Cinta Vania

Cinta Vania
Aku tidak mau melihatnya


__ADS_3

Selama perjalanan Devan terus memangku tubuh istrinya yang masih tak sadarkan diri. Ia menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan brankar dorong dan ruangan untuk istrinya. Ia juga meminta seorang spesialis obgyn untuk bersiap menangani istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, Vania langsung disambut oleh pihak rumah sakit yang sudah menunggu. Mereka membawa Vania ke ruang IGD untuk ditangani. Dokter Risa yang dipanggil untuk menangani pasien terkejut saat melihat wanita yang terbujur lemas itu ternyata pasiennya yang belum lama memeriksakan kehamilannya.


"Apa suaminya ada disini?" tanya dokter Risa ke salah satu perawat.


"Beliau menunggu di luar, dok. Namanya tuan Devan. Beliau adalah putra dari direktur rumah sakit ini" jawab perawat itu.


Dokter Risa melepas sarung tangan medisnya dan keluar dari ruangan.


Devan yang sedari tadi mondar mandir di depan ruang IGD tampak cemas menunggu dokter memeriksa istrinya.


ceklek....


Terdengar suara pintu terbuka membuat Devan menoleh.


"Suami Nona Vania" panggil dokter Risa saat keluar ruangan.


Devan menghampiri dokter Risa dengan wajah cemasnya, "saya, dokter. Bagaimana istri saya".


Dokter Risa menghela nafas pelan. Ia seakan menyayangkan keadaan pasiennya.


"Begini Tuan, Nyonya Vania ini adalah pasien saya yang hamil dua bulan. Tiga hari yang lalu dia baru saja periksa kehamilannya. Kondisi kandungannya yang cukup lemah membuat saya harus menyampaikan pengarahan extra agar tidak membuatnya cemas. Dan kondisi janin dalam kandungannya saat ini benar-benar sangat lemah. Saya terpaksa harus menyampaikan janin dalam kandungannya harus di kuret karena jikapun di biarkan, saya juga tidak yakin janin itu akan tetap bertahan melihat keadaan ibu yang sudah sangat lemah. Saya hanya akan melakukan tindakan sesuai keputusan anda sebagai suami" kata dokter Risa menjelaskan.


"Jika janinnya dibiarkan bertahan sekuatnya, apakah ada resiko pada ibunya?" tanya Devan.


"Jika janinnya tetap dipertahankan, yang saya takutkan semakin lama akan membahayakan nyawa ibunya"


Devan membulatkan matanya mendengar jawaban dokter Risa. Ia tidak mau kehilangan istrinya. Ia tidak akan sanggup kehilangan orang yang sangat dicintainya.


"Selamatkan istri saya, dok" kata Devan melemah. Ia harus merelakan janin yang selama ini mereka harapkan.


"Baik, Tuan. Kami akan memindahkan pasien ke ruangan khusus untuk melakukan operasi kuret secara normal, permisi" pamit dokter Risa yang diangguki oleh Devan.

__ADS_1


Devan menghubungi Adit untuk menyampaikan kabar tentang Vania. Sebenarnya ia bisa saja menghubungi mama mertuanya. Tapi ia urungkan takut Mama Karina shock. Setelah itu Adit beralih menghubungi ayah dan bundanya.


Sesaat setelah mendapatkan panggilan dari putranya, pak Satria dan Bu Dewi langsung melakukan perjalanan pulang ke tanah air karena khawatir dengan kondisi menantunya.


Tak sampai dua jam lamanya Mama Karin dan Adit datang ke rumah sakit dengan wajah cemas. Mereka mendekati Devan yang nampak kacau menunggu di depan ruangan.


"Bagaimana keadaan putri mama, nak?"tanya Mama berurai air mata.


"dokter masih melakukan kuret di dalam, ma" jawab Devan sedih.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" sahut Adit bertanya.


Devan menceritakan tentang Vania yang jatuh dan pingsan serta penjelasan dokter tentang melemahnya janin dalam kandungan Vania.


"Jika janinnya tidak dikeluarkan, resiko ada di nyawa ibunya. Aku nggak mungkin membiarkan itu terjadi. Maaf jika aku harus mengorbankan salah satu diantara mereka" jawab Adit memelas menatap Adit dan Mama Karina bergantian. Ia berharap dua orang di hadapannya bisa mengerti keadaannya.


"Yang kau lakukan sudah benar. Kami mengerti kegelisahan yang kamu rasakan" jawab Adit menepuk bahu Devan pelan memberikan dukungan.


Tak lama kemudian dokter Risa membuka pintu.


"Bagaimana, dok?" tanya Devan.


"Proses kuret sudah selesai dan saat ini kondisi pasien masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap seperti permintaan Tuan" kata dokter Risa ramah.


"Alhamdulillah..." kata Devan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kalau begitu saya pamit permisi dulu, saya akan meminta perawat untuk memberikan data-data pasien yang masih saya punya ke bagian administrasi" pamit dokter Risa. Ya, siapa juga yang berani meminta orang nomor satu yang di rumah sakit yang tengah cemas itu untuk menyelesaikan data pasien.


"Iya terimakasih, dokter" jawab Devan dan kemudian dokter Risa pun pergi.


Vania sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP Healthy Hospital. Devan dan mama Karin menemani Vania di dalam kamar setelah sesaat yang lalu Adit pamit pulang terlebih dulu karena mendapatkan panggilan dari Renata jika putrinya sedang menangis dan rewel.


Kedua mata Vania mulai bergerak untuk terbuka.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah sadar" kata Devan yang begitu khawatir dengan keadaan istrinya.


"Aku dimana?" tanya Vania yang baru saja membuka mata.


"Kamu di rumah sakit, nak. Tenanglah... kau baik-baik saja" kata Mama Karin.


"Rumah sakit? Apa terjadi sesuatu dengan kandunganku?" tanya Vania terkejut. Ia merasa cemas takut terjadi apa-apa dengan janinnya. Ia hendak bangun namun merasakan sakit di bagian perutnya.


"aawwww..." pelik Vania sambil memegang perutnya.


"Jangan banyak gerak dulu, nak. Kamu masih sakit" kata Mama mencegah Vania dan memintanya kembali berbaring.


"Ada apa ini, ma?" tanya Vania bergetar karena air matanya yang sudah membendung.


"Yang, maaf. Dokter mengeluarkan janin dalam kandunganmu. Aku harus mengambil keputusan ini demi menyelamatkanmu" kata Devan lirih.


"Apa maksudmu? Omong kosong apa ini?" tanya Vania emosi. Ia tidak terima dengan perkataan Devan.


"Maafkan aku..." kata Devan menenangkan Vania.


"Enggak. Aku nggak mau kehilangan bayiku. Kau tidak berhak memutuskannya tanpa persetujuan dariku" Vania mulai menangis dan histeris.


"Sayang, tenanglah..." kata Mama mengusap lengan putrinya agar tenang.


"Aku benci dia, ma. Aku nggak mau lihat dia" kata Vania memohon ke Mama untuk mengusir Devan.


"Vania, tenanglah. Dia suamimu. Kamu tidak boleh seperti ini" sahut Mama Karina. Sedang Devan hanya diam tak berkutik melihat istrinya yang meronta memintanya pergi. Hanya buliran bening yang menetes dari ujung matanya yang jatuh membasahi pipinya.


"Enggak, Ma. Aku nggak mau melihatnya. Dia sudah membuat bayiku pergi" kata Vania masih dengan Isak tangisnya. Ia terus mengatakan tidak mau melihat wajah Devan.


"Nak Devan..." panggil Mama Karina lirih. Ia ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu pada Devan.


"Saya mengerti, Ma. Saya akan menunggu di luar sampai dia tenang" kata Devan karena terpaksa demi istrinya tenang.

__ADS_1


Devan keluar dengan langkah berat meninggalkan ruang rawat Vania. Air matanya lolos begitu saja setelah keluar dari pintu. Lelaki yang di kenal kuat dan tegar itu akhirnya menangis juga karena seorang wanita yang ia cintai.


__ADS_2