
Sesampainya di kantin, Vania mendekati David yang sudah melambaikan tangannya sejak Vania masuk area kantin.
"udah lama ya?" tanya Vania sambil duduk di bangku samping David.
"nggak juga, mbak Maya beneran ijin?"
"iya, dia sakit katanya"
"mau jenguk? kalau iya kita barengan aja"
"boleh" jawab Vania sambil senyum.
Devan terpukau dengan senyum Vania. Gadis itu selalu saja menarik perhatiannya.
"aku pesanin makan dulu ya. Aku yang traktir" kata David yang diangguki Vania dengan senyum.
*****
Setelah pulang kantor, Vania dan David pergi menjenguk Maya bersama seperti janji sebelumnya. Mereka menaiki mobil milik David.
Sepulang dari sana, David mengantarkan Vania pulang. Namun di tengah jalan ia mengajak Vania mampir ke sebuah cafe untuk makan malam terlebih dahulu.
Selama makan malam, David lebih banyak diam dan memperhatikan Vania sambil menikmati makannya.
Setelah selesai makan, Vania pun mengajak David untuk pulang agar tidak kemalaman. Namun David menahannya.
"aku mau ngomong sesuatu sama kamu" kata David dengan muka yang serius.
"jangan serius gitu ih, aku takut tahu" goda Vania sambil tertawa kecil.
"aku serius Van"
Vania pun mengurungkan niatnya untuk berdiri dari duduknya dan menatap lelaki yang ada di hadapannya. Wakah serius pria itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati.
"apa?"tanya Vania penasaran.
"Van, maaf kalau aku lancang ngomong ini sama kamu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Setelah sekian hari kita sering bertemu bahkan saling sapa meski hanya lewat pesan,,, aku baru menyadari kalau aku suka sama kamu" kata David menatap Vania dengan tatapan lembut.
__ADS_1
jangan bercanda kamu Vid, nggak lucu tahu" jawab Vania sambil terkekeh.
"Van, aku serius" kata David dengan penuh penekanan. Namun nada bicaranya begitu lembut.
Vania bungkam tidak bisa menjawab apa yang diucapkan David. Ia tak habis pikir dengan lelaki itu. Bukan ini yang ia harapkan. Ia tidak ingin pertemanannya hancur hanya karena adanya cinta.
"Van, kenapa diam?" tanya David karena Vania tak merespon perkataannya.
"nggak apa-apa" kata Vania.
"apa kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku?"
Vania diam kembali. Ia ragu-ragu untuk menjawab. Ia hanya tidak ingin menyakiti perasaan lelaki yang sudah begitu baik padanya.
"baiklah kalau kamu belum bisa menjawabnya, aku bisa mengerti dan aku akan menunggunya. ya sudah ayo kita pulang" kata David sambil tersenyum kecut. Ia berdiri dari duduknya mengajak Vania pulang.
Selama perjalanan tidak ada obrolan di dalam mobil. Vania merasa canggung dan tidak nyaman dengan situasi yang baru dialami. Ia hanya diam membuang pandangannya keluar jendela. Begitu juga dengan David, pria itu nampak ragu untuk hanya sekedar berbasa-basi dengan wanita di sampingnya.
"makasih banyak ya," ucap Vania lembut saat mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Vania.
David mengangguk dengan senyumnya.
"Van..." panggil David membuat pemilik nama berhenti.
"iya" jawabnya sambil menoleh.
"istirahatlah, mimpi yang indah"
"iya, makasih ya" jawabnya senyum.
Tanpa menunggu David pergi, Vania berlalu memasuki gerbang rumahnya yang kebetulan tidak digembok.
Perasaan bingung dan risih menyelimuti hatinya. Ia bingung bagaimana jika besok bertemu dengan David di kantor dan pria itu meminta jawaban besok. Entahlah, ia akan memikirkannya besok.
Vania memasuki rumah dan menyapa papa mamanya yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
"kok baru pulang sayang" tanya mama
__ADS_1
"iya ma, tadi mampir makan dulu habis dari rumah mbak Maya" jawab Vania sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
Vania memasuki kamarnya. Ia meletakkan tasnya di atas nakas dan bersiap untuk membersihkan diri. Selesai dengan aktifitasnya. Ia duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjangnya. Ia merogoh ponselnya yang ada di dalam tas. Dibukanya kunci layar, ada satu pesan dari David. pria itu mengucapkan "good night, have a nice dream" yang diimbuhi dengan emoticon smile.
Vania membalas pesan itu dengan mengetik singkat "thanks".
Ia menghela nafas pelan dan meletakkan ponselnya diatas dadanya. Pikirannya beralih pada sosok pria yang kini tak lagi dekat dengannya. Meski sudah tiga bulan berada di kantor yang sama, Vania jarang menjumpai pria itu.
Devan, sosok misterius baginya yang kini memenuhi otaknya.
Vania menatap kembali layar ponselnya. Ia membuka story whatsapp milik Devan. Berharap pria itu mengabadikan aktifitasnya. Namun sayangnya tidak. Hampir satu minggu pria itu tidak mengirim story.
Vania memberanikan diri membuka room chat nya dengan Devan. Lelaki itu sedang online.
Vania memberanikan diri mengetik pesan. Namun belum sempat ia kirim, pesan itu dihapusnya lagi. Dia mengetik dan menghapus pesan itu hingga tiga kali karena ragu-ragu. Akhirnya ia putus asa dan membatalkan niatnya. Ia meletakkan kembali ponselnya diatas dadanya.
Namun, dalam waktu sekejap saja tiba-tiba ponselnya berdering. Vania mengangkat kembali ponselnya dan menatapnya. Panggilan itu dari pria yang selama ini ditunggunya, Devan.
Vania senyum kegirangan, dengan cepat ia mengangkat panggilan suara itu dan meletakkan ponsel di telinganya.
"hallo assalamualaikum"
"waalaikumsalam... belum tidur?"
"belum kak"
"kenapa menghapus kembali pesan yang belum sempat dikirim?"
"hah? itu...itu... tadi salah chat kak, tadi mau ngirim pesan ke Nadya tapi salah ke kakak" kata Vania gugup mencari alasan.
"begitu ya... ya sudah cepat tidur. udah malam,,, nggak baik buat kesehatan"
"iya kak, assalamualaikum" kata Vania.
"waalaikumsalam"
Devan memutuskan panggilannya membuat Vania sedikit kecewa karena belum puas mengobrol dengannya.
__ADS_1
"kenapa cuma bentar doank sih... y udah lah setidaknya udah dengar suaranya" katanya sambil menatap foto profil lelaki yang sudah meneleponnya itu.
Vania tak henti-hentinya tersenyum setelah mendengar suara Devan. Suara dibalik telepon itu mengantarkannya tidur menuju alam mimpi. Ia berharap malam ini menjadi awal kedekatannya dengan pria yang sudah tiga bulan belakangan ini menjauhinya itu.