Cinta Vania

Cinta Vania
Akan tetap ku jaga.


__ADS_3

Tengah malamnya, Vania sudah terlelap tidur. Mama Karin bergegas keluar menemui menantunya.


"Nak Devan" panggil mama Karin saat melihat Devan duduk diatas bangku depan ruangan menundukkan kepalanya.


Devan mengangkat kepalanya menoleh ke suara. Mama Karina mendekati Devan dan duduk di sebelahnya.


"Bagaimana, Ma? Apa kondisinya lebih baik?"


Mama Karina mengangguk lalu menjawab, "dia sudah membaik dan sekarang sudah tidur"


"Syukurlah..." kata Devan lega.


"Maafin putri Mama, nak. Kami yang terlalu memanjakannya sehingga membuatnya menjadi seorang wanita yang keras kepala. Maafkan kami yang salah mendidiknya" kata Mama Karin berurai airmata.


"Ma, tidak ada yang perlu dimaafkan. Dari awal Devan memilih putri mama, Devan sudah siap menerima segala kekurangannya. Sudah menjadi tugas Devan untuk memperbaikinya. Doakan saja masalah kami cepat teratasi" kata Devan lembut.


"Terimakasih sudah mau mengerti dan mencintai putri mama, Mama bersyukur punya menantu sepertimu. Sekarang masuklah jika kau ingin melihat istrimu. Pelan-pelan saja agar dia tidak terbangun" kata Mama Karin mempersilahkan. Ia tak mungkin terus menahan menantunya untuk tetap berada diluar.


"Makasih ya, Ma" jawab Devan senang karena bisa melihat wajah Vania dari dekat.


Devan melangkah masuk ke kamar Vania. Ia mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur yang ditempati Vania.


Devan mengamati wajah polos istrinya yang sedang tertidur. Ada rasa bersalah karena sudah mengabaikan istrinya hingga membuatnya terjatuh. Ingin rasanya ia menyentuh pipi mulus Vania yang tertutup anak rambutnya. Tapi ia takut wanita itu akan terbangun.


Cukup lama Devan menemani Vania yang tertidur. Hingga akhirnya ia berdiri karena takut Vania menyadari keberadaannya. Devan memberanikan diri mencium kening Vania sebelum ia keluar ruangan.


*****


Siang harinya suasana ruangan Vania dirawat nampak penuh karena kehadiran keluarga Vania beserta mama dan papa mertuanya yang baru saja tiba. Kali ini Devan bisa ikut masuk ke dalam ruangan.


Vania terus memaksa untuk pulang. Namun kepulangannya kini bukan kembali ke rumahnya. Melainkan rumah mamanya. Semua orang terkejut dengan permintaan Vania, termasuk Adit. Adit menolak keras permintaan adiknya. Bukan karena tidak ingin adiknya kembali. Namun, ia ingin adiknya terlebih dulu membicarakan ini dengan suaminya.


"Nggak bisa seperti itu dong sayang, kamu harus pulang ke rumah bersama suamimu" kata Bunda Dewi.


Namun bukannya menanggapi, Vania justru terus merengek pada Mamanya untuk membawanya pulang.


Mama Karina melirik ke arah Devan. Devan yang tak lagi bisa berkutik dengan keinginan istrinya hanya mengangguk lemah. Ia sudah pasrah dan tak lagi bisa memaksa Vania. Dan Mama Karina terpaksa mengiyakan putrinya setelah mendapat isyarat dari menantunya meski harus mengecewakan semua orang.

__ADS_1


Devan menghubungi pihak rumah sakit untuk menyampaikan permintaan ijinnya untuk membawa pulang Vania.


Setelah mendapatkan ijin pulang, Adit dan Mama Karina membawa Vania pulang diikuti oleh mobil milik Devan dan orangtuanya.


Vania mengistirahatkan tubuhnya di kamar. Ia tidak mau ditemui oleh siapapun termasuk suaminya.


Bu Dewi dan pak Satria pamit terlebih dahulu membuat keluarga besannya merasa canggung dan tidak enak dengan perlakuan Vania.


"Sudahlah, jeng. Kami bisa mengerti bagaimana kondisi psikisnya setelah kehilangan janinnya. Dia butuh menenangkan pikirannya. Kami bisa mengerti dan memahaminya" kata Bu Dewi ramah sambil mengusap lengan besannya.


Mama Karina yang semula takut besannya akan salah paham menjadi lega saat mendengar jawaban besannya.


Mereka berdua pun pulang ke rumahnya.


Kini tersisa keluarga Wibowo dan Devan yang masih duduk di sofa tamu.


Devan nampak kacau dan banyak pikiran. Mama Karina merasa kasihan pada menantunya. Ia meminta Devan untuk tinggal disana dan tidur di ruang tamu untuk sementara waktu sampai Vania tenang. Namun, Devan menolak dengan alasan takut membuat Vania semakin benci padanya.


Devan pamit pulang dan berjanji akan kembali besok.


Sesampainya di rumah mama mertuanya, Devan mengetuk pintu dan dibukakan oleh Bi Inah.


"Aden, ayo masuk den, kirain tadi siapa" kata Bu Inah karena melihat Devan datang pagi sekali.


"Makasih, Bi. Vania sudah bangun?"


"Sudah, Den. Bibi baru saja membantunya untuk mandi dan sekarang masih di kamar"


"Siapa, Bi" tanya mama Karina yang baru keluar dari dapur karena mendengar ada yang bertamu pagi-pagi.


"Saya, ma" jawab Devan menghampiri Mama mertua dan menyalaminya.


"Naiklah ke atas. Bicarakan baik-baik. Semoga dia bisa mengerti"


"Iya, ma"


Devan naik ke atas menuju kamar Vania. Ia mengetuk pintu kamar dan Vania mempersilahkan masuk karena tak tahu jika itu suaminya.

__ADS_1


Devan memutar kenop pintu dan mendorong pelan agar pintu terbuka. Nampak Vania sedang duduk menikmati sejuknya udara pagi lewat jendela balkon kamarnya.


"Yang" panggil Devan pelan membuat Vania menoleh.


"Ngapain kamu disini" jawab Vania ketus.


"Aku kangen sama kamu"


"Buang jauh-jauh kata-katamu itu"


Devan mendekati Vania dan duduk bersimpuh di hadapan Vania dengan menumpu tubuhnya pada lututnya.


"Yang, maafkan aku harus mengambil keputusan itu. Aku hanya tak ingin kehilanganmu. Mengertilah... Akan sulit bagiku hidup tanpamu"


"Tidak ingin kehilanganku? Tapi kenapa kamu justru membuatku kehilangan untuk kesekian kalinya? Aku sudah cukup sakit kehilangan dua orang yang ku sayangi. Dan kini kau mengambil kebahagiaanku dengan meminta dokter untuk mengeluarkan janin dalam kandunganku. Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku sebagai seorang ibu?" kata Vania penuh emosi.


"Maafkan aku...maafkan aku" kata itu terus terucap dari mulut Devan.


"Maaf itu mudah mas. Tapi apa kau bisa mengembalikan janin dalam kandunganku?"


Devan terkejut mendengar ucapan istrinya. Sesuatu yang sangat tidak mungkin untuk dilakukannya.


"Sayang......" panggil Devan lirih


"Sudahlah mas, tinggalkan aku. Aku mau kita pisah" pangkas Vania tanpa menatap wajah suaminya.


Devan terdiam. Ia tak menyangka kata itu diucapkan oleh istrinya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan melakukannya"


"Terserah. Aku sudah sangat membencimu"


Devan membenamkan wajahnya diatas lutut Vania. Tubuhnya bergetar. Ia tak sanggup lagi menahan kesedihannya.


"Belajarlah untuk melupakanku" kata Vania tiba-tiba.


Devan mendongakkan wajahnya menatap istrinya. "Aku mencintaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Sampai kapanpun dan apapun yang terjadi. Jika memang takdirku hanya bisa menunggu, aku akan melakukannya" katanya denga senyum memaksa. Ia menggenggam kedua tangan Vania. "Aku mampu menunggu sesuatu yang belum pasti bertahun-tahun lamanya. Dan kini sesuatu yang sudah menjadi milikku, tak akan ku lepaskan dan akan tetap ku jaga. Jangan paksa aku untuk menjauh. Karena aku tak akan mungkin bisa melakukannya" imbuhnya.

__ADS_1


__ADS_2