hati yang mampu menjadi tempatku berpaling darimu. Banyak hati yang siap dan sanggup menerima segala kekuranganku. Menjadi tempatku berbagi, mengadu keluh kesah dan kesedihanku, menjadi tempatku bersandar akan lelah yang ku rasakan sepanjang hari.


Jika rindu akan cinta yang selama ini ku pendam dalam hati mampu ku ungkapkan, aku yakin kau tak kan sanggup mendengarkannya.


Sekian lama aku menutup hatiku hanya untuk mencintaimu. Mencintai sesuatu yang belum pasti ku miliki. Mencintai seeorang yang ku yakin tak kan mungkin ada aku di hatinya.


Sepanjang hidupku telah ku habiskan dengan mencintaimu, tanpa menghiraukan para wanita yang berusaha untuk datang mendekat dan bersedia menjadi tempatku berlabuh.


Mungkin orang lain akan menilai aku sebagai lelaki gila dan bodoh. Tapi aku yakin, aku tak pernah salah memilih untuk urusan hati.


Aku tak peduli dengan semua yang akan kau ungkapkan. Aku tak peduli dengan semua penolakanmu. Satu hal yang perlu kau tahu, tak pernah ada kata menyesal dalam hidupku untuk mencintaimu.


Aku telah memilihmu. Memilih untuk menyimpan hatiku hanya untukmu. Entah aku bisa memilikinya atau tidak, bagiku bukan suatu masalah.


Tak mudah bagiku melewati hari sulit tanpamu. Kau telah mengubah hari-hariku. Bagiku kau segalanya. Kaulah tangis dan tawaku.


Aku bahkan lupa kapan terakhir kali mencintaimu. Rasanya tiap hati perasaan selalu ada bahkan semakin besar meski ku tahu kau tak mungkin ku miliki.


Kata orang cinta itu buta. Tapi tidak bagiku. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku. Aku mencintaimu dengan segala ketulusanku. Karena jika aku merasa memang cinta itu benar-benar buta, lalu dosakah aku jika memaksakan diri untuk memilikimu?.


Tapi tidak, aku tidak menanamkan peribahasa itu dalam hidupku. Aku hanya ingin memilikimu atas permintaanmu.


Terimakasih atas hati yang indah karena hanya ada dirimu ini...


Maaf jika aku mencintaimu.


Vania cepat-cepat mengembalikanfoto itu.dalam figura dan meletakkan kembali di tempat semula saat mendengar suara beberapa langkah kaki yang berhenti di depan ruangan yang ditempatinya. Suara seorang lelaki yang sedang berbicara dengan Lia. Pria itu adalah Devan bersama asistennya.


Dengan cepat Vania kembali duduk di sofa sebelum Devan menyadari apa yang sudah dilakukannya.


Tak lama kemudian Ronald membuka pintu dan mempersilahkan Devan masuk ke dalam ruangannya sendirian. Ronald menutup pintu itu dan kembali ke ruangannya.


"maaf, sudah lama nunggu ya?" kata Devan berpura-pura biasa untuk menutupi kegugupannya setelah sekian bulan tak bertemu gadis itu. Ia berjalan mendekati dan duduk di sofa yang terpisah dengan Vania.

__ADS_1


Vania yang melihat perubahan pada diri Devan hanya melongo. Pria itu semakin gagah saja. Tubuhnya nampak kekar dan berotot meski tertutup kemeja dan jas.


"emm eh iya, belum lama kok" katanya gugup karena baru menyadari pria yang ada di depannya sedang menunggu jawabannya.


Ia merogoh tasnya mencari benda pipih yang dimaksud.


"aku cuma mau nganterin ini titipan dari papa" lanjutnya sambil menyerahkan ponsel yang dipegangnya pada pemiliknya.


"oh iya aku melupakannya. Ku pikir jatuh dan hilang. Tolong sampaikan terimakasihku pada Oom Firman dan maaf sudah merepotkanmu" ucap Devan sambil mengambil ponselnya dari tangan Vania.


Vania mengangguk pelan. Hatinya masih tak karuan setelah membaca tulisan tangan Devan yang tak sengaja dibacanya.


"aku pulang dulu" kata Vania tiba-tiba pamit setelah mengembalikan ponsel milik Devan. Ia membalikkan badannya hendak melangkah.


"tunggu sebentar" kata Devan cepat menghentikan langkah gadis yang dicintainya.


Vania membalikkan tubuhnya kembali menghadap Devan "ya"


"aku akan mengantarmu" kata Devan. Ia meraih kunci mobilnya yang ada diatas meja.


"kenapa?"


"aku harus ke toko buku" jawabnya pura-pura beralasan. Ia hanya takut merasa canggung dan salah tingkah saat bersama Devan.


"tak apa... akan ku antar"


"tapi aku ada janji bertemu temanku"


"iya, tak masalah... akan ku temani kau sampai temanmu datang"


Devan berjalan mendekati kursinya untuk mengambil dompetnya yang ditinggal di laci mejanya.


"iih pria ini kenapa jadi berubah gini sih, bukannya kemarin sering menghindar, kenapa sekarang ngotot banget" gumam Vania pelan


"kamu bicara sesuatu?" tanya Devan karena mendengar suara yang tidak jelas.


"enggak kok" jawab Vania gelagapan karena takut ketahuan.

__ADS_1


"ya udah ayo" ajak Devan berjalan mendahuluinya


"tunggu, apa aku tidak merepotkanmu?" tanya Vania membuat langkah Devan terhenti dan menoleh.


"tenanglah... aku sudah tidak ada pertemuan lagi" jawabnya dengan senyum.


"baiklah" Vania mulai kesal karena tidak punya alasan lagi untuk menolak.


Akhirnya dengan terpaksa Vania pergi ke toko buku bersama Devan meskipun niat awalnya hanya ingin beralasan saja untuk menghindar.


Sesampainya di toko buku, Vania hanya memilih salah satu novel. Devan dengan setia menemani gadis itu sampai selesai.


Keduanya duduk di sebuah bangku taman terdekat sambil menikmati camilan dan minuman yang sudah dibeli Devan dari supermarket sebelah toko buku.


"temanmu belum sampai? tanya Devan


"emm itu... nggak tahu, mungkin sebentar lagi" katanya gugup karena bingung tidak punya jawaban lain


Devan hanya manggut-manggut mendengar jawaban Vania.


Sampai setengah jam, teman yang dimaksud Vania belum juga sampai. Gimana mau sampai kalau teman itu hanya khayalannya belaka😂😂.


"ini udah setengah jam lho... kok dia nggak datang-datang, apa mungkin terjadi sesuatu sama dia?" tanya Devan khawatir.


"emm sepertinya dia tidak jadi datang, kakak kalau sibuk dan ada urusan bisa pergi duluan aja" kata Vania


"nggak kok, aku cuma khawatir aja takut temanmu kenapa-napa, emang siapa sih, Nadya?"


"bukan, hanya teman kuliahku".


Sejenak mereka saling diam dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Vania melihat ada seorang wanita cantik dengan dress selutut dan rambut yang tergerai sedang menghampiri mereka. Wanita itu menyentuh punggung Devan dari belakang membuat pemilik tubuh itu menoleh.


"Devan ya?" kata wanita itu


"hey, kok bisa disini... kamu sama siapa?" jawab Devan senang. Ia berdiri dari duduknya.


Wanita itu mencium pipi kanan dan kiri Devan. wajahnya begitu riang bertemu dengan Devan. Begitu juga sebaliknya, Devan menyambutnya dengan senyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2